Baca Hujan, Triwulan Dua


Triwulan KeduaTak terasa, sudah tiga bulan berlalu sejak Triwulan Satu. Enam bulan blog ini telah berusia, dengan setiap minggunya sebuah buku diulas di sini. 12 buku di Triwulan Dua, 24 buku di blog ini, plus satu cerita pendek.

Banyak yang telah dilalui dan dicapai oleh blog sederhana ini. Ia telah menempati posisi atas dalam beberapa pencarian ulasan buku di Google. Ia telah mencapai 2000 pengunjung di Bulan Februari kemarin. Ia telah mencapai ratusan pengikut, dan setiap minggunya, link ulasan dari Baca Hujan dilihat oleh para penghuni dari komunitas-komunitas blogger.

Oleh karena itu, untuk memperingati setengah tahun Baca Hujan, ada beberapa pengumuman yang harus diberikan. Antara lain:

  • Baca Hujan akan meningkatkan frekuensi tulisannya. Jika sebelumnya hanya setiap hari Minggu dan terbatas pada buku-buku fiksi atau memoir, Baca Hujan akan melebarkan sayap dengan mengulas buku non-fiksi di hari Rabu pada minggu kedua dan ketiga setiap bulannya.
  • Baca Hujan telah memiliki Facebook Page. Di laman tersebut, berbagai tautan menuju bacaan-bacaan menarik akan dibagikan setiap harinya. Lebih lengkapnya dapat dibaca di sini.
  • Baca Hujan telah mengadopsi Tema baru. Untuk yang berkunjung dari Tablet atau Laptop dapat menyaksikan bahwa lay-out dan tampilan telah disederhanakan, dan sekarang lebih mudah untuk bernavigasi. Silakan gunakan Menu di atas header untuk membuka laman kategori, menyortir tulisan berdasarkan kategori sasaran usia pembaca hingga genre.

Kurang lebih, itulah pengumuman dari Baca Hujan di ulang Triwulannya yang kedua ini. Sehingga, yuk kita kilas balik buku-buku apa saja yang sudah diulas Baca Hujan di Triwulan Dua ini!


1. WarbreakerBrandon Sanderson

Salah satu karya Epic Fantasy dari penulis novel remaja best-seller Steelheart, Brandon Sanderson menyajikan sebuah standalone-fantasy yang dapat dibaca online di Wattpad.com. Novel ini bercerita mengenai perseteruan antar kerajaan, politik, cinta, sihir, konspirasi, dan aksi. Sebagai tokoh-tokohnya adalah sepasang saudari putri kerajaan, seorang Dewa yang tidak memercayai agamanya sendiri, seorang Dewa Raja, dan seorang ksatria khusus yang memiliki julukan Warbreaker.

2. More Than ThisPatrick Ness

Menggabungkan fiksi ilmiah dengan surealisme, memadukan kisah remaja yang familiar dengan cerita futuristik-distopia, More Than This berkisah mengenai seorang remaja yang bunuh diri, tenggelam, di samudra, dan terbangun di sebuah dunia yang kosong. Sendirian, ia menjelajahi dunia barunya yang absen dari manusia, namun penuh tanda-tanda peradaban. Perlahan, ia mempelajari kenyataan-kenyataan yang ada – mengenai hidup dan kematian, mengenai nyata dan tidak – dan menemukan keganjilan yang tak terkatakan.

3. PenpalDathan Auerbach

Berasal dari sebuah cerita online di forum cerita horor Nosleep, Penpal berkisah mengenai seorang pria yang menelusuri masa lalunya dan mendapati ingatan-ingatan yang ganjil: foto-foto yang menakutkan, seorang gadis yang tewas, kekuatan yang tak terbayangkan, serta berbagai kengerian lainnya. Diceritakan dengan begitu mengalir a la Samudra di Ujung Jalan Setapak, Penpal membawa kita menuju rasa nostalgia yang mengerikan.

4. Aku Tahu Kamu HantuEve Shi

Sebuah karya debut, Aku Tahu Kamu Hantu berkisah mengenai seorang anak perempuan yang, pada hari ulangtahunnya, mendapatkan kekuatan yang sudah diwariskan secara turun-temurun di keluarganya. Dengan kekuatan barunya tersebut, ia berusaha memecahkan misteri hilangnya seorang anak di sekolahnya, sekaligus berjuang menyesuaikan dirinya – dengan kekuatannya tersebut – di tengah-tengah kehidupan normal. Sebuah cerita horor yang sangat efektif, modern, dan cocok untuk remaja.

5. Gelombang 5Rick Yancey

Sebuah kisah penyerbuan Alien, Rick Yancey menggambarkan apa yang terjadi apabila Alien menyerbu kita dalam gelombang demi gelombang serangan tanpa sedikit pun memasuki wilayah udara kita dan menginjak tanah di bumi. Tak ada perlawanan, tak ada yang bisa dipercaya, dan tak ada yang tersisa, dua orang remaja dan satu orang anak kecil berjuang untuk bertahan hidup di dunia pasca-Gelombang Empat. Dengan hanya sedikit sekali yang selamat, masih akan adakah Gelombang Lima? Atau, mungkinkah Gelombang Lima sudah terjadi?

6. Biarkan Aku MasukJohn Ajvide Lindqvist

Perpaduan kisah vampir klasik dengan horor modern, penulis Swedia John Ajvide Lindqvist menggambarkan kehidupan seorang anak remaja laki-laki yang mendapati tetangga barunya adalah seorang remaja perempuan, kira-kira seusia dengannya. Seiring mereka saling berkenalan, peristiwa-peristiwa ganjil mulai terjadi di kota tempat mereka tinggal, dan berbagai petunjuk membawa si anak kepada tetangganya tersebut. Mungkinkah tetangganya tak seperti yang terlihat dari luar?

7. Dewa-Dewa AmerikaNeil Gaiman

Menyabet berbagai penghargaan bergengsi di dunia, American Gods mengisahkan seorang pria yang baru saja keluar dari penjara dan menjadi sebatang kara. Tanpa tujuan, tanpa arah, dan tanpa rumah, ia bertemu dengan seorang pria paruh-baya bernama Mr. Wednesday, yang menyewanya sebagai bodyguard dan membawanya ke dalam perjalanan panjang melintasi Amerika guna menyusuri jaring-jaring konflik besar yang akan terjadi antar Dewa-Dewa Amerika.

8. The Ghost BrigadesJohn Scalzi

Sekuel dari Old Man’s War meski dapat berdiri sendiri dengan kokoh, novel ini mengisahkan masa depan yang berisi konflik berkepanjangan antara manusia dengan para ras alien di luar angkasa guna memperebutkan planet-planet yang menunjang kehidupan di galaksi. Di saat bersamaan, sebuah pengkhianatan terjadi, seorang prajurit super ditugaskan, dan sebuah pasukan dikerahkan – pasukan yang, berdasarkan kisah-kisah, dibangkitkan dari mayat orang-orang mati. Pasukan khusus yang disebut, dengan nada segan oleh seantero galaksi, sebagai Brigadir Hantu.

9. Kisah-Kisah Beedle si Juru CeritaJ.K. Rowling

Sebuah companion book untuk serial Harry Potter, Tales of Beedle the Bard merupakan kumpulan cerita pendek karya J.K. Rowling yang, konon katanya, diceritakan secara turun-temurun di dunia sihir Inggris. Salah satu ceritanya, Kisah Tiga Saudara, merupakan kunci dan penutup dari serial Harry Potter. Bagus untuk diceritakan ke anak-anak, dan mantap sebagai pelengkap sebuah serial paling terkenal di dunia.

10. SometimesEsther Marie

Sometimes adalah sebuah buku ilustratif sederhana, berisi refleksi dan memoir, renungan serta kisah, mengenai momen-momen berharga dan penuh kasih sayang yang seringkali dialami oleh sepasang sahabat. Tidak tebal, tidak panjang, namun cukup mengena.

11. The Battle of the LabyrinthRick Riordan

Buku keempat serial Percy Jackson and the Olympians merupakan pengantar menuju klimaks, puncak, dari kisah epos sang putra Poseidon. Secara individual, buku ini merupakan standalone story yang sangat baik, mengalir dan penuh refleksi, manis serta penuh aksi. Wajib dibaca oleh para penggemar serial magis/fantasi remaja.

12. Every Dead ThingJohn Connolly

Sebuah novel debut, Every Dead Thing berkisah mengenai seorang mantan detektif yang berkelana ke dunia gelap, menyusup ke lingkungan jalanan, mafia, dan penjahat-penjahat. Selama perjalanannya tersebut, ia akan bertemu dengan seorang cenayang yang tinggal di wilayah berawa yang misterius, bertempur melawan para kriminal paling berbahaya, serta menghadapi seorang pembunuh berantai yang gemar menyiksa dan membunuh anak-anak – pembunuh berantai yang sama yang memegang petunjuk kunci mengenai Si Pengembara, seorag psikopat yang telah menyiksa dan membantai istri dan anak sang mantan detektif.


Sebagaimana saya telah tuliskan di atas, setiap hari Rabu, saya akan mulai menulis ulasan-ulasan cerita pendek di sini. Oleh karena itu, pada peringatan Triwulan ini, saya tahan dulu ulasan cerita pendeknya – nanti akan saya tulis di hari Rabu.

Jadi, selamat! Dan sekali lagi, terima kasih sudah mengunjungi Baca Hujan!

Iklan

Every Dead Thing: Orang-Orang Mati


Every Dead Thing (Orang-Orang Mati)Tahun 2012 menandai tertariknya saya pada buku-buku genre crime/detective. Hal tersebut dimulai dengan membeli sebuah buku berjudul The Silence of the Lambs karya Thomas Harris. Tak jauh setelahnya, saya mulai mendalami genre tersebut lebih jauh lagi. Di antara buku-buku dari genre tersebut antara lain: Sherlock Holmes yang legendaris, Jack Reacher, John Grisham, dan masih banyak lagi.

Saya mendapati bahwa genre crime/detective cukup unik karena pada dasarnya, genre tersebut bisa dimasukkan dalam kategori misteri dengan tokoh utama seorang ‘detektif’ (saya beri tanda kutip karena pada dasarnya, meski melakukan penyidikan, tidak selalu tokoh utamanya adalah detektif a la Detective Conan atau Sherlock). Dengan demikian, genre tersebut akan mengikat pembaca dalam jalinan jaring plot yang rumit, misterius, dan sulit untuk diduga, namun bukan berarti tak bisa ditebak. Dengan menjadikan tokoh utamanya seorang penyidik – dalam hal ini, manusia biasa – crime/detective membuat penulis harus bisa sepintar-pintar mungkin membangun sebuah kasus yang sulit, tak tertebak, sembari memberikan petunjuk-petunjuk di sepanjang jalan ceritanya.

Dengan kata lain, menjelang akhir cerita, penulis harus mampu menyimpulkan segala benang-benang plot yang rumit tersebut dalam satu ikatan, sedemikian rupa sehingga pembaca dapat berkata, “Oh! Begitu rupanya!” alih-alih “Waduh? Kok bisa begitu?”

Dan itu bukanlah pekerjaan yang mudah.

“Yang kita hadapi di sini sepertinya adalah pembunuhan seksual – pembunuhan seksual yang sadis.”

Every Dead Thing adalah kisah pertama dari serial Charlie Parker, seorang mantan detektif NYPD yang mengalami tragedi begitu mengerikan hingga kewarasan dan kemanusiaannya terganggu. Tanpa ampun, di bab pertama kita disuguhkan dengan penceritaan yang mengerikan mengenai tewasnya istri dan anak Charlie Parker. Ia meninggalkan keduanya untuk minum-minum di suatu malam, dan kembali ke rumah untuk mendapati keluarganya telah dikuliti oleh pembunuh berantai. Para polisi dan agensi turun tangan untuk menginvestigasi, namun selain detil-detil tambahan mengenai cara mati mereka berdua (istrinya dikuliti hidup-hidup, anaknya menyaksikan hal tersebut utuh-utuh, dst.) tak ada petunjuk lebih lanjut mengenai pelakunya selain dugaan bahwa pembunuhnya – siapa pun itu – adalah orang yang sangat sadis dan gila.

Dengan kondisi tersebut, beberapa pihak mencurigai Charlie Parker sendiri sebagai sang pelaku. Meski alibinya terbukti dan ia dinyatakan bersih, Parker mengundurkan diri dari kepolisian, berhenti minum-minum, berhenti melakukan hal-hal lainnya yang tak berguna dan memutuskan untuk mengerahkan segala daya upayanya demi menemukan pelaku sebenarnya. Petunjuk demi petunjuk ia ikuti, membawanya pada seorang dukun wanita dengan kemampuan supernatural, kelompok-kelompok mafia berbahaya, dunia bawah tanah yang kejam, dan seorang pria yang dikenal dengan sebutan Si Pengembara – The Traveler.

Kami membersihkan tanahnya hingga mayat anak itu terlihat, meringkuk seperti janin dengan kepalanya tersembunyi di balik lengan kiri. Bahkan meski sudah membusuk, kami bisa melihat jari-jarinya telah dipatahkan, meski tanpa memindahkannya aku tidak bisa yakin anak ini laki-laki atau perempuan.

Seperti yang sudah saya ungkapkan di atas, novel ini memiliki deskripsi yang sangat detil. Narasinya begitu tajam dan grandiose, penulis benar-benar memanfaatkan sudut pandang orang pertama dengan sangat baik. Kita akan mengikuti Charlie Parker sepanjang perjalanannya, dengan deskripsi pergantian lokasi – dari perkotaan dengan gedung-gedungnya menuju Louisiana dengan rawa-rawanya, bahkan ke sang dukun dan para pembunuh berantai lainnya – yang sangat terjabarkan. Beberapa bagiannya dijamin dapat membuat perut tidak enak, terutama apabila pembaca adalah orang yang sensitif.

Secara keseluruhan, saya dapat membagi novel ini ke dalam tiga plot utama: yang pertama adalah jatuhnya Parker, sang tokoh utama, ke dalam jurang dendam yang begitu dalam, yang membuatnya mampu untuk melakukan apa pun – bahkan membuatnya ditakuti oleh orang-orang dunia jalanan. Yang kedua adalah perjalanan Parker lebih dalam ke dunia gelap, ke dunia bawah tanah, bertemu dengan orang-orang berbahaya, termasuk seorang monster yang membunuh dan menyiksa anak-anak untuk kesenangan. Monster yang, terlepas dari segala kejahatannya, dapat memberinya petunjuk mengenai keberadaan Sang Pengelana.

Dan akhirnya, yang ketiga, adalah klimaks yang membawa Parker ke dunia mafia dan menghadapi Sang Pengembara sendiri.

“Aku minum-minum pada malam Jennifer dan Susan terbunuh. Aku minum banyak sekali, tidak hanya malam itu, tapi malam-malam yang lain juga. Aku minum karena banyak hal, karena tekanan pekerjaan, karena kegagalanku sebagai suami, sebagai ayah, dan mungkin juga hal lain, dari masa lalu. Kalau aku tidak jadi pemabuk, Susan dan Jennifer mungkin tidak akan mati. Jadi, aku berhenti. Sudah terlambat, tapi aku berhenti.”

Kompleks, rumit, panjang, tebal dan penuh kengerian, Every Dead Thing cukup mengejutkan dan mengagetkan dengan kisahnya yang amat berterus terang mengenai tragedi yang bisa terjadi pada siapa pun dari kita. Andaikata, suatu hari, kita dihadapkan dalam situasi seperti itu – pulang ke rumah dan mendapati keluarga kita telah dikuliti hidup-hidup oleh seorang psikopat – apa yang akan kita lakukan? Menjadi gila? Menjadi diam saja, berharap polisi akan menangkapnya, berdoa Tuhan akan membalasnya? Atau mungkin mencoba memaafkan siapa pun pelakunya?

Apa yang Charlie Parker hadapi banyak mengingatkan saya mengenai Bruce Wayne, yang menyaksikan orangtuanya dibunuh; kemudian tentang The Punisher, bahkan Spider-man. Mereka semua menghadapi tragedi, menemukan kekuatan darinya, dan merasakannya sebagai berkah sekaligus kutukan. Hal-hal tersebut sangat saya sukai dalam suatu cerita karena, alih-alih menyampaikan pesan moral secara langsung ataupun tidak langsung, penulis memancing debat moral, konflik diri, dari para pembaca. Menurut saya, hal tersebut masih sangat jarang dimiliki oleh penulis dalam negeri, padahal seharusnya lebih banyak lagi penulis yang mampu untuk melakukannya.

Alasannya ada dua: Di satu sisi, pembaca menjadi lebih kritis. Di sisi lain, pembaca menjadi turut bertanya-tanya sepanjang cerita, dan dengan mengikuti sang tokoh utama, kita menjadi mengerti penyebab-penyebab dia memilih untuk melakukan apa yang ia lakukan, apa landasan moralnya, di mana empatinya berada, dan bagaimana ia bisa mempertahankan kemanusiaannya dalam posisinya tersebut.

Dan aku memikirkan Lisa: gadis kecil gemuk dengan mata gelap, yang bereaksi buruk atas perceraian orangtuanya, dan mencari kedamaian dalam ajaran Kristianitas yang aneh di Meksiko, dan akhirnya kembali kepada ayahnya.

Every Dead Thing cocok dibaca oleh Anda yang menggemari Thomas Harris, James Patterson, Lee Child, hingga gore-nya Junji Ito. Lebih jauh lagi, jika Anda ingin membaca ini, siapkan mental dan perut Anda. Dan tentu saja, karena isi dari ceritanya, buku ini tidak begitu cocok untuk remaja hingga anak-anak – kecuali jika psikis mereka sudah siap.

Selamat membaca!

The Battle of the Labyrinth


The Battle of the LabyrinthKalau serial A Song of Ice and Fire digadang-gadang sebagai jawaban Amerika atas The Lord of the Rings, Percy Jackson and the Olympians awalnya terkenal sebagai tanggapan Barat atas serbuan Harry Potter. Bagaimana tidak? Keduanya adalah serial anak-anak, memiliki tokoh utama anak-anak yang tumbuh menjadi dewasa seiring berjalannya cerita, dan para tokohnya memiliki kekuatan magis.

Tapi, Percy memiliki kekuatannya karena ia mendapatkannya dari orangtuanya (lebih tepatnya: ayahnya) seperti yang Harry alami, Percy bukanlah penyihir. Dia, secara sederhana, adalah keturunan langsung keluarga entitas supersakti yang telah ada sejak jaman-jaman kuno.

Secara gamblang, Percy adalah putra dewa – lebih tepatnya, putra Sang Dewa Laut Poseidon.

Serial Percy Jackson terdiri atas lima buku. Dimulai dari The Lightning Thief dan diakhiri dengan The Last Olympian, serialnya mengisahkan petualangan-petualangan Percy Jackson dalam perjuangannya melawan monster-monster legendaris, menelusuri langit, bumi, dan dunia bawah (ya, dia menerobos ke neraka, bertarung dengan Dewa Kematian, dan menang), serta menghadapi para Titan yang bahkan lebih kuat dibandingkan Dewa-Dewi Olympus.

Dan The Battle of the Labyrinth – Pertempuran Labirin, buku keempat dari serial Percy Jackson – merupakan buku yang, menurutku, paling keren di antara buku-buku lainnya di serial tersebut.

Dimulai di Camp Half-Blood seperti buku-buku sebelumnya, Percy dan kawan-kawannya kali ini menghadapi petualangan yang agak berbeda. Luke, seorang kawan lama mereka yang telah berubah menjadi pengkhianat dan – sialnya – turut membantu membangkitkan Titan Chronos, telah menemukan sebuah jalan yang memungkinkannya untuk menyerbu ke Camp Half-Blood tanpa ada yang bisa menghadangnya. Jalan tersebut bernama Labirin Daedalus.

Untuk mencegah penyerbuan tersebut, Percy dan kawan-kawannya turut masuk ke dalam labirin. Tujuan utama mereka adalah mencari Daedalus dan membujuknya agar tak membantu Luke.

1

Ada beberapa alasan yang membuatku berpikir bahwa The Battle of Labyrinth merupakan buku terbaik dari serial Percy Jackson. Bukan berarti buku-buku lainnya tidak bagus lho, tapi The Battle of Labyrinth terasa seperti Prisoner of Azkaban. Ya, lagi-lagi, aku membandingkan kedua serial tersebut, tapi tak apalah. Bear with me, please?

Pertama, Pertempuran Labirin terasa seperti pengantar menuju klimaks, ujung dari sebuah kisah epik. Seperti Prisoner of Azkaban yang menjadi pengantar menuju dibangkitkannya kembali sang antagonis utama, Pertempuran Labirin mengantarkan kita menuju bangkitnya kembali Chronos, sang Titan, dan bangkitnya Typhon, monster yang mampu menaklukkan semua Dewa-Dewi seorang diri. Segalanya diikat, segalanya cabang-cabang cerita menyatu, menyimpul, menuju sebuah konklusi akhir.

Dan, ya, ini berarti Pertempuran Labirin juga terasa seperti Catching Fire-nya serial The Hunger Games: kedua sebelum terakhir. Menuju puncak.

Kedua, di buku ini kudapati perkembangan karakter yang sangat menarik. Dimulai dari Percy Jackson, yang menyadari bahwa pertempuran-pertempuran yang telah dia hadapi selama ini bukanlah masalah baik-buruk. Rick Riordan menggambarkan bagaimana Percy menyadari bahwa dunia tidak terdiri atas hitam-putih, melainkan kelabu. Dewa-Dewi memenangkan pertempuran melawan Titan di masa lampau, dan menyebarluaskan propaganda bahwa mereka adalah penguasa yang baik, peduli, sedangkan Titan adalah penjahat.

Tapi, benarkah demikian? Percy mendapati para Dewa-Dewi Olympus berbuat semena-mena. Menyiksa mereka yang kalah dalam perang, menginjak-injak manusia, menciptakan banyak blasteran – manusia setengah-Dewa – tanpa begitu memedulikan anak-anak mereka tersebut. Apakah Dewa-Dewi Olympus benar-benar baik? Kenapa Percy masih mau bertempur demi mereka?

Jawabannya ada di buku ini, dan disampaikan dengan luar biasa.

Ketiga, peningkatan skala aksi yang terdapat di buku ini sangat drastis. Serial Percy Jackson selalu terkenal karena aksi-aksinya yang memukau, ilustratif, dan seru. Adu pedang, adu cepat, dan adu hidup-mati melawan monster digambarkan dengan graphic di sini.

Simpelnya: di novel ini, Percy benar-benar jagoan. Kuat, jago, pintar, tapi masih tetap memiliki sifat-sifat heroik di dalam dirinya. Benar-benar pas dengan kategori seorang pahlawan dalam literatur-literatur klasik.

Sebenarnya ada satu lagi, yang keempat, meski menurutku – dan mungkin menurut sebagian besar pembaca lainnya – tidak begitu signifikan: kisah cinta yang romantis. Ringkas, padat, cuma diceritakan selama satu chapter, namun begitu tragis dan manis. Kalau boleh lebay, aku akan bilang ceritanya sangat mengharukan, dengan pengorbanan dan perjuangan. Cocok dengan tema heroik yang selama ini banyak sekali dicoba diterapkan oleh fiksi-fiksi heroik klasik, namun gagal untuk diwujudkan. Bahkan J.K. Rowling pun, menurutku, gagal saat mencoba menggambarkannya.

Calypso - by Julia108

Calypso – by Julia108

Di atas itu semua, Pertempuran Labirin adalah buku Percy Jackson yang paling rapi, runut, dan mengalir dalam penceritaannya. Totally recommended.

Sometimes


SometimesBeberapa waktu lalu, seorang teman mengirim email kepadaku, memberitahuku mengenai sebuah situs baru dimana kita bisa mengunduh buku dalam format digital secara legal. Legal karena penulisnya sendiri yang mengunggah buku mereka ke situs tersebut. Di samping itu, kalau masih merasa kurang enak, kita bisa memberikan ‘tip’ kepada penulisnya melalui fitus donate yang ada.

Maka, aku mengunjunginya. Nama situsnya adalah Noisetrade Books. Banyak buku yang ada di sana, fiksi maupun non fiksi, dari kisah-kisah terkenal seperti Down and Out in The Magic Kingdom karangannya Cory Doctorow hingga buku-buku baru karya penulis indie yang tergolong fresh dan berkualitas.

Salah satu buku yang cukup menarik perhatianku adalah ini: Sometimes karya Esther Marie. Berisikan ilustrasi-ilustrasi sebanyak 34 halaman, semuanya digambar dengan Paper di iPad, buku ini sangat simpel. Sederhana. Bisa selesai dibaca dalam waktu kurang dari semenit.

Dan isinya, kalau boleh kubilang, sangat menyegarkan.

Bisa dibilang, ini adalah salah satu illustrative art book pertama yang kubaca. Ini bukan komik, bukan graphic novel. Bisa dibilang ini adalah memoir, refleksi, yang di beberapa bagian cukup membangkitkan nostalgia dan menohok begitu dalam.

Di atas itu semua, isinya cukup unik karena mengangkat cinta dalam persahabatan alih-alih romansa pada umumnya.

Gambarnya juga lumayan 🙂

3

Yang mau baca, bisa unduh di sini ya. Selamat menikmati!

Kisah-Kisah Beedle si Juru Cerita (Tales of Beedle the Bard)


Beedle si juru bicaraSeperti yang pernah kukatakan sebelumnya, pasca-Harry Potter 7 ada kekosongan dalam kehidupan baca-membacaku. Buku-buku masih ada banyak, dari serial Eragon hingga Narnia, tapi dengan Harry Potter berakhir, rasanya seolah tak ada buku lagi yang bisa menyaingi kehebatannya.

Oleh karena itu, begitu mendengar berita yang menyebutkan bahwa J.K. Rowling menerbitkan buku baru, dan buku baru tersebut masih berkaitan erat dengan Harry Potter, secepat kilat saya langsung ke Kokosan (toko buku dekat rumah) dan membelinya.

Kisah-Kisah Beedle si Juru Cerita adalah kumpulan cerita pendek, totalnya ada lima, yang kesemuanya disebutkan dalam serial Harry Potter, tepatnya di buku ketujuh. Setiap cerita diiringi dengan ulasan dari (ceritanya) Albus Dumbledore, lengkap dengan kesan-pesan, nasihat moral, dan memoir mengenai kisah-kisah tersebut.

Dan, tentu saja, buku ini ditutup dengan cerita pendek yang dibacakan lengkap di buku Harry Potter dan Relikui Kematian, cerpen yang menjadi kunci pamungkas dalam serial legendaris tersebut: Kisah Tiga Saudara.

Pada suatu masa, hiduplah penyihir tua baik hati yang menggunakan sihirnya dengan murah hati dan bijak untuk menolong para tetangganya. Bukannya menyombongkan sumber kekuatan sihir yang dia miliki, si penyihir tua berpura-pura mengatakan bahwa semua ramuan, jimat, dan obat penawar yang dia berikan muncul begitu saja dari kuali kecil yang dia sebut sebagai kuali keberuntungan.

Kisah pertama, Sang Penyihir dan Kuali Melompat, adalah kisah penyihir di masa lalu yang bekerja membantu para Muggle. Dia dicintai banyak orang, namun anaknya, yang mewarisi harta dan barang-barang sihirnya saat ia meninggal, tidak sebaik ayahnya. Menolak membantu para Muggle, dia akhirnya mendapatkan ganjarannya. Kisah yang sederhana, simpel, dan mengalir.

Kisah kedua, Air Mancur Mujur Melimpah, bercerita mengenai tiga penyihir perempuan dan satu ksatria Muggle yang payah dalam perjalanan mereka menuju air mancur yang konon (katanya) bisa memberi keberuntungan dalam jumlah tak terkira. Mereka menempuh perjalanan yang sulit, menghadapi rintangan demi rintangan bersama-sama. Dengan gabungan kekuatan mereka, mereka berhasil mencapai air mancur tersebut. Tapi, masalahnya, air mancur hanya akan memberkahi satu orang. Siapa di antara mereka yang akan masuk ke dalamnya?

Twist yang ada di akhir cerita ini, boleh dibilang, benar-benar mengena. Bahasa gaulnya, jleb banget. Narasinya termasuk salah satu yang paling visual di antara tulisan-tulisan JKR. Pesannya juga dapat.

Pada zaman dahulu kala, seorang penyihir muda yang tampan, kaya, dan berbakat, mengamati bahwa teman-temannya jadi suka bertindak bodoh ketika mereka jatuh cinta. Mereka meloncat ke sana kemari dan berdandan, kehilangan nafsu makan, dan bahkan kehilangan harga diri.

Kisah ketiga, Penyihir Berhati Berbulu, berkisah tentang seorang penyihir sakti yang, saat masih muda, memutuskan bahwa ia tak mau jatuh cinta. Menggunakan sihir hitam, ia memotong hatinya, mengeluarkannya dari tubuhnya, dan menyimpannya hingga hatinya menjadi berbulu laksana hewan buas.

Di antara cerita-cerita yang ada di buku kecil ini, inilah kisah yang membuat saya gemetaran saat pertama kali membacanya. Horror-nya nusuk. Ngena, dapet, tepat di sasaran. Narasinya yang singkat, padat, dan mengalir membuat kisah ini terasa seperti karyanya Stephen King yang dipadatkan untuk pembaca anak-anak – hanya saja masih terlalu seram.

Nilai plus juga, untuk cerita ini, karena telah berhasil memberikan gambaran mengenai salah satu sihir paling hitam yang kelak akan digunakan juga oleh Lord Voldemort – antagonis utama dari serial Harry Potter – meski tidak sama persis.

Pada zaman dahulu kala, di sebuah negeri yang sangat jauh, hiduplah seorang raja bodoh yang memutuskan bahwa hanya dia yang boleh memiliki kekuatan sihir.

Kisah keempat, Babbity Rabbity dan Tunggul Terbahak, menggabungkan kisah raja bodoh a la Raja Yang Telanjang dengan orang cerdas laksana Abu Nawas. Dalam cerita ini, raja yang merupakan seorang Muggle memburu para penyihir sekaligus mencari seseorang yang bisa mengajarinya sihir. Seorang penipu, juga Muggle, memanfaatkan kesempatan tersebut dan berpura-pura menjadi penyihir. Dia mengajari raja sihir-sihir yang sesungguhnya hanya trik-trik sulap.

Masalah timbul saat Babbity, seorang tukang cuci istana sekaligus seorang penyihir, menertawakan raja yang berlatih sihir. Si penipu, mengetahui bahwa Babbity adalah penyihir, menyudutkannya dan menyuruhnya membuat seolah-olah raja bisa sihir.

Kisah ini menarik karena memperlihatkan gambaran mengenai perburuan penyihir di abad pertengahan sebagaimana sudah diangkat berkali-kali di serial Harry Potter. Ada sedikit plothole di sini, yang, secara gamblang, diatasi dengan penjelasan oleh ‘Dumbledore’ di bagian ulasannya.

Kisah kelima, Kisah Tiga Saudara, bisa dibilang adalah cerpen pamungkas dari buku ini. Mengisahkan tentang tiga orang saudara laki-laki penyihir, sakti, yang bertemu dengan Kematian di pinggir sungai, pada sebuah jalan yang sepi, di senja hari.

Cerpen ini menjadi inti dari buku ketujuh Harry Potter, sekaligus kunci dari serial tersebut. Tiga Relikui Kematian – The Deathly Hallows – dan tiga kakak-beradik yang pertama kali menguasainya. Menceritakan lebih dari ini akan berakibat fatal bagi para calon pembaca Harry Potter, jadi langsung saja saya katakan: kisah ini luar biasa.

Harry Potter and the Deathly Hallows: Part I

Secara keseluruhan, buku Kisah-Kisah Beedle si Juru Cerita adalah karya yang bagus sebagai bacaan tambahan untuk serial Harry Potter. Kisah-kisah di dalamnya juga cukup bagus untuk bisa berdiri sendiri sebagai sesuatu yang kita bacakan untuk anak-anak. Semuanya memiliki pesan moral, bergaya bahasa sederhana, mengalir, dan visualistik.

Totally recommended untuk semua orang.

The Ghost Brigades


The Ghost BrigadesBayangkan dunia dimana manusia telah menguasai teknologi yang memungkinkan kita untuk menjelajah bintang tanpa hambatan. Kita bisa membangun koloni, memenuhi mimpi-mimpi petualangan antariksa, bahkan berinteraksi dengan Alien sebagai sesama sederajat. Sayangnya, planet yang dapat menopang kehidupan untuk koloni begitu terbatas. Eksplorasi dan terraforming cukup sulit dan lama untuk dilakukan, dan para Alien berani untuk berperang guna memperebutkan planet-planet tersebut.

Maka: kita bertempur. Di masa depan ini, para lansia dari bumi berbondong-bondong mendaftar menjadi tentara luar angkasa. Tugas mereka adalah melindungi koloni dari serangan makhluk asing, dan – sesekali – menyerbu planet-planet yang sudah dikoloni ras Alien guna kita tinggali. Begitu para lansia menginjak usia 75 tahun, mereka akan diberangkatkan ke luar angkasa, diluncurkan jauh dari bumi, dengan tubuh ‘dipermak’ habis-habisan hingga siap untuk berperang.

Kekurangannya: beberapa lansia yang sudah mendaftar tidak berhasil menginjak usia 75 tahun.

Untungnya, dengan teknologi yang supercanggih, koloni dapat menciptakan prajurit-prajurit dari mereka yang sudah mati. Berkemampuan tinggi, memiliki fisik yang melebihi bahkan rata-rata pasukan koloni dan Alien pada umumnya, mereka disegani seantero galaksi. Karena asal-muasal mereka tersebut, mereka disebut sebagai Brigadir Hantu – The Ghost Brigades.

-a-

“I want to understand him. I want to know what it takes to make someone do this. What makes them a traitor,” Jared said.

“You would be surprised at how little it takes,” Cainen said. “Something even as simple as kindness from an enemy.”

Itu adalah premise dasar novel ini, The Ghost Brigades, yang merupakan sekuel dari Old Man’s War karya John Scalzi. Sebagaimana karya-karya fiksi ilmiah dengan setting luar angkasa seperti Ender’s Game, Star Wars, Star Trek, hingga Firefly, TGB adalah kisah space opera dengan skala besar. Bersetting di universe yang sama dengan OMW, TGB memiliki plot yang secara langsung memperluas dan mendeskripsikan dunianya dengan lebih detil.

Perbedaan nyata terdapat pada protagonis. Di Old Man’s War, protagonis kita adalah seorang pria tua dari bumi yang dipermak menjadi prajurit luar angkasa dan bertempur di dunia nun jauh di luar angkasa, sedangkan dalam TGB, kita mengikuti seorang prajurit Brigadir Hantu – seorang pemuda bernama Jared – yang dilahirkan, langsung dalam bentuk fisik dan mental dewasa, untuk alasan yang sangat khusus.

Latar belakang mulainya cerita ini adalah pembelotan seorang manusia. Ia, seorang diri, bertekad untuk menjatuhkan pemerintahan koloni manusia dengan memanfaatkan tiga ras Alien sekaligus, menyatukan mereka, dan mengarahkan mereka kepada konflik besar melawan manusia. Lebih celaka lagi, ia juga merupakan orang penting – salah satu ilmuwan yang mengembangkan teknik ‘permak’ lansia menjadi prajurit luar angkasa.

Sehingga, sekali lagi, Jared pun dilahirkan dengan satu alasan khusus: ‘mengatasi’ ancaman dari orang tersebut.

-a-

“It was interesting what you could do, when your enemy was officially your ally.  And unaware you knew it was your enemy.”

Bersama dengan Brigadir Hantu yang lainnya, Jared mengikuti perang demi perang, pertempuran demi pertempuran. Berbeda dari pasukan koloni yang biasa, Brigadir Hantu lebih sering ditugaskan dalam misi-misi penyerbuan ke koloni Alien, pesawat Alien, atau bahkan planet-planet utama ras-ras non-manusia. Bahkan, tak jarang pula mereka diterjunkan dalam misi-misi yang bersifat politis: penculikan, mengancam ras-ras makhluk asing agar tak melawan manusia, hingga genosida.

Dalam novel ini, dengan gamblang Mr. Scalzi menggambarkan konflik moral yang menarik: seberapa pentingkah manusia hingga kita menganggap diri kita layak untuk memperlakukan ras makhluk asing seperti itu? Jared, sang protagonis, mempertanyakan setiap misi yang diberikan padanya. Bahkan, seorang Alien menunjukkan padanya bahwa setidaknya para Alien yang bertempur memiliki pilihan untuk berperang atau mundur. Sangat kontras dengan Jared – dan pasukan Brigadir Hantu – yang tak memiliki pilihan. Mereka dilahirkan dengan tujuan untuk bertempur.

Dan, tentu saja, untuk membunuh.

Jadi, apakah membunuh satu sama lain, melakukan genosida ras-ras lain, adalah sesuatu yang dibolehkan demi melindungi spesies kita sendiri?

Apakah, meski teknologi sudah semaju dan sehebat itu, kita masih saja mengikuti hukum paling primitif yang ada di alam: yang kuat adalah yang menang?

-a-

“You are born to protect humanity. And you are designed for it. Everything in you down to your genes reflects that purpose.”

Meski padat akan aksi, memiliki universe yang matang dan luas, sistem teknologi yang baik dan konsisten, nilai jual utama novel ini tetap terdapat pada konflik-konflik sosialnya. Secara pribadi, saya sangat menyukai kisah-kisah seperti ini: Mr. Scalzi bisa mengangkat pertanyaan-pertanyaan mengenai moral, memberikan pesan-pesan kepada pembaca, tanpa harus menjadikan sebuah novel sebagai naskah pidato.

Bahasa mudahnya: novel ini memiliki pesan moral meski banyak ledakan-ledakan.

Contoh karya fiksi lainnya yang memiliki hal serupa adalah Trilogi The Dark Knight karya Christopher Nolan. Oleh beliau, ketiga film tersebut mengangkat isu kepahlawanan, moral, sosial, ekonomi, kejahatan, kriminal, korupsi, hingga kebobrokan sistem tanpa mengorbankan unsur aksi dan cerita. Kita mendapatkan pesan-pesan sepanjang cerita, bukan pesan-pesan sebagai cerita.

Dan menurut saya, setiap penulis yang mampu melakukan hal tersebut wajib diacungi jempol.

-a-

The Ghost Brigades bisa dipesan dan dibeli di toko buku impor, atau di toko buku digital seperti iBooks Store, Amazon Kindle, dll. Sangat saya rekomendasikan untuk penggemar genre fiksi ilmiah yang tak takut untuk membaca cerita dengan tema yang rumit dan kompleks.