1Q84 by Haruki Murakami


1Q84Ini bukan review. Beberapa bulan lalu, saya mendapat kabar dari Mbak Ajen Angelina, seorang blogger dan teman sesama penulis dari Bogor, bahwa beliau sedang mendirikan sebuah klub baca Haruki Murakami. Lebih tepatnya, beliau sedang mengumpulkan para pembaca dan penulis lainnya untuk mengulas unsur-unsur dari novel 1Q84.

Saya bukan penggemar Murakami, tapi saya pernah membaca salah satu bukunya, Norwegian Wood, dan menurut saya, buku tersebut cukup bagus. Gaya surealisnya, begitu juga cara beliau menggunakan nama-nama ikon dari masa lampau dalam novelnya untuk memantik api nostalgia, membuat saya tertarik. 1Q84 sendiri bisa dibilang merupakan novel Haruki Murakami yang paling terkenal. Tidak heran, tebalnya yang luar biasa (sampai-sampai, dalam versi terjemahannya, buku tersebut dipecah menjadi tiga volume), dilengkapi dengan review dari berbagai situs sastra luar negeri yang sangat positif, membuat novel yang satu ini tidak mungkin tak teracuhkan oleh para pembaca. Apalagi, premisnya memperlihatkan bahwa novel ini juga ada unsur-unsur fiksi ilmiahnya.

Maka, dengan dorongan dari Mbak Ajen dan rasa penasaran tersebut, saya pun mulai membacanya pada akhir bulan Mei kemarin. Berminggu-minggu kemudian–setelah mencari waktu untuk membaca di sela-sela mengerjakan terjemahan, ujian akhir semester, dan penyusunan proposal tesis–saya pun akhirnya menyelesaikannya. Di atas, sudah saya katakan bahwa ini bukan review, tapi kalau boleh saya berkomentar secara jujur, saya ingin mengungkapkan hal ini: 1Q84 adalah buku yang paling lama saya bacaKetebalannya, ditambah dengan narasinya yang mengalir begitu perlahan, menuntut pembaca untuk memiliki kesabaran ekstra dalam menelannya. Satu-satunya hal yang terus mempertahankan saya untuk membacanya adalah rasa penasaran: apa akhir dari kisah ini? What’s the endgame? Itu, ditambah dengan karakter-karakter yang sangat menarik di volume ketiganya.

Tapi, saya takkan berkubang pada kepenulisan dan keterbacaan. Saya di sini bukan untuk me-review. Lalu, mungkin Anda akan berpikir, kenapa saya menulis ini? What’s the endgame? What’s the point? Tujuannya, sebagaimana yang sudah saya sampaikan juga di atas, adalah untuk mengulas unsur-unsur dari buku ini. Kuncinya adalah, tiap-tiap dari kami, anggota klub baca 1Q84, ditugaskan untuk membahas bagian-bagian spesifik dari novel tersebut. Di antaranya: karakter, penceritaan, plot, dan–yang ditugaskan untuk saya–latar cerita.

Baca lebih lanjut

Bidadari yang Mengembara – A. S. Laksana


bidadari-yang-mengembara

“Bidadari yang Mengembara” adalah kumpulan 12 cerpen karya A. S. Laksana, penulis sastra Indonesia yang juga menulis kumpulan cerpen “Murjangkung”. Di bagian dalam kover depan buku ini, tertulis keterangan bahwa buku ini mendapat predikat buku sastra terbaik tahun 2013 versi majalah Tempo. Di bagian dalam kover belakang, catatan lain menyebutkan bahwa salah satu (atau 2? Yang satu lagi judulnya mirip, tapi mendapat tambahan 2 kata di buku ini, seolah direvisi) cerpen dalam buku ini terpilih dalam kumpulan cerpen terbaik Kompas.

Saya pertama kali membaca karya A. S. Laksana di “Murjangkung”. Membacanya, saya merasa bahwa beliau memiliki gaya tutur yang unik dan inspiratif. Ada “tanda tangan” yang sangat kentara dalam aliran katanya. Sebagai pembaca cerpen yang menikmati gaya tutur seorang penulis dan betah berlama-lama menelusurinya, menemukan bahwa A. S. Laksana ternyata punya “Bidadari yang Mengembara”, tanpa pikir panjang saya langsung membelinya.

Secara keseluruhan, cerpen-cerpen dalam buku ini bergaya lebih sederhana dari “Murjangkung” yang lebih surealis. Menurut saya, sebagian besar cerpen mengambil dasar kehidupan sehari-hari yang diramu dengan gaya yang ingin saya juluki “surealis membumi”. Diksinya tidak rumit, tokoh-tokohnya bernama dan berkarakter orang sederhana, latar belakangnya tidak terlalu berbeda dunia dengan bumi yang sesungguhnya. Jujur, tidak semua cerpen berhasil saya pahami, tapi ada beberapa yang menurut saya berhasil melaksanakan misinya dengan mulus – entah itu membuat trenyuh, menyindir, ataupun semacam curhat. Semua tanpa lebay.

Inilah review kedua belas cerpen dalam “Bidadari yang Mengembara” :

 

1.   Menggambar Ayah

Bercerita tentang anak tak berayah yang tak diinginkan ibunya, dan sudah berusaha diaborsi sejak usia kandungan 4 bulan. Sang anak terbelah dua antara benci dan merindukan (kasih sayang) ibunya. Ia pun merindukan sosok ayah dengan cara yang sangat kelam – karena ia lahir dari jalanan, simbolisasi seorang ayah yang diciptakannya adalah dalam bentuk gambar sebuah penis, yang menyertainya ke mana-mana. Gambar penis itu diakuinya sebagai ayah dengan posesif. Di akhir cerita, anak ini mengusir ibunya yang dibenci sekaligus disayanginya – kalau tak pergi, si ibu akan dibunuhnya – dan pasca kepergian sang ibu, dia menciptakan simbolisasi lain untuk sosok ibu : sebuah gunung.

2.   Bidadari yang Mengembara

Bercerita tentang sosok Alit yang kehilangan pujaan hati pelengkap sempal di tulang rusuknya, Nita. Kehilangan Nita membuat Alit lupa jalan pulang ke rumah, dan malah tersasar ke mana-mana. Ia bertemu dengan seorang tukang pijat perempuan berhidung ringsek, yang lalu malah menganggapnya pangeran dan pahlawannya yang hilang. Perempuan ini menganggap dirinya bidadari yang hilang, mengembara mencari kekasihnya untuk menjadi sempalan tulang rusuknya yang tak lengkap lagi. (Oke, cerpen ini saya gagal paham.)

3.   Seorang Ibu yang Menunggu atau Sangkuriang

Seorang ibu yang hamil ditanya oleh anak pertamanya, “Dari mana bayi keluar?” Untuk menjawabnya, disebutnya bayi berasal dari udara yang lalu dimasukkan ke perutnya. Setelah itu sang anak hilang, pergi dari rumah. Ibunya menghabiskan waktu dengan khawatir, memikirkan hal-hal buruk apa saja yang bisa merusak anaknya di dunia luar sana. Dan ketika anak itu akhirnya kembali, dia menemui ibunya demi satu permintaan aneh : melihat langsung, dengan kaca pembesar, tempat dari mana bayi masuk dan keluar. (Dan setelah menulis ringkasan di atas, saya baru ngeh kenapa ada Sangkuriang di judulnya.)

4.   Burung di Langit dan Sekaleng Lem

Sebuah cerpen satir. Bertokoh seorang gelandangan, yang mengatakan bahwa “burung-burung di langit punya rumah untuk pulang saat senja tiba, sedangkan aku tidak.” Ironi disajikan dengan gambaran kehidupannya di jalanan : disingkirkan polisi dari jalan tanpa alasan, transaksi layanan seks hand job seharga lima ribu rupiah, dan kenikmatan ngelem. Ironi terbesar tersaji dengan adegan penutupan : bagaimana sensasi fly karena ngelem mampu mengusir rasa lapar, dengan demikian membuatnya tak sudi menerima pemberian bagi rezeki dari orang lain – sekaleng lem sudah cukup menghidupinya.

5.   Seekor Ular di Dalam Kepala

Berkisah tentang seorang istri yang merasa kepalanya dimasuki ular. Awalnya ia takut ular itu merusak otaknya, membuatnya busuk. Tapi ternyata ular itu jadi sering bercakap dengannya, membawanya berkelana ke taman berisi pohon-pohon buah. Ular itu menyuruhnya memetik buah apel dari pohon; karena tangan wanita itu tak sampai, si ular menyuruhnya meminta tolong pada suaminya saja. Istri ini bercerita pada suaminya soal ular dalam kepalanya. Suaminya tak tahu harus bereaksi apa, antara tetap percaya pada istrinya atau berpikir istrinya sakit jiwa. Cerita ditutup dengan saran sang suami untuk berobat ke psikiatri yang dituruti dengan senang hati oleh si istri, lalu beredar kabar – yang secara tersirat dikonfirmasi oleh si istri – bahwa terjadi perselingkuhan antara si psikiater muda dengan pasiennya yang merasa memiliki ular dalam kepala. Ngomong-ngomong, ular itu juga menyuruh si istri meminta tolong si psikiater mengambilkan apel.

6.   Telepon dari Ibu

Bertokoh seorang istri yang hamil muda. Ia dikisahkan sedang duduk merenung di sofa, sementara sang suami sibuk bermain game komputer. Mereka lalu berbicara tentang berbagai hal; kehamilannya, pernikahan beda agama mereka yang dimulai dengan nekat, profesi lama si istri yang mengharuskannya bepergian jauh dengan kawan lelaki dan sedikit banyak membuat suaminya cemburu. Percakapan lama itu diiringi beberapa telepon dari ibunya – yang setangkap saya jarang kontak dengannya. Ibunya menelepon untuk menanyakan hal-hal remeh yang sebetulnya sudah basi, sudah berusia bertahun lalu. Tapi di tengah pembicaraan tentang hidup itu, telepon si ibu justru ditunggu-tunggu; semacam jadi komponen yang aneh, tidak matching¸ tapi selalu dirindukan.

7.   Buldoser

Bertokoh seorang anak dan ayahnya. Mereka mengalami penggusuran, terpaksa harus tinggal dengan kakek nenek si anak. Bagi si anak, yang tadinya bercita-cita menjadi dokter, hal ini menjadi kejadian traumatis yang memukul pretasi akademisnya sampai ke dasar. Tapi sang ayah selalu mengajarkan bahwa baik dan buruk keduanya adalah rahmat dalam hidup yang harus disyukuri. Begitu pula saat lagi-lagi mereka tergusur dan terpaksa tinggal serumah dengan sang nenek yang punya penyakit batuk kronis yang menyebalkan. Ajaran itu pula yang masih diingat sang anak dengan pahit ketika suatu hari di masa dewasanya, ayahnya datang ke dalam mimpinya, memintanya tolong sebab kuburannya akan digusur pula.

8.   Seto Menjadi Kupu-kupu

Berkisah tentang Seto yang jatuh cinta dengan ruwet pada seorang anak gadis pedagang martabak. Ia berusaha melakukan pendekatan dengan cara berpura-pura menjadi orang yang tergila-gila makan martabak, tapi akhirnya tukang martabak itu pindah ke kota lain dengan memboyong anaknya dan Seto pun patah hati. Karena keputusasaannya, Seto mengikuti berbagai petunjuk bagaimana caranya memperoleh hidup yang selalu beruntung dari semacam kitab feng shui, dengan harapan gadis itu akan didekatkan semesta padanya. Tapi ternyata hatinya terlalu patah, dan hasil semua usahanya itu hanyalah ia berubah menjadi kupu-kupu yang cuma sanggup menciumi mawar.

9.  Bangkai Anjing

Berkisah tentang seorang anak yang mempunyai ayah buruk rupa. Ia terjebak antara menyayangi ayahnya itu, satu-satunya orangtua yang dimilikinya, dan sikap malu pada orang apabila ketahuan lelaki itu ayahnya. Suatu saat ia akhirnya pergi dari rumah setelah berusaha menunjukkan sikap khawatir akan ayahnya, yang dibalas dengan pernyataan bahwa ia tak usah khawatir pergi sebab selama ini toh ayahnya memang selalu sendirian. Ia pergi dengan campuran rasa bersalah dan lega yang aneh. Sebelum jauh, ia sempat menabrak seekor anjing sampai mati, yang berusaha ditepisnya sebagai bukan pertanda buruk. Bertahun-tahun kemarin, saat bekerja menjadi wartawan, ia menemukan bahwa kakak tertuanya ternyata berprofesi sebagai banci. Sampai di akhir cerita, digambarkan bahwa semakin lama tokoh cerita semakin depresi.

10.  Rumah Unggas

Cerpen yang sulit digambarkan L Tentang Seto, seorang anak yang iseng mengganti air yang diminum ayahnya setiap pagi dengan air kakus. Ayahnya adalah seorang pensiunan tentara, yang masih berusaha menjaga kebanggaannya sebagai semacam kompensasi atas karier yang begitu-begitu saja. Sang ayah bangga dan sedikit mengalami post power syndrome plus insecurity di masa pensiunnya, ibunya penurut yang selalu membela ayahnya, kakaknya fotokopi sempurna ibunya, dan adiknya dianakemaskan.

11.  Peristiwa Pagi Hari

Mengisahkan seorang anak lelaki yang frustrasi di masa-masa awal pubertasnya. Ia gelisah, khawatir, malu, tidak mengenali perangkatnya sendiri yang menegang tiap pagi, tidak tahu harus berbuat apa dengan hasratnya yang membuatnya ingin meniduri semua perempuan yang ia lihat. Lalu ia berangan-angan, seandainya ayahnya adalah tipe ayah yang mau menanyai dan memperhatikan permasalahan ini setiap hari sampai ia tidak malu lagi dan sanggup menceritakan beban itu.

12.  Cerita tentang Ibu yang Dikerat

Bertokoh tentang Alit yang kehilangan ibunya yang mati digorok rampok dan sejak saat itu kehilangan segala arah dan asal-usul apa pun dalam hidupnya. Juga ada tokoh “aku” yang mendengar dan menceritakan kembali kisah Alit, lalu melakukan perjalanan pulang ke kampungnya di mana ia menemukan ibunya sudah mati dan adiknya jadi gila. Twisted ending.

 

Cerpen favorit saya adalah “Buldoser”. Nomor duanya “Telepon dari Ibu”. Nomor tiga, “Burung di Langit dan Sekaleng Lem”. Lalu, berikut adalah analisis agak sok tahu saya tentang kelebihan dan kelemahan dari buku ini:

 

KELEBIHAN

Gaya tutur. Saya sulit menerangkannya, kamu harus baca sendiri. A. S. Laksana banyak menggunakan kalimat-kalimat panjang bersambungan yang secara bersamaan terasa sederhana sekaligus rumit.

Diksi. Biarpun surealis, diksinya tidak susah-susah. Biarpun diksinya tidak susah, tetap terasa berbobot. Karena itu saya rasa buku ini cocok dibaca oleh kamu yang ingin mulai belajar membaca cerpen sastra tapi masih bingung dengan kosakata aneh-aneh.

Tema. Kalau dipikirkan lebih lanjut, tema-tema yang diangkat sederhana saja. Tokoh-tokohnya juga orang biasa, bukan makhluk khayal atau orang yang berkepribadian terlalu rumit.

Bisa jadi surga untuk pembaca detail yang memuja gaya tutur dan perpaduan kata jadi kalimat, seperti saya. Nikmat sekali membaca pelan-pelan kalimat-kalimat yang terpampang.

 

KELEMAHAN

Jangan baca buku ini dalam kondisi mengantuk. Nanti seperti saya; ketiduran, lalu harus baca cerpen terakhir dari awal, sebab sebagian kalimatnya dibaca dengan melayang-layang lalu terlupakan.

Tidak cocok untuk pembaca cepat/tak sabar/mudah bosan, pembaca yang tak tahan dengan kalimat panjang, atau pembaca yang mengharapkan diaduk-aduk emosinya.

Entah ini kelemahan saya atau kelemahan bukunya, tapi saya gagal memahami premis beberapa cerpen, dan bertahan semata karena mengikuti gaya tuturnya. Di satu dua cerpen, awalnya membahas A, diakhiri membahas B, dan saya ditinggalkan kebingungan menyimpulkan hubungan A dan B dan kenapa harus ada keduanya.

 

Secara keseluruhan, buku ini kumcer yang unik di mata saya. Sebuah buku yang cukup berpengaruh dalam gaya saya sendiri saat menulis. Saya beri skor 3.5 dari 5 bintang.

Edensor


EdensorTeman-teman kelahiran 1990-an awal mungkin merasakan bagaimana nyamannya tahun 2006-2009 sebagai anak SMA. Itu adalah tahun yang luar biasa: kita baru saja mendapatkan pemimpin baru yang dipilih langsung oleh rakyat. Kita sedang dalam usaha menyembuhkan diri dari jejak-jejak Orde Baru. Ekonomi tumbuh. Kebebasan tumbuh. Facebook belum booming, penghuninya belum ada yang alay. Dan buku-buku luar biasa beredar di pasaran saat itu, baik buku dari dalam maupun luar negeri.

Salah satunya, tak lain tak bukan, adalah serial Laskar Pelangi.

Serial ini merupakan sesuatu yang cukup unik. Dimulai dari buku ke-1, yang juga berjudul Laskar Pelangi, kita diajak masuk ke dalam memoar masa kecilnya Andrea Hirata. Dengan nama panggilan ‘Ikal’, Andrea menceritakan kepada kita mengenai kenyataan kehidupan di daerah terpencil. Belitong, sebuah tempat yang kaya sumber daya, namun taraf kehidupan penduduk aslinya masih rendah. Namun, di tengah-tengah daerah tersebut, dan mungkin di daerah-daerah terpencil lainnya di seluruh Indonesia, terdapat bibit-bibit kejeniusan luar biasa: Lintang, Sang Einstein. Lintang, yang kecerdasannya bagai mercusuar di tengah lautan gelap. Lintang, yang terpaksa meninggalkan sekolahnya, mimpi-mimpinya, dan pendidikannya demi menafkahi keluarganya menggantikan ayahnya. Berapa banyak lagi anak-anak sepertinya di daerah-daerah lainnya? Puluhan? Ratusan?

Pertanyaan tersebut memacu debat dan aksi-aksi di seantero Indonesia. Laskar Pelangi sukses. Andrea Hirata sukses. Belitong diangkat ke publik, dan pemerintah bahkan turun tangan, berjanji meningkatkan pendidikan di daerah-daerah terpencil. Versi bahasa Inggrisnya, yang berjudul Rainbow Troops, dirilis. Filmnya pun dirilis. Luar biasa.

Setelah itu, Andrea Hirata melanjutkan kisahnya. Sang Pemimpi berkisah mengenai anak-anak SMA, para remaja, di daerah tersebut: mengenai, sekali lagi, para pemimpi. Anak-anak muda dengan ribuan angan-angan, bebas, tak terikat: siapa yang bisa menghentikan mereka? Kenyataan hidup pun mereka terjang! Buku ini pun sukses memukau para pembaca muda.

Dan yang ketiga, buku yang menjadi favorit saya sepanjang serial Laskar Pelangi: Edensor.

Sorbonne - by Katsuaki Sato

by Katsuaki Sato

Sejak kecil, aku ingin pergi ke luar negeri. Untuk alasan apa pun – apakah jalan-jalan, sekolah, kerja, atau bahkan sekedar melintas – saya ingin melakukannya. Aneh, padahal aku sendiri, semasa itu, belum pernah menginjakkan kaki di luar Pulau Jawa. Aku belum pernah mengunjungi bagian lain mana pun dari Indonesia selain Jawa.

Namun, dorongan untuk bisa ke luar negeri – terutama ke Eropa – semakin besar seiring bertambahnya usiaku. Mungkin hal itu dikarenakan buku-buku yang kubaca, seperti Harry Potter, mengisahkan banyak hal mengenai negara-negara di luar sana. Daratan Eropa yang luas. Rusia yang dingin dan bertangan besi. Cina yang raksasa. Afrika yang panas. Dan masih banyak lagi.

Tapi, untuk apa sih aku mau ke sana?

Jawabannya datang menghantamku telak-telak saat aku membaca Edensor: “Untuk jalan-jalan!”

“Jalan tempat berparade, pamer kejayaan, juga tempat menggelandang. Jalan tempat lari dari kenyataan, tempat mencari nafkah. Orang hilir mudik di jalan, mereka bergerak indah, melamun, riang, dan berduyun-duyun, siapa mereka? Ke manakah mereka?”

Mungkin aneh, tapi pada saat aku membaca Edensor, aku sudah mulai terbiasa dengan gaya bahasa Andrea Hirata yang amat metaforik, lancar, lembut, sekaligus meledak-ledak dalam alirannya. Sangat enak untuk dibaca. Pertama kali aku membaca Laskar Pelangi – persentuhan keduaku dengan buku sastrawi setelah Mimpi-Mimpi Einstein – aku terpana-pana. Tentu saja, kalimat-kalimatnya luar biasa! Tapi, di buku ketiga, gaya tersebut sudah mulai kuterima – dan aku yakin sebagian besar dari teman-teman juga bakal terbiasa dengannya jika membaca Laskar Pelangi minimal 3 kali seminggu (this I did. Seriously.) hingga hampir hapal dengan isinya. Saking sukanya.

Namun, Andrea Hirata mengejutkanku lagi dengan sesuatu yang baru: alih-alih menggunakan kata-kata untuk menarasikan, untuk menceritakan, untuk shows apa yang terjadi, gagasan-gagasan dan idenya, ia menggunakannya untuk tell: mendeskripsikan yang ada di novelnya.

Hasilnya? Satu buku penuh berisikan pembayangan kehidupan di Eropa, traveling-nya, kegiatan perkuliahannya, yang luar biasa.

Aku suka mempelajari motivasi orang, mengapa ia berperilaku begitu, mengapa ia seperti ia adanya, bagaimana perspektifnya atas suatu situasi, apa saja ekspektasinya. Ternyata apa yang ada di dalam kepala manusia seukuran batok kelapa bisa lebih kompleks dari konstelasi galaksi-galaksi dan Kawan, di situlah daya tarik terbesar menjadi seorang life observer. Aku bergairah menemukan kelasku di Sorbonne. Mahasiswa-mahasiswa dari beragam bangsa di dalamnya membuat kelasku seperti laboratorium perilaku. Kelasku bukan sekadar ruang untuk belajar science tapi juga university of life.

Easter Europe and Turkey - by Candace Rose Rardon

by Candace Rose Rardon

Dengan buku ini, Andrea Hirata berhasil menggelitikku dengan dua hal: yang pertama adalah bahwa kehidupan kuliah itu gawat – dan ternyata, saat ini terbukti dengan telak. Kemudian yang kedua, adalah bahwa Eropa itu memang amat, sangat menarik untuk ditelusuri.

Dan jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, dan pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenarnya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan, kenyataan yang harus dihadapi, sepahit apa pun keadaannya.

by Amy

by Amy

Dan mungkin perlu kusampaikan juga: I made it. Aku berhasil ke Eropa pada tahun keduaku di SMA, beberapa bulan setelah membaca buku ini. Dan sama seperti yang dituliskan oleh Andrea Hirata, Eropa, bagiku, sebelumnya sangat tak terbayangkan jauh dan asingnya. Namun, di Eropa sana, berdiri di bawah menara emas katedral di Kiev, memandang bentangan padang rumput hingga cakrawala, dan curi-curi waktu dan tempat untuk Shalat di tengah-tengah kastil Chernivtsi, aku menyadari satu hal: betapa kecilnya diriku di dunia ini, dan betapa besarnya Sang Maha Besar yang menggenggam takdir kita.

Aku berharap, suatu hari nanti, bisa kembali berkelana ke berbagai tempat. Dimulai dari Indonesia, lanjut ke dunia. I want to see everyone. I want to see everything.

Dan aku ingin mendapatkan hikmah dari semua itu 🙂

“Ibu, dapatkah memberi tahuku nama tempat ini?”

Ia menatapku lembut, lalu menjawab.

“Sure iof, it’s Edensor….”

Mimpi-Mimpi Einstein


MMEAdalah buku sastra pertama yang kubaca. Pertama kali kukecap halaman demi halamannya saat aku masih SMP, di rumah seorang saudara sepupu jauh di kampung halaman. Buku tersebut teronggok di lemarinya, tampak terlantar dan tak terbaca.

Aku merasa tertarik dengan sampunya, dan ketipisannya, karena di masa-masa itu satu-satunya buku yang sangat kukenal hanyalah Harry Potter dan gaya sampulnya yang sangat ilustratif serta ketebalannya yang cukup tinggi. Buku Mimpi-Mimpi Einstein sangat tipis, ringan, dan aku membacanya dengan cepat. Dari persentuhan pertamaku dengannya, terbentuk kesan unik yang sulit untuk dilupakan. Gaya bahasanya, ceritanya, kisah-kisahnya, benar-benar membuat kepalaku pusing, campur-aduk, sekaligus terperangah.

Nyaris sepuluh tahun kemudian, aku bertemu dengannya lagi di sebuah toko buku di kota tempatku berkuliah. Dengan pengalaman membaca yang sudah lebih tinggi, aku membukanya kembali, dan kesan tersebut pun tiba lagi, kali ini dalam dosis yang jauh lebih besar.

Simply put: it blows my mind.

Mimpi-Mimpi Einstein, sebenarnya, tidak bisa benar-benar dikategorikan sebagai novel meski tulisan ‘Novel’ benar-benar tercantum – secara harafiah – kovernya. Membacanya lagi, aku yakin buku ini lebih tepat dianggap seperti fiksi jurnal mimpi – atau mungkin jurnal mimpi fiktif. Seperti itulah. Alan Lightman, penulisnya, membukanya dengan kisah Einstein muda yang bergulat dengan kegamangannya, kegalauannya, kehidupannya sehari-hari, sekaligus kejeniusannya sebagai perumus teori relativitas. Ditambah, ia merasa kebingungan dengan mimpi-mimpi yang selama beberapa bulan terakhir – sebelum novel dimulai – yang mengganggunya. Mimpi-mimpi apa yang ia alami? Oh, mimpi mengenai waktu.

Mimpi-mimpi itu mengganggu penelitiannya. Mimpi-mimpi itu sangat melelahkan, hingga terkadang ia tidak tahu apakah ia sedang tidur atau terjaga. Namun, mimpi-mimpi itu sekarang telah berakhir. Dari beberapa kemungkinan bentuk waktu yang terbayang di malam-malam itu, ada satu yang tampak meyakinkan. Tapi, tidak berarti mimpi-mimpi yang lain mustahil. Yang lain itu mungkin terjadi di dunia-dunia lain.

Setelah itu, per chapter ditandai dengan tanggal, seolah cerita pada chapter itu adalah mimpi yang terjadi pada tanggal yang disebut. Setiap cerita menampilkan mimpi-mimpi yang aneh, ganjil, mengenai waktu. Ada yang menuliskan dunia-dunia dengan versi waktu yang benar-benar berbeda, sangat imajinatif.

Suatu ketika di masa silam, ilmuwan menemukan satu kenyataan bahwa waktu berjalan lebih lambat di tempat yang jauh dari pusat bumi. Efeknya memang sangat kecil, tetapi bisa diukur dengan alat-alat yang sangat sensitif. Ketika fenomena ini diketahui, sejumlah orang yang ingin awet muda berpindah ke gunung-gunung. Kini semua rumah berdiri di atas Dom, Matterhorn, Monte Rosa, dan dataran tinggi lainnya. Adalah mustahil menjual pemukiman di tempat lain.

Beberapa lagi bisa termasuk dalam kategori ‘benar-benar gila’, atau ‘super imajinatif’.

Dunia akan berakhir pada 26 September 1907. Semua orang tahu itu.

Di Berne, seperti di kota-kota besar dan kecil, satu tahun sebelum dunia berakhir sekolah-sekolah ditutup. Mengapa harus belajar demi masa depan yang tak berumur panjang? Anak-anak yang gembira karena masa belajar telah berakhir untuk selamanya bermain petak umpet di lorong-lorong di Kramgasse, berlarian menuju Aastrasse dan melemparkan batu-batu ke sungai, menghabiskan uang jajan untuk permen dan gulali. Orangtua membiarkan saja apa yang mereka mau.

WP_20130924 1 (1)Sebenarnya, sangat mudah untuk merasa bosan, atau bingung, atau mengangkat alis tinggi-tinggi dalam buku ini. Bagaimana tidak, seluruh cerita-cerita di dalamnya sangat imajinatif, sangat fantastikal, downright crazy in most. Namun, buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang mengalir, narasi yang hidup, dan sangat ilustratif. Penggambaran suasana Jerman tempat Einstein menjalani masa mudanya dilakukan dengan sangat baik. Jempol besar untuk penulis, Alan Lightman, dan juga untuk penerjemah buku ini, Yusi Avianto Pareanom. Tanpa kemampuan berbahasa yang baik, buku ini pasti akan hancur lebur.

Ditambah, buku ini dengan cerdas menghubungkan dunia fantasi dari mimpi-mimpi tersebut dengan dunia di masa kini. Beberapa dengan sukses membuat hati terenyuh, dan beberapa mengingatkan kita tentang pengaruh kekuasaan – dan kebodohan – pada diri kita.

Hidup adalah jambangan kesedihan, tapi adalah lebih terhormat untuk menjalaninya. Tanpa waktu tak akan ada kehidupan. Yang lain tak setuju. Mereka lebih memilih kebahagiaan yang abadi. Tak penting bahwa keabadian itu kaku dan beku laksana kupu-kupu yang diawetkan dalam suatu kotak.

[…]

Beberapa orang memutuskan untuk sama sekali berhenti membaca. Mereka meninggalkan masa lalu. Apa pun yang terjadi di hari kemarin, kaya atau miskin, terpelajar atau bodoh, congkak atau rendah hati, pernah kasmaran atau patah hati, tak lebih dari angin lembut yang menari-narikan rambut mereka, Merekalah orang-orang yang menatap tajam pada mata kita dan menggenggam tangan kita erat-erat. Merekalah orang-orang yang melepas kemudaan dengan langkah tanpa beban.

Dan masih banyak lagi hal-hal dalam buku ini, jurnal mimpi ini, yang membuat hatiku terketuk.

WP_20130924 2 (1)Buku Mimpi-Mimpi Einstein dapat dibeli di toko buku gramedia terdekat! Segera cari, sangat pas untuk kita-kita yang hidup dalam kejaran waktu dan membutuhkan renungan, sekaligus sastra, yang ringan dan tepat sasaran.