Samudra di Ujung Jalan Setapak


The Ocean at the End of the Lane - Samudra di Ujung Jalan SetapakAku hanya ingat sedikit mengenai masa kanak-kanakku. Hidup di sebuah kota pinggir pantai, dengan langit yang kadang kelabu kadang cerah, suara ombak samudra tak jauh dari rumah, dan sekolah yang menyebalkan. Atau mungkin menyenangkan?

Entahlah. Seperti kubilang, aku hanya ingat sedikit mengenainya, dan setiap kali aku mencoba mengenangnya, detilnya selalu memudar, menetes-netes bagai air di genggaman. Rasanya seperti baru terbangun dari mimpi yang panjang dan mencoba membayangkannya kembali. Seolah, seluruh masa kecilku hanyalah sebuah mimpi yang sangat, amat panjang.

Dan saat ingatanmu tidak bisa kaupercaya, bagaimana kau akan mengenal siapa dirimu?

Namun, kadang yang dibutuhkan hanya hal-hal sederhana: sebuah dorongan kecil untuk membuatmu mengingat semuanya, untuk mengenal dirimu kembali. Sedikit dari kita yang menemukan hal-hal itu, pemicu ingatan dan kenangan itu. Tidak sedikit dari kita yang bahkan mencoba melupakan masa lalu. Dan di Samudra di Ujung Jalan Setapak, tokoh utama kita, Sang Protagonis Tak Bernama, berhasil menemukannya kembali.

Aku ingat itu, dan setelah ingat itu, aku ingat semuanya.

Alkisah, protagonis kita, yang juga bertindak sekaligus narator, mengingat kembali segala masa lalunya mengenai Lettie Hempstock: seorang gadis kecil yang tinggal di ujung jalan setapak bersama ibu dan neneknya. Lettie adalah anak yang ganjil, sangat aktif, dan dalam segala hal sangat berlawanan dengan Sang Protagonis yang pendiam, pemalu, penyendiri, dan kutu buku. Pertemanan mereka dimulai dengan sebuah insiden bunuh diri yang dilakukan oleh seorang penyewa di rumah protagonis. Insiden tersebut memicu kejadian-kejadian gaib yang tak terjelaskan dengan logika di kota kecil tempat protagonis kita tinggal, termasuknya di rumahnya sendiri.

Terdesak oleh makhluk-makhluk dari alam lain, kekuatan yang tak terkira, dan ancaman-ancaman mengerikan, protagonis kita meminta bantuan kepada Lettie, ibunya, serta neneknya: keluarga Hempstock, yang rupanya bukanlah wanita-wanita biasa. Bagaimana tidak? Nenek Lettie pernah menyaksikan dunia sebelum bulan tiba. Lettie sendiri berkata bahwa kolam bebek di belakang rumahnya, kolam kecil yang memicu kembali ingatan Sang Protagonis, adalah Samudra.

artist: Emiliano Ponzi

artist: Emiliano Ponzi

Samudra di Ujung Jalan Setapak adalah novel yang sangat unik. Kubilang demikian karena pertama kali aku mendengar mengenainya, ia disebut-sebut sebagai Adult Novel alias Novel Dewasa. Aku tidak kaget. Aku sudah mengenal Neil Gaiman sejak membaca Dewa-Dewa Amerika bertahun-tahun lalu, dan setelahnya, aku juga sudah membaca beberapa cerita pendeknya seperti A Study in Emerald (Sherlock Holmes dengan Lovecraftian-horror, mungkin cerita pendek paling bagus sekaligus ‘nyeleneh’ yang pernah kubaca). Intinya, beliau memang penulis yang sudah kawakan. Tidak aneh jika ia menulis novel dewasa.

Tapi, buku ini bukan sekedar novel dewasa. Jangan bayangkan adegan-adegan romansa, seks, kekerasan, dan semacamnya di sini.

Sebaliknya, membaca buku ini, awal-awalnya, membuatku bertanya-tanya kenapa ia dimasukkan ke dalam kategori Novel Dewasa, bahkan oleh penulisnya sendiri. Padahal, bahasa, cerita, dan isinya terasa masih dalam kategori remaja. Atau, bahkan, kategori anak-anak. Namun, makin ke tengah, makin ke dalam dan dipikirkan, barulah aku mengerti: Neil Gaiman bukan menulis Samudra di Ujung Jalan Setapak sebagai Novel Dewasa. Beliau menulis buku ini untuk orang-orang dewasa.

Atau, mungkin, lebih tepatnya adalah untuk anak-anak dalam diri tiap orang dewasa yang membacanya.

Orang dewasa juga tidak kelihatan seperti orang dewasa di dalamnya. Dari luar, mereka besar, tampak masa bodoh, dan selalu yakin dengan tindakan mereka. Di dalam, mereka tampak seperti diri mereka yang dulu. Seperti waktu mereka masih seumuranmu. Sesungguhnya, tidak ada orang dewasa. Tidak ada satu pun, di seluruh dunia ini.

by Subterranean Press

by Subterranean Press

Membaca Samudra di Ujung Jalan Setapak, bagiku, benar-benar nostalgik. Aku merasa sangat terhubung dengan karakter utamanya. Narasinya begitu memikat, sangat mengalir, hingga aku bisa merasakan diriku sebagai Sang Protagonis tersebut: seorang anak kecil di tengah-tengah konflik yang begitu besar, ketakutan menghadapi segala hal mengerikan yang tidak ia ketahui, takut dan khawatir pada orang dewasa, pada ayahnya, pada ibunya, dan iri pada adiknya. Penyendiri, namun tidak begitu canggung dalam berteman, terutama dengan anak-anak yang bisa mengerti pada dirinya. Berusaha belajar, meski perlahan-lahan.

Bukankah ada secercah hal-hal tersebut dalam diri kita, orang-orang dewasa? Bukankah sesekali kita juga berpikir kita mengetahui segalanya, padahal kenyataannya, kita hanya bisa tahu apa yang ada di hadapan kita? Dan bahwa itu pun kita, terkadang, meragukannya?

Lalu, apa-apa yang dituliskan oleh Neil Gaiman di buku ini juga terasa familiar. Gaya yang digunakannya sama seperti yang ia pakai dalam American Gods, Anansi Boys, Fragile Things, dan Neverwhere: halus, lembut, dan membawa pembacanya ke dunia fantasi yang imajinatif sekaligus mengerikan. Buku-buku beliau juga berbeda dengan buku-buku Fantasy lainnya yang populer belakangan ini (contoh: Twilight. Atau mungkin lebih lama lagi: Mistborn, Harry Potter, Percy Jackson, dll.). Sihir di dalamnya sesederhana kalimat, “Maka, Jadilah!” Tidak ada logika di dalamnya. Tidak ada ayunan tongkat sihir yang teratur, artifak-artifak yang harus digunakan. Tak ada penjelasan. Pembaca hanya menerima bahwa apa yang terjadi, terjadi.

Di tangan penulis yang tidak fasih, ini bisa mencelakakan. Pembaca yang menyukai hard-fantasy atau logisme bisa kesal. Tapi, Neil Gaiman membawakannya dengan fairy tale-style. Penulisannya seperti Fabel. Atau dongeng. Atau cerita sebelum tidur. Sederhana, tidak neko-neko. Dan sesungguhnya apakah cerita ini bisa nyata ataukah tidak bukan masalah: Sang Protagonis adalah pria paruh-baya, dengan ingatan yang memudar, kondisi emosi yang tidak menentu. Apakah cerita ini hanyalah sebuah mimpi panjang dari masa kecil protagonis kita? Metafor raksasa? Imajinasi, mungkin? Karena bukankah bagi anak-anak imajinatif, bayangan di lemari adalah hantu, sebuah monster bersembunyi di kolong tempat tidur, warna ubin yang berbeda adalah Lava, dan masih banyak lagi?

Dan bukankah agak sulit juga, bagi sebagian besar dari kita, untuk mengingat masa kecil kita? Seperti aku sendiri, yang hampir melupakannya? Atau mungkin, sekali lagi, menyembunyikannya?

Lalu, apakah nyata atau tidaknya ingatan kita sendiri sedemikian penting bagi kita?

artist: Neil Gaiman

“Tidak ada lulus atau gagal dalam menjadi manusia, Sayang.”

Ceritanya, narasinya, penokohannya, dan alurnya yang sangat mengalir bagai gelombang di samudra membuat buku ini, bagiku, adalah salah satu buku terbaik yang pernah kubaca. Sebuah karya terbaik Neil Gaiman untuk sisi anak-anak dalam diri orang-orang dewasa yang membacanya. Saranku, bacalah sebelum menghilang dari toko-toko buku.

Dan sapalah kembali sisi kanak-kanak kita semua!

Iklan