1Q84 by Haruki Murakami


1Q84Ini bukan review. Beberapa bulan lalu, saya mendapat kabar dari Mbak Ajen Angelina, seorang blogger dan teman sesama penulis dari Bogor, bahwa beliau sedang mendirikan sebuah klub baca Haruki Murakami. Lebih tepatnya, beliau sedang mengumpulkan para pembaca dan penulis lainnya untuk mengulas unsur-unsur dari novel 1Q84.

Saya bukan penggemar Murakami, tapi saya pernah membaca salah satu bukunya, Norwegian Wood, dan menurut saya, buku tersebut cukup bagus. Gaya surealisnya, begitu juga cara beliau menggunakan nama-nama ikon dari masa lampau dalam novelnya untuk memantik api nostalgia, membuat saya tertarik. 1Q84 sendiri bisa dibilang merupakan novel Haruki Murakami yang paling terkenal. Tidak heran, tebalnya yang luar biasa (sampai-sampai, dalam versi terjemahannya, buku tersebut dipecah menjadi tiga volume), dilengkapi dengan review dari berbagai situs sastra luar negeri yang sangat positif, membuat novel yang satu ini tidak mungkin tak teracuhkan oleh para pembaca. Apalagi, premisnya memperlihatkan bahwa novel ini juga ada unsur-unsur fiksi ilmiahnya.

Maka, dengan dorongan dari Mbak Ajen dan rasa penasaran tersebut, saya pun mulai membacanya pada akhir bulan Mei kemarin. Berminggu-minggu kemudian–setelah mencari waktu untuk membaca di sela-sela mengerjakan terjemahan, ujian akhir semester, dan penyusunan proposal tesis–saya pun akhirnya menyelesaikannya. Di atas, sudah saya katakan bahwa ini bukan review, tapi kalau boleh saya berkomentar secara jujur, saya ingin mengungkapkan hal ini: 1Q84 adalah buku yang paling lama saya bacaKetebalannya, ditambah dengan narasinya yang mengalir begitu perlahan, menuntut pembaca untuk memiliki kesabaran ekstra dalam menelannya. Satu-satunya hal yang terus mempertahankan saya untuk membacanya adalah rasa penasaran: apa akhir dari kisah ini? What’s the endgame? Itu, ditambah dengan karakter-karakter yang sangat menarik di volume ketiganya.

Tapi, saya takkan berkubang pada kepenulisan dan keterbacaan. Saya di sini bukan untuk me-review. Lalu, mungkin Anda akan berpikir, kenapa saya menulis ini? What’s the endgame? What’s the point? Tujuannya, sebagaimana yang sudah saya sampaikan juga di atas, adalah untuk mengulas unsur-unsur dari buku ini. Kuncinya adalah, tiap-tiap dari kami, anggota klub baca 1Q84, ditugaskan untuk membahas bagian-bagian spesifik dari novel tersebut. Di antaranya: karakter, penceritaan, plot, dan–yang ditugaskan untuk saya–latar cerita.

Baca lebih lanjut

Iklan

Throne of Glass by Sarah J. Maas


Throne of Glass-coverLet’s be clear about something first: aku bukanlah penggemar novel young-adult, YA, atau dewasa-muda. Sebagian besar novel-novel dalam genre tersebut, menurutku, terlalu predictable. Karakter, cerita, plotnya, biasanya mudah ditebak. Narasinya pun seringkali berlebih-lebihan dalam membawa unsur romansa.

Mari kita cek sedikit trope karakter-karakter novel YA: seorang protagonis perempuan yang kuat, unik, dan memiliki konflik pribadi sebagai karakter utama; seorang protagonis (atau anti-hero) pria yang kuat, tangguh, cool, berkepala dingin dan sinis (bonus point: he’s always smirking) sebagai calon love interest; seorang protagonis pria yang baik, ramah, cerdas, yang menjadi sahabat baik si karakter utama (plus point: he’s in love with the MC, but don’t worry, he’ll get over it soon); serta sekumpulan orang-orang lain yang menjadi tim pembantu bagi tiga karakter tersebut, melengkapi, menambahkan konflik-konflik yang bisa jadi tidak penting sebelum akhirnya mereka semua bergabung untuk menghadapi The Big Bad One.

Ganti nama novelnya, ganti ras atau spesies yang menjadi sumber konflik (atau calon love interest), dan kau akan mendapatkan sebuah cerita YA yang hampir bisa dijamin akan laris ribuan eksemplar. Enak, ‘kan?

Oleh karena itu, pada saat aku pertama mendengar mengenai novel yang sedang naik daun satu ini, reaksiku adalah skeptis. Satu-satunya hal yang membuatku mau mengambil, membeli, dan membacanya hanyalah sampulnya yang keren. Total badass. Aku sudah menyiapkan diriku untuk kekecewaan, karena toh beberapa sampul keren belum menjamin isinya benar-benar berkualitas. Kupikir ini akan sama saja dengan kebanyakan novel YA lainnya. Trope yang sama, pembukaan yang sama, cerita yang sama…

Boy. I was wrong.

Baca lebih lanjut

Dewa-Dewa Amerika (American Gods)


Dewa-Dewa Amerika (American Gods)Setelah menjalani masa hukuman selama bertahun-tahun, seorang pria bernama Shadow akhirnya dibebaskan dari penjara. Namun, tak ada penyambutan untuknya. Istri dan sahabatnya baru saja meninggal, rumah lamanya tak lagi bisa ia datangi, dan tak ada sanak atau kerabat yang mau menampungnya.

Dihadapkan dengan kondisi tersebut, Shadow bertemu dengan Mr. Wednesday. Seorang pria misterius, Wednesday meminta Shadow untuk bekerja untuk sebagai bodyguard. Tak memiliki pilihan lain yang lebih baik, Shadow pun menerima.

Yang terjadi setelahnya adalah rangkaian kejadian paling ganjil dalam hidup Shadow: ia dan Wednesday bepergian ke berbagai tempat di Amerika, dari pesisir Barat hingga Timur, dari bagian tengah yang kosong hingga kota-kota paling besar. Bersamanya, Shadow bertemu dengan pria dan wanita, kenalan Mr. Wednesday, masing-masing lebih tua dibandingkan dunia, dan sangat, amat, sakti. Bersamanya, Shadow akan mencaritahu jati dirinya, siapa ia sebenarnya, dan takdir yang akan ia penuhi.

Namun, entitas-entitas baru telah bangkit di Amerika. Pertempuran dahsyat antara dua kubu akan segera berlangsung, untuk menentukan nasib seluruh manusia di Amerika. Shadow harus menentukan tindakannya setelahnya, karena nasib jutaan manusia – bahkan Dewa-Dewa kini berada di bahunya.

-a-

Negeri ini luas. Sebentar saja, orang-orang kita mencampakkan kita, mengingat kita hanya sebagai makhluk-makhluk dari negeri mereka dahulu, sebagai benda-benda yang tidak ikut dengan mereka ke negeri yang baru.

Hal pertama yang perlu diingat sebelum membaca Dewa-Dewa Amerika adalah: ini adalah novel fantasy. Kedua, ini adalah novel urban fantasy, yang berarti genre fantasy di dalamnya dibawakan dengan latar kehidupan urban – atau, lebih tepatnya, kehidupan sehari-hari. Dan dengan genre tersebut, dunia yang digambarkan di novel ini cukup realistis, dengan ilustrasi yang memikat mengenai Amerika, sehingga – saat pertama kali saya membaca novel ini, dan tidak mengetahui genrenya – saya mengira ini adalah novel thriller/mystery.

Gaya penceritaan di novel ini sangat unik, a la Neil Gaiman. Saya menyebutnya sebagai dreamlike, penuh metafor dan bahasa yang kadang susah dimengerti. Hal ini cukup mengganggu saya di paruh-paruh awal novel, karena bahasanya terasa panjang dan kalimat-kalimatnya seperti direntangkan. Paragraf-paragraf pun tampak padat dan tebal. Tapi, untungnya penceritaannya sendiri sangat mengalir, sehingga mudah untuk diikuti.

Plus, mungkin gaya bahasa seperti itu memang cocok untuk sebuah novel yang menceritakan Dewa-Dewi, mitologi, legenda kuno, dan kemanusiaan sekaligus.

-a-

1 - by luilouie

sumber gambar: luilouie (deviantart)

Satu hal brilian, salah satu yang paling menarik, dari American Gods adalah Neil Gaiman memasukkan unsur traveling di dalamnya. Sepanjang cerita, kita diajak mengelilingi Amerika – dari kota-kota pencakar langit dengan lalu lintas yang padat hingga apartemen kumuh di wilayah pinggiran, lalu dari gurun-gurun pasir menuju pegunungan berbatu. Ilustrasinya sangat padat, mantap, visual.

Sehingga, setiap kali saya membaca novel-novel atau buku-buku traveling lainnya, saya selalu membanding-bandingkannya dengan ini. Hingga kini, menurut saya hanya ada dua buku yang bisa menyamai – atau melebihi – visualistik yang ada di American Gods: Naked Traveler dan Edensor. Keduanya, sama seperti American Gods, memenuhi sebuah syarat suksesnya suatu kisah traveling. Syarat itu, sebagaimana telah diungkapkan dengan cemerlang oleh Cheri Lucas (editor di WordPress.com) di sini, adalah memasukkan unsur perjalanan ke dalam jiwa, bukan hanya raga.

Atau, lebih mudahnya: kita mengikuti perjalanan batin tokoh utama sepanjang perjalanan fisiknya.

Kenapa saya berkata bahwa hal tersebut sangat kuat? Karena, yah, sebagai tokoh utama, Shadow kurang sympathetic. Ia tinggi, besar, kuat, tangguh, macho, dan dia pendiam, tidak banyak bicara, kaku, serta kurang menyenangkan. Sangat sulit mendapatkan alasan kenapa pembaca harus menyukainya. Hal tersebut berpotensi menjadi bencana, karena kalau pembaca tidak bisa terhubung dengan tokoh utama, biasanya mereka akan sulit untuk terhubung dengan cerita.

Untungnya, sebagaimana saya telah tuturkan di atas, Mr. Gaiman turut membawa kita menyaksikan perkembangan Shadow – jalan pikirannya sepanjang perjalanannya, pengembaraannya, petualangannya. Beliau mengajak kita melihat bagaimana Shadow, perlahan tapi pasti, menyadari posisinya: bahwa ia, seorang manusia biasa, pria biasa, sedang terbelit perseteruan dahsyat antar Dewa-Dewi kuno dan baru. Bahwa ia akan mati, dan tak keberatan menghadapinya.

Hingga, bagaimana ia, menjelang akhir, mendapatkan jawaban akan semua pertanyaan yang telah menghantuinya sejak kecil. Jawaban yang, karenanya, membuat ia bersedia untuk kembali dan (jreng jreng!) menyelamatkan dunia.

-a-

Lebih dari seratus tahun kemudian, barulah Leif yang beruntung, putra Erik si Merah, menemukan kembali daratan itu, yang lalu disebutnya Vineland. Dewa-dewanya sudah menunggunya ketika dia tiba: Tyr, bertangan satu, dan Odin kelabu si penguasa tiang gantungan, dan Thor penguasa halilintar.

Membaca American Gods akan terasa seperti membaca Percy Jackson, tapi untuk versi dewasa, dan dalam versi yang sangat gelap serta membuat depresi. Buku ini jelas bukan untuk semua orang – di beberapa bagian, bahasa yang digunakan cukup eksplisit (meski sudah diselamatkan berkat penerjemahan Inggris ke Indonesia), plotnya rumit, dan seringkali terasa ngalor-ngidul.

Tapi, jika Anda menyukai cerita mengenai sejarah Amerika, sejarah para Dewa, dan melihat lebih dalam mengenai budaya Amerika – cara hidup penduduknya, kepercayaannya, asal-muasalnya – buku ini sangat saya rekomendasikan. Sedikit banyak buku ini juga mengajak pembacanya berpikir, bertanya-tanya, dengan bahasannya mengenai asal-muasal agama dan kepercayaan-kepercayaan kuno, serta kenapa – dan bagaimana – sebuah agama bisa menghilang dan Dewa-dewanya memudar.

by Nicolas Delort

sumber gambar: Nicolas Delort (blog)

Singkat kata, ini adalah novel urban fantasy paling serius, paling rumit, paling kompleks, namun paling memuaskan jika selesai dibaca. Not for everyone, though, tapi menurut saya pribadi kualitasnya sangat bagus. Karya Neil Gaiman di masa puncaknya.

The Amulet of Samarkand (Bartimaeus Trilogy #1)


Amulet of SamarkandAlkisah, sesuatu terjadi di masa lampau. Sesuatu yang membuat penyihir berjalan dengan leluasa di dunia dan membaur dengan masyarakat. Sihir dan jampi-jampi diterima di kehidupan sehari-hari sebagai sesuatu yang biasa. Di dunia seperti ini, Inggris dikuasai oleh penyihir-penyihir sakti, dan Nathaniel, seorang anak laki-laki, dijual oleh orangtuanya kepada pemerintah untuk menjadi murid penyihir di bawah bimbingan Arthur Underwood, seorang penyihir kelas menengah di pemerintahan Inggris.

Suatu hari, karena sebuah insiden, Nathaniel dipermalukan oleh seorang penyihir kelas atas bernama Simon Lovelace. Bertekad untuk membalas dendam, ia mempelajari sihir sedalam-dalamnya, berjuang menguasai sihir-sihir bahkan di usianya yang masih belia. Akhirnya, ia berhasil memanggil seorang Djinn bernama Bartimaeus, yang konon berusia lebih dari 5000 tahun, untuk mencuri sebuah amulet dari Simon Lovelace. Tindakan sederhana tersebut membuat Nathaniel terjebak dalam jaring-jaring kriminal, politik, dan persaingan sihir di jajaran kerajaan Inggris.

Di saat bersamaan, sebuah gerakan pemberontak jalanan telah bangkit.

***

Pertama kali aku menemukan novel ini, tergeletak di toko buku lokal, adalah saat aku masih SMA. Saat itu, aku masih terlalu gandrung dengan Harry Potter untuk melirik novel-novel fantasi lainnya, apalagi yang kedengarannya terlalu sejenis (bukan salahku. Waktu itu ada film di TV Indonesia berjudul Heri Putret. Atau Heri Potret. Whatever. Bagaimana pun, setiap kali mengingatnya, aku selalu merasa malu sendiri). Jadi, aku rada gerah kalau nemu novel, terus baca summary-nya di bagian belakang, dan mendapati isinya terlalu mirip serial favoritku itu.

Itu dulu.

Tahun kemarin, setelah mendapatkan tablet dan bisa membeli eBook dengan sesuka hati, aku menemukan kembali novel ini dan membelinya. Hasilnya, ternyata, isi ceritanya jauh dari dugaanku.

One magician demanded I show him an image of the love of his life. I rustled up a mirror.

Ada beberapa kesamaan, pastinya, antara Bartimaeus Trilogy – dalam hal ini adalah The Amulet of Samarkand – dengan Harry Potter. Kedua-duanya sama-sama menceritakan mengenai penyihir, kedua-duanya sama-sama ber-setting di Inggris. Tapi, melalui buku ini, untuk pertama kalinya aku mengenal yang namanya hard magic system.

Apa itu hard magic system? Artinya adalah sistem sihir yang kaku, strict, dengan aturan-aturan dan logika yang menyerupai ilmiah. Ini berlawanan dengan soft magic system seperti pada Harry Potter, yang satu-satunya aturan adalah mantra (itupun di buku-buku selanjutnya ada yang namanya non-verbal spells, jadi nggak perlu mengucapkan mantra) dan ayunan tangan (tidak juga, di buku-buku selanjutnya orang meluncurkan mantra-mantra bisa seenak hati dari posisi tangan mana pun). Jadi, sistem sihirnya nggak kaku. Tidak seperti The Amulet of Samarkand.

Di The Amulet of Samarkand, supaya seorang penyihir bisa menyihir, ia harus memanggil jin. Yups, benar-benar memanggil jin dengan lingkaran pemanggil, pentagram/heksagram, mantra, ucapan tertentu, dst. Tanpa melakukannya, penyihir takkan bisa menyihir. Sesederhana itu, namun krusial. Di satu bab, kita bisa melihat bagaimana penyihir yang tidak sempat memanggil jinnya terbunuh, dan penyihir yang jinnya kalah kuat terbunuh juga. Semakin ahli penyihir dalam menggambar lingkaran dan jampi-jampi, ia bisa memanggil dan mengendalikan jin yang semakin kuat. Dan semakin kuat jin yang dipanggil, semakin sakti-lah penyihir tersebut.

Dan, di cerita ini, protagonis kita, seorang penyihir muda yang masih belajar di bawah bimbingan Master-nya, berhasil memanggil Bartimaeus: seorang jin berusia 5000 tahun lebih.

Jabor finally appeared at the top of the stairs, sparks of flame radiating from his body and igniting the fabric of the house around him. He caught sight of the boy, reached out his hand and stepped forward.

And banged his head nicely on the low-slung attic door.

Salah satu hal yang membuat The Amulet of Samarkand bersinar adalah karakternya. Setiap tokoh di The Amulet of Samarkand, bahkan para jinnya, terasa hidup. Mereka memiliki kelemahan, mereka memiliki kekurangan. Dan mereka semua cool. 

Selain itu, ceritanya cukup ramai: ada konspirasi, ada kisah balas dendam, kisah cinta, kisah belajar sihir, kisah penebusan dosa dan kesalahan, dan masih banyak lagi. Dan, yang paling utama, sistem sihirnya ngepas dengan ceritanya. Benar-benar sesuai.

Source: Myluckyseven.net

Source: Myluckyseven.net

Terus, satu hal yang kusadari, adalah bahwa sistem sihir seperti ini sebenarnya tidak asing: kita menjumpainya di perdukunan di Indonesia, ‘kan? Memanggil jin, memanfaatkan mereka untuk melakukan hal-hal kotor kita, dan banyak lagi. Mungkin Mr. Jonathan Stroud pernah datang ke sini, melihat bagaimana dukun bekerja, dan memutuskan untuk membuat novel berdasarkan hal tersebut?

Yang jelas, buku ini superb.

Steelheart


SteelheartSepuluh tahun sebelumnya, sebuah bola cahaya yang disebut ‘Calamity’ muncul di langit. Saat yang sama, manusia-manusia mulai mendapatkan kekuatan super. Publik menyebut mereka sebagai ‘Epics’, dan banyak dari mereka memberi reaksi (standar) manusia saat mendapati superhumans berjalan bersama mereka: kagum, takjub, takut, ngeri, dan berharap.

Namun, ada satu masalah: seluruh Epics adalah penjahat. Ya, di dunia yang baru ini, tidak ada superhero. Only supervillains ruled. Di sebuah kota yang dulunya adalah Chicago, seorang Epics berkuasa dengan tangan besi. Seorang Epics bernama Steelheart, dengan kemampuan mengubah barang apapun menjadi baja, menembakkan energi dari telapak tangan, dan tak bisa dilukai oleh peluru, meriam, rudal, pedang, pisau, atau senjata apa pun yang dikenal. Epics merajai jalanan, dan manusia biasa mati-matian mencoba hidup dalam rezim yang baru tersebut. Tak ada yang melawan. Tak ada, kecuali para Reckoners.

Dan seorang pemuda bernama David ingin bergabung. Bertahun-tahun sebelumnya, ia telah menyaksikan sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang banyak orang mengira mustahil: ia melihat Steelheart terluka. Dia memiliki rahasia untuk mengalahkan Steelheart, dan dia ingin membalas dendam.

***

Epics had a distinct, even incredible, lack of morals or conscience. That bothered some people, on a philosophical level. Theorists, scholars. They wondered at the sheer inhumanity many Epics manifested. Did the Epics kill because Calamity chose—for whatever reason—only terrible people to gain powers? Or did they kill because such amazing power twisted a person, made them irresponsible?

Ada beberapa hal yang membuat cerita-cerita superhero seringkali gagal: pertama, kisah mereka menampilkan orang keren dengan kekuatan keren yang tentu saja tidak dimiliki pembaca-pembaca mereka yang tidak keren. Kedua, kisah mereka cliche. That’s it. Kisah yang klise bisa menjadi bagus, namun sangat mudah diprediksi.

Untungnya, hal yang sama tidak terjadi pada Steelheart. Dengan cerdas Mr. Sanderson meramu buku ini menjadi sesuatu yang klise tapi tidak mudah diprediksi. Sebagai awal mula, sebagaimana yang sudah saya tuliskan di atas, there are no heroes. Para jagoan kita, para tokoh protagonis, adalah manusia biasa yang memiliki tekad kuat untuk membasmi para Epics. Caranya? Dengan membunuh, tentu saja. Setiap Epics memiliki kelemahan, dan jika kelemahan tersebut berhasil diketahui, maka ia bisa dibunuh. Kelemahannya bisa apa saja, dari takut pada semut hingga kekuatan yang hilang jika sedang berciuman, tapi mereka semua memiliki satu.

Dan tahukah? Satu-satunya cara para Reckoners untuk bisa mengetahui kelemahan tersebut adalah dengan mengamati para Epics. Meneliti. Mencari tahu. Knowledge is power, after all.

Maka, saat David, seorang pemuda yang pernah bertatap muka dengan Steelheart jauh di masa lalu, yang pernah menyaksikan ayahnya, seorang pria biasa yang kebetulan berada di Bank, melukai Steelheart, para Reckoners mau tak mau mendengarkan ceritanya. Dan misi terbesar untuk mereka pun dimulai: menjatuhkan Steels dengan kekuatan layaknya gabungan Superman dan Black Adam.

Setiap tokoh di cerita ini mendapatkan suara mereka. Itu yang kusenang dari cerita ini: setiap tokoh memiliki kehidupan, jiwa, tersendiri. Tidak ada tokoh yang kosong, kecuali (yang sangat disayangkan) para Epics sendiri. Karena mereka digambarkan sebagai pure evil, pure brutality, rasanya saya tak bisa memahami mereka. Namun mungkin itulah inti cerita ini: sebuah kisah klasik-klise, pertarungan antara kebaikan melawan kejahatan. Putih melawan hitam. Manusia melawan monster. Klise. Tapi seru.

Fan art by ArchetypeAngel

Steelheart. Fan art by ArchetypeAngel

Setiap babnya memiliki cliffhanger dalam skala epik: tak mungkin rasanya meletakkan buku ini sebelum selesai membacanya. Narasinya luar biasa, sangat mengalir, mengingatkan saya kepada Harry Potter yang legendaris. Tambahkan dengan alur yang berbelok sana-sini, tidak bisa ditebak, tapi masuk akal. 

Hasilnya? Sangat bagus sebagai buku pertama dalam trilogi Reckoners yang baru dari Brandon Sanderson. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, masih banyak bagian dari dunia yang baru ini untuk dibahas, tapi mengingat reputasi Brandon Sanderson sebagai pengarang Mistborn Trilogy, penutup Wheel of Time series dengan A Memory of Light, dan banyak lagi serial-serial karangannya, saya yakin cerita yang akan diberikan nantinya akan jauh lebih banyak juga.

The 13 Clocks


The 13 ClocksBulan November ini digadang-gadang bakal menjadi bulan yang mengerikan. Bagaimana tidak, ada NaNoWriMo, ada Ujian Tengah Semester, penelitian dan skripsi, dan masih banyak lagi. Walhasil, waktu membaca pun turun drastis. Target membaca 100 buku tahun ini menjadi agak sulit dipenuhi, dengan reading list yang masih menumpuk. Dan setiap kali mau mulai baca novel, pasti pusing: setelah seharian membaca textbook dalam jumlah berjibun, mengerjakan latihan soal, mata ini sangat membutuhkan istirahat dari dinding huruf yang kian tinggi tiap harinya.

Oleh karena itu, saya mulai membaca lebih banyak buku anak-anak. Lebih tepatnya, buku ilustratif, graphic novel, atau bahkan komik. Di minggu sebelumnya, saya menulis mengenai Vader’s Little Princess: sebuah buku yang sangat menarik dan memanjakan mata. Dan minggu ini pun tak berbeda: akan saya tulis sedikit mengenai buku yang baru saja selesai saya baca, yang berjudul The 13 Clocks karangan James Thurber.

Kalangan pembaca generasi sebelumnya, generasi tua, mungkin sangat mengenal sang penulis, James Thurber. Beliau adalah kartunis, pelawak, sekaligus penulis yang karya-karyanya banyak muncul di The New York Times. Biodatanya bisa dibaca di Mas Wiki.

Lalu, sekedar informasi, The 13 Clocks ini adalah buku novel anak-anak yang beliau tulis pada saat berada di Bermuda. Memberi kesan tersendiri, ‘kan?

Lugas, luwes dan ilustratif, buku bergenre Fantasy ini mengisahkan mengenai seorang pangeran yang harus melaksanakan deretan tantangan dan tugas untuk membebaskan seorang putri dari cengkeraman Duke Jahat di Kastil Coffin. Kocak, seru, dan seringkali dark di beberapa bagian, hingga membuat saya bertanya-tanya bagaimana bisa novel seperti ini dimasukkan dalam kategori anak-anak. Mungkin karena ceritanya yang mudah dimengerti dan bahasanya yang lugas. Atau mungkin anak-anak jaman dulu lebih dewasa dibandingkan jaman sekarang.

The 13 Clocks_3

Eniwei, buku ini sekarang bisa diunduh dengan gratis karena masuk dalam public domain di Archive.org. Dan tahukah Anda? Ada film pendeknya juga lho, ditulis dan dinarasikan oleh para veteran bidang Fantasy. Salah satunya adalah penulis favorit saya, Neil Gaiman 😛 Jadi… silakan diunduh, silakan dibaca, dan silakan ditonton!