Sandman: Ramadan by Neil Gaiman


Sandman - RamadanHampir satu bulan penuh sejak saya menulis ulasan buku di sini. Selama itu pula, saya telah mendaftar wisuda, melamar kerja, diundang ke wawancara, ditolak, pulang, introspeksi diri, minum-minum (kopi susu), lalu melamar lagi, diundang wawancara, tes praktek, dan diterima. Tak lupa, negara-negara jatuh, perang dimulai dan akan berakhir, jiwa datang dan pergi. Begitu banyak yang terjadi hanya dalam rentang waktu tiga puluh hari; waktu terus mengalir sementara kita melupakan banyak hal.

Ruang dan waktu. Space and time. Belakangan ini, sejak saya menyadari betapa besarnya kekuatan yang disimpan waktu terhadap kita semua, saya mulai membongkar-bongkar kembali arsip-arsip lama saya. Kardus demi kardus yang ada di rumah saya buka, dan, voila! Setumpuk buku novel lama, mass market paperback dari luar negeri, komik-komik Doraemon, Kung Fu Komang, Captain Tsubasa, dan, yang paling menarik perhatian saya: Sandman.

Bertahun-tahun silam, saya menemukan satu bagian di toko buku emperan di dekat Universitas Indonesia (tempatnya sekarang sudah dipindah, entah ke mana). Di sana, dijual banyak  buku-buku impor dan menjadi salah satu sasaran utama saya kalau mau mencari buku berbahasa Inggris yang tidak diterbitkan di Indonesia. Sebagian besar murah, karena bekas, dan dalam kondisi tidak bagus, tapi kontennya masih sama. Serial Sandman adalah serial komik yang saya beli di sana dengan harga yang bagus. Sebelum saya tahu mengenai novel-novelnya, inilah karya Neil Gaiman pertama yang saya baca.

Dan, tentu saja, Sandman: Ramadan stood out sebagai salah satu karya Sandman yang paling saya suka dari beliau.

Baca lebih lanjut

Iklan

Stories: All New Tales, edited by Neil Gaiman and Al Sarrantonio


Stories-All New TalesPertama-tama, saya mau minta maaf karena minggu kemarin tidak nge-post review buku di sini. Sejak dua minggu lalu saya sudah berencana untuk mengulas Stories: All New Tales, sebuah buku kumpulan cerita yang dikompilasi oleh Neil Gaiman dan Al Sarrantonio, dua novelis terkemuka yang telah menerbitkan puluhan tulisan. Namun, apalah daya ternyata bukunya sangat tebal, ceritanya sangat banyak, dan masing-masing tidak bisa dibilang berformat cerita pendek (satu cerita ada yang lebih dari 7000 kata!), serta kesibukan kerja menghalangi terselesaikannya buku ini.

Oleh karena itu, sekali lagi, mohon maaf yaa.

Kemudian, mengenai buku ini. Ya, saya sebenarnya sudah memilikinya dalam format ebook sejak dua-tiga minggu silam, namun baru sepuluh hari lalu saya menemukannya dalam format mass market paperback di Periplus (sedang diskon lho!). Tertarik dengan cover-nya, dan menyadari bahwa saya biasanya lebih cepat dan lebih baik dalam membaca buku dengan format cetak, saya membelinya. Meski sudah diskon, harganya tetap sedikit membuat dompet lebih ringan, namun saya tak menyesal.

Sama sekali tidak.

Baca lebih lanjut

Baca Hujan, Triwulan Dua


Triwulan KeduaTak terasa, sudah tiga bulan berlalu sejak Triwulan Satu. Enam bulan blog ini telah berusia, dengan setiap minggunya sebuah buku diulas di sini. 12 buku di Triwulan Dua, 24 buku di blog ini, plus satu cerita pendek.

Banyak yang telah dilalui dan dicapai oleh blog sederhana ini. Ia telah menempati posisi atas dalam beberapa pencarian ulasan buku di Google. Ia telah mencapai 2000 pengunjung di Bulan Februari kemarin. Ia telah mencapai ratusan pengikut, dan setiap minggunya, link ulasan dari Baca Hujan dilihat oleh para penghuni dari komunitas-komunitas blogger.

Oleh karena itu, untuk memperingati setengah tahun Baca Hujan, ada beberapa pengumuman yang harus diberikan. Antara lain:

  • Baca Hujan akan meningkatkan frekuensi tulisannya. Jika sebelumnya hanya setiap hari Minggu dan terbatas pada buku-buku fiksi atau memoir, Baca Hujan akan melebarkan sayap dengan mengulas buku non-fiksi di hari Rabu pada minggu kedua dan ketiga setiap bulannya.
  • Baca Hujan telah memiliki Facebook Page. Di laman tersebut, berbagai tautan menuju bacaan-bacaan menarik akan dibagikan setiap harinya. Lebih lengkapnya dapat dibaca di sini.
  • Baca Hujan telah mengadopsi Tema baru. Untuk yang berkunjung dari Tablet atau Laptop dapat menyaksikan bahwa lay-out dan tampilan telah disederhanakan, dan sekarang lebih mudah untuk bernavigasi. Silakan gunakan Menu di atas header untuk membuka laman kategori, menyortir tulisan berdasarkan kategori sasaran usia pembaca hingga genre.

Kurang lebih, itulah pengumuman dari Baca Hujan di ulang Triwulannya yang kedua ini. Sehingga, yuk kita kilas balik buku-buku apa saja yang sudah diulas Baca Hujan di Triwulan Dua ini!


1. WarbreakerBrandon Sanderson

Salah satu karya Epic Fantasy dari penulis novel remaja best-seller Steelheart, Brandon Sanderson menyajikan sebuah standalone-fantasy yang dapat dibaca online di Wattpad.com. Novel ini bercerita mengenai perseteruan antar kerajaan, politik, cinta, sihir, konspirasi, dan aksi. Sebagai tokoh-tokohnya adalah sepasang saudari putri kerajaan, seorang Dewa yang tidak memercayai agamanya sendiri, seorang Dewa Raja, dan seorang ksatria khusus yang memiliki julukan Warbreaker.

2. More Than ThisPatrick Ness

Menggabungkan fiksi ilmiah dengan surealisme, memadukan kisah remaja yang familiar dengan cerita futuristik-distopia, More Than This berkisah mengenai seorang remaja yang bunuh diri, tenggelam, di samudra, dan terbangun di sebuah dunia yang kosong. Sendirian, ia menjelajahi dunia barunya yang absen dari manusia, namun penuh tanda-tanda peradaban. Perlahan, ia mempelajari kenyataan-kenyataan yang ada – mengenai hidup dan kematian, mengenai nyata dan tidak – dan menemukan keganjilan yang tak terkatakan.

3. PenpalDathan Auerbach

Berasal dari sebuah cerita online di forum cerita horor Nosleep, Penpal berkisah mengenai seorang pria yang menelusuri masa lalunya dan mendapati ingatan-ingatan yang ganjil: foto-foto yang menakutkan, seorang gadis yang tewas, kekuatan yang tak terbayangkan, serta berbagai kengerian lainnya. Diceritakan dengan begitu mengalir a la Samudra di Ujung Jalan Setapak, Penpal membawa kita menuju rasa nostalgia yang mengerikan.

4. Aku Tahu Kamu HantuEve Shi

Sebuah karya debut, Aku Tahu Kamu Hantu berkisah mengenai seorang anak perempuan yang, pada hari ulangtahunnya, mendapatkan kekuatan yang sudah diwariskan secara turun-temurun di keluarganya. Dengan kekuatan barunya tersebut, ia berusaha memecahkan misteri hilangnya seorang anak di sekolahnya, sekaligus berjuang menyesuaikan dirinya – dengan kekuatannya tersebut – di tengah-tengah kehidupan normal. Sebuah cerita horor yang sangat efektif, modern, dan cocok untuk remaja.

5. Gelombang 5Rick Yancey

Sebuah kisah penyerbuan Alien, Rick Yancey menggambarkan apa yang terjadi apabila Alien menyerbu kita dalam gelombang demi gelombang serangan tanpa sedikit pun memasuki wilayah udara kita dan menginjak tanah di bumi. Tak ada perlawanan, tak ada yang bisa dipercaya, dan tak ada yang tersisa, dua orang remaja dan satu orang anak kecil berjuang untuk bertahan hidup di dunia pasca-Gelombang Empat. Dengan hanya sedikit sekali yang selamat, masih akan adakah Gelombang Lima? Atau, mungkinkah Gelombang Lima sudah terjadi?

6. Biarkan Aku MasukJohn Ajvide Lindqvist

Perpaduan kisah vampir klasik dengan horor modern, penulis Swedia John Ajvide Lindqvist menggambarkan kehidupan seorang anak remaja laki-laki yang mendapati tetangga barunya adalah seorang remaja perempuan, kira-kira seusia dengannya. Seiring mereka saling berkenalan, peristiwa-peristiwa ganjil mulai terjadi di kota tempat mereka tinggal, dan berbagai petunjuk membawa si anak kepada tetangganya tersebut. Mungkinkah tetangganya tak seperti yang terlihat dari luar?

7. Dewa-Dewa AmerikaNeil Gaiman

Menyabet berbagai penghargaan bergengsi di dunia, American Gods mengisahkan seorang pria yang baru saja keluar dari penjara dan menjadi sebatang kara. Tanpa tujuan, tanpa arah, dan tanpa rumah, ia bertemu dengan seorang pria paruh-baya bernama Mr. Wednesday, yang menyewanya sebagai bodyguard dan membawanya ke dalam perjalanan panjang melintasi Amerika guna menyusuri jaring-jaring konflik besar yang akan terjadi antar Dewa-Dewa Amerika.

8. The Ghost BrigadesJohn Scalzi

Sekuel dari Old Man’s War meski dapat berdiri sendiri dengan kokoh, novel ini mengisahkan masa depan yang berisi konflik berkepanjangan antara manusia dengan para ras alien di luar angkasa guna memperebutkan planet-planet yang menunjang kehidupan di galaksi. Di saat bersamaan, sebuah pengkhianatan terjadi, seorang prajurit super ditugaskan, dan sebuah pasukan dikerahkan – pasukan yang, berdasarkan kisah-kisah, dibangkitkan dari mayat orang-orang mati. Pasukan khusus yang disebut, dengan nada segan oleh seantero galaksi, sebagai Brigadir Hantu.

9. Kisah-Kisah Beedle si Juru CeritaJ.K. Rowling

Sebuah companion book untuk serial Harry Potter, Tales of Beedle the Bard merupakan kumpulan cerita pendek karya J.K. Rowling yang, konon katanya, diceritakan secara turun-temurun di dunia sihir Inggris. Salah satu ceritanya, Kisah Tiga Saudara, merupakan kunci dan penutup dari serial Harry Potter. Bagus untuk diceritakan ke anak-anak, dan mantap sebagai pelengkap sebuah serial paling terkenal di dunia.

10. SometimesEsther Marie

Sometimes adalah sebuah buku ilustratif sederhana, berisi refleksi dan memoir, renungan serta kisah, mengenai momen-momen berharga dan penuh kasih sayang yang seringkali dialami oleh sepasang sahabat. Tidak tebal, tidak panjang, namun cukup mengena.

11. The Battle of the LabyrinthRick Riordan

Buku keempat serial Percy Jackson and the Olympians merupakan pengantar menuju klimaks, puncak, dari kisah epos sang putra Poseidon. Secara individual, buku ini merupakan standalone story yang sangat baik, mengalir dan penuh refleksi, manis serta penuh aksi. Wajib dibaca oleh para penggemar serial magis/fantasi remaja.

12. Every Dead ThingJohn Connolly

Sebuah novel debut, Every Dead Thing berkisah mengenai seorang mantan detektif yang berkelana ke dunia gelap, menyusup ke lingkungan jalanan, mafia, dan penjahat-penjahat. Selama perjalanannya tersebut, ia akan bertemu dengan seorang cenayang yang tinggal di wilayah berawa yang misterius, bertempur melawan para kriminal paling berbahaya, serta menghadapi seorang pembunuh berantai yang gemar menyiksa dan membunuh anak-anak – pembunuh berantai yang sama yang memegang petunjuk kunci mengenai Si Pengembara, seorag psikopat yang telah menyiksa dan membantai istri dan anak sang mantan detektif.


Sebagaimana saya telah tuliskan di atas, setiap hari Rabu, saya akan mulai menulis ulasan-ulasan cerita pendek di sini. Oleh karena itu, pada peringatan Triwulan ini, saya tahan dulu ulasan cerita pendeknya – nanti akan saya tulis di hari Rabu.

Jadi, selamat! Dan sekali lagi, terima kasih sudah mengunjungi Baca Hujan!

Dewa-Dewa Amerika (American Gods)


Dewa-Dewa Amerika (American Gods)Setelah menjalani masa hukuman selama bertahun-tahun, seorang pria bernama Shadow akhirnya dibebaskan dari penjara. Namun, tak ada penyambutan untuknya. Istri dan sahabatnya baru saja meninggal, rumah lamanya tak lagi bisa ia datangi, dan tak ada sanak atau kerabat yang mau menampungnya.

Dihadapkan dengan kondisi tersebut, Shadow bertemu dengan Mr. Wednesday. Seorang pria misterius, Wednesday meminta Shadow untuk bekerja untuk sebagai bodyguard. Tak memiliki pilihan lain yang lebih baik, Shadow pun menerima.

Yang terjadi setelahnya adalah rangkaian kejadian paling ganjil dalam hidup Shadow: ia dan Wednesday bepergian ke berbagai tempat di Amerika, dari pesisir Barat hingga Timur, dari bagian tengah yang kosong hingga kota-kota paling besar. Bersamanya, Shadow bertemu dengan pria dan wanita, kenalan Mr. Wednesday, masing-masing lebih tua dibandingkan dunia, dan sangat, amat, sakti. Bersamanya, Shadow akan mencaritahu jati dirinya, siapa ia sebenarnya, dan takdir yang akan ia penuhi.

Namun, entitas-entitas baru telah bangkit di Amerika. Pertempuran dahsyat antara dua kubu akan segera berlangsung, untuk menentukan nasib seluruh manusia di Amerika. Shadow harus menentukan tindakannya setelahnya, karena nasib jutaan manusia – bahkan Dewa-Dewa kini berada di bahunya.

-a-

Negeri ini luas. Sebentar saja, orang-orang kita mencampakkan kita, mengingat kita hanya sebagai makhluk-makhluk dari negeri mereka dahulu, sebagai benda-benda yang tidak ikut dengan mereka ke negeri yang baru.

Hal pertama yang perlu diingat sebelum membaca Dewa-Dewa Amerika adalah: ini adalah novel fantasy. Kedua, ini adalah novel urban fantasy, yang berarti genre fantasy di dalamnya dibawakan dengan latar kehidupan urban – atau, lebih tepatnya, kehidupan sehari-hari. Dan dengan genre tersebut, dunia yang digambarkan di novel ini cukup realistis, dengan ilustrasi yang memikat mengenai Amerika, sehingga – saat pertama kali saya membaca novel ini, dan tidak mengetahui genrenya – saya mengira ini adalah novel thriller/mystery.

Gaya penceritaan di novel ini sangat unik, a la Neil Gaiman. Saya menyebutnya sebagai dreamlike, penuh metafor dan bahasa yang kadang susah dimengerti. Hal ini cukup mengganggu saya di paruh-paruh awal novel, karena bahasanya terasa panjang dan kalimat-kalimatnya seperti direntangkan. Paragraf-paragraf pun tampak padat dan tebal. Tapi, untungnya penceritaannya sendiri sangat mengalir, sehingga mudah untuk diikuti.

Plus, mungkin gaya bahasa seperti itu memang cocok untuk sebuah novel yang menceritakan Dewa-Dewi, mitologi, legenda kuno, dan kemanusiaan sekaligus.

-a-

1 - by luilouie

sumber gambar: luilouie (deviantart)

Satu hal brilian, salah satu yang paling menarik, dari American Gods adalah Neil Gaiman memasukkan unsur traveling di dalamnya. Sepanjang cerita, kita diajak mengelilingi Amerika – dari kota-kota pencakar langit dengan lalu lintas yang padat hingga apartemen kumuh di wilayah pinggiran, lalu dari gurun-gurun pasir menuju pegunungan berbatu. Ilustrasinya sangat padat, mantap, visual.

Sehingga, setiap kali saya membaca novel-novel atau buku-buku traveling lainnya, saya selalu membanding-bandingkannya dengan ini. Hingga kini, menurut saya hanya ada dua buku yang bisa menyamai – atau melebihi – visualistik yang ada di American Gods: Naked Traveler dan Edensor. Keduanya, sama seperti American Gods, memenuhi sebuah syarat suksesnya suatu kisah traveling. Syarat itu, sebagaimana telah diungkapkan dengan cemerlang oleh Cheri Lucas (editor di WordPress.com) di sini, adalah memasukkan unsur perjalanan ke dalam jiwa, bukan hanya raga.

Atau, lebih mudahnya: kita mengikuti perjalanan batin tokoh utama sepanjang perjalanan fisiknya.

Kenapa saya berkata bahwa hal tersebut sangat kuat? Karena, yah, sebagai tokoh utama, Shadow kurang sympathetic. Ia tinggi, besar, kuat, tangguh, macho, dan dia pendiam, tidak banyak bicara, kaku, serta kurang menyenangkan. Sangat sulit mendapatkan alasan kenapa pembaca harus menyukainya. Hal tersebut berpotensi menjadi bencana, karena kalau pembaca tidak bisa terhubung dengan tokoh utama, biasanya mereka akan sulit untuk terhubung dengan cerita.

Untungnya, sebagaimana saya telah tuturkan di atas, Mr. Gaiman turut membawa kita menyaksikan perkembangan Shadow – jalan pikirannya sepanjang perjalanannya, pengembaraannya, petualangannya. Beliau mengajak kita melihat bagaimana Shadow, perlahan tapi pasti, menyadari posisinya: bahwa ia, seorang manusia biasa, pria biasa, sedang terbelit perseteruan dahsyat antar Dewa-Dewi kuno dan baru. Bahwa ia akan mati, dan tak keberatan menghadapinya.

Hingga, bagaimana ia, menjelang akhir, mendapatkan jawaban akan semua pertanyaan yang telah menghantuinya sejak kecil. Jawaban yang, karenanya, membuat ia bersedia untuk kembali dan (jreng jreng!) menyelamatkan dunia.

-a-

Lebih dari seratus tahun kemudian, barulah Leif yang beruntung, putra Erik si Merah, menemukan kembali daratan itu, yang lalu disebutnya Vineland. Dewa-dewanya sudah menunggunya ketika dia tiba: Tyr, bertangan satu, dan Odin kelabu si penguasa tiang gantungan, dan Thor penguasa halilintar.

Membaca American Gods akan terasa seperti membaca Percy Jackson, tapi untuk versi dewasa, dan dalam versi yang sangat gelap serta membuat depresi. Buku ini jelas bukan untuk semua orang – di beberapa bagian, bahasa yang digunakan cukup eksplisit (meski sudah diselamatkan berkat penerjemahan Inggris ke Indonesia), plotnya rumit, dan seringkali terasa ngalor-ngidul.

Tapi, jika Anda menyukai cerita mengenai sejarah Amerika, sejarah para Dewa, dan melihat lebih dalam mengenai budaya Amerika – cara hidup penduduknya, kepercayaannya, asal-muasalnya – buku ini sangat saya rekomendasikan. Sedikit banyak buku ini juga mengajak pembacanya berpikir, bertanya-tanya, dengan bahasannya mengenai asal-muasal agama dan kepercayaan-kepercayaan kuno, serta kenapa – dan bagaimana – sebuah agama bisa menghilang dan Dewa-dewanya memudar.

by Nicolas Delort

sumber gambar: Nicolas Delort (blog)

Singkat kata, ini adalah novel urban fantasy paling serius, paling rumit, paling kompleks, namun paling memuaskan jika selesai dibaca. Not for everyone, though, tapi menurut saya pribadi kualitasnya sangat bagus. Karya Neil Gaiman di masa puncaknya.

Baca Hujan, Triwulan Satu


Triwulan PertamaTerhitung dari postingan pertama blog ini, sudah tiga bulan Baca Hujan berjalan. Tiga bulan, empat minggu, satu buku tiap minggunya: satu triwulan ditandai dengan sudah adanya dua belas buku saya ulas, pajang, dan promosikan di sini. Dua belas buku bacaan favorit saya, dari berbagai genre.

Oleh karena itu, untuk memperingati tiga bulan berjalannya Baca Hujan, saya akan melakukan sedikit ulasan singkat tentang keduabelas buku yang sudah saya ulas di sini. Diurut dari yang paling lama diposting hingga yang paling baru, dan lengkap dengan link ke masing-masing postingan ulasan.


1. Ender’s GameOrson Scott Card

Baru saja dijadikan film layar lebar, Ender’s Game membawa kita mengikuti kisah Ender Wiggin, seorang anak laki-laki jenius yang direkrut oleh pemerintah di masa depan dan dilatih untuk menjadi pemimpin pasukan perlawanan terhadap invasi Alien bersama dengan anak-anak jenius lainnya dari seluruh dunia. Sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

2. Mimpi-Mimpi EinsteinAlan Lightman

Separuh memoir separuh kumpulan jurnal mimpi, Mimpi-Mimpi Einstein berisikan tulisan-tulisan karya Alan Lightman mengenai gagasan-gagasan Einstein akan ruang dan waktu. Setiap bab adalah sebuah dunia dengan keunikan-keunikannya tersendiri, namun begitu familiar dan dekat dengan kita hingga terasa sangat nyata dan retrospektif.

3. The Age of MiraclesKaren Thompson Walker

Novel remaja yang sangat dewasa, fantastik sekaligus realistis, The Age of Miracles mengisahkan dunia yang kehilangan rotasinya. Malam dan siang terentang menjadi lebih panjang. Di tengah-tengah hancurnya peradaban, seorang remaja perempuan berefleksi pada segala perubahan yang ada – baik pada dunia, masyarakat, sekolah, teman-temannya, keluarganya, hingga dirinya sendiri.

4. Samudra di Ujung Jalan SetapakNeil Gaiman

Sebuah novel untuk anak-anak dalam diri setiap orang dewasa, Samudra di Ujung Jalan Setapak mengantarkan pembaca ke dalam dunia kanak-kanak, penuh dengan fantasi, alegori, metafor, dan imajinasi. Atau, benarkah mereka imajinasi? Jalan setapak yang dulu kita lalui, yang kita percaya mengantarkan kita ke istana naga? Ingatan tentang seorang anak perempuan yang mengaku kolam di rumahnya adalah Samudra?

5. EdensorAndrea Hirata

Buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi yang legendaris, Edensor mengisahkan perjalanan Ikal dan Arai saat berkuliah dan backpacking di Eropa. Nuansa Paris yang nikmat, Eropa yang beragam, pergaulan dan budaya yang berbeda, begitu menyentuh dalam kisah ini.

6. Vader’s Little PrincessJeffrey Brown

Sebuah fan-work dari Mr. Brown, Vader’s Little Princess membayangkan sebuah dunia di masa lalu di galaksi yang sangat, amat jauh, di mana Mr. Vader membesarkan Leia, putrinya. Menguasai seluruh galaksi, pesawat sebesar bulan, dan menghancurkan planet-planet pemberontak? Nanti dulu, karena Darth Vader harus mengantarkan Leia kecil ke sekolah.

7. The 13 ClocksJames Thurber

Novel ringan, ilustratif, dengan cerita sederhana dan didesain untuk dibaca segala usia – terutama anak-anak? Menggabungkan unsur fantasi, middle-age, sekaligus semi-fiksi ilmiah? Dengan unsur konspirasi a la kerajaan dan ksatria yang tidak klise? Silakan baca ini. Tersedia gratis untuk diunduh lho.

8. CarrieStephen King

Master genre horror Stephen King pernah berkata bahwa Carrie bukanlah karya yang ia banggakan, namun kisah seorang gadis dengan kemampuan telepati a la Jean Grey serta semi-biblical force ini telah diadaptasi ke dalam tiga film layar kaca dan memiliki fans mengglobal. Nikmati horrornya, dan betapa dekatnya kisah ini dengan aroma remaja masa kini.

9. Magical Game Time Vol. 1Zac Gorman

Senang main video game? Pernah bertualang di dunianya Zelda, Mario, Sonic, dan banyak permainan konsol lainnya? Menikmati Final Fantasy? Magical Game Time Vol. 1 adalah kumpulan karya-karya Zac Gorman; komik-komik, ilustrasi, dengan tema game. Kocak, sedih, dan keren sekaligus dalam satu buku!

10. Catching FireSuzanne Collins

Protagonis yang mandiri, kuat, jago memanah, namun tetap erat dengan jati dirinya sebagai perempuan? Sebuah TV Show a la Battle Royale yang diselenggarakan pemerintah korup? Distopia, dan konspirasi? Plus kisah cinta segitiga yang benar-benar mengena, membuat buku ini layak menjadi sekuel yang sangat kuat dari The Hunger Games.

11. SteelheartBrandon Sanderson

Sepuluh tahun sebelumnya, sebuah bola cahaya misterius muncul di langit. Orang-orang tertentu mulai mendapatkan kekuatan super di saat bersamaan, dan masyarakat – manusia biasa – menamai mereka Epics. Twist: tak ada superhero. Semuanya supervillain.

12. The Amulet of SamarkandJonathan Stroud

Sesuatu terjadi di masa lalu, sesuatu yang membuat para penyihir, alih-alih bersembunyi dari manusia biasa, justru mengambil alih pemerintahan dan membangun peradaban. Di dunia Nathaniel, para penyihir memerintah kerajaan Inggris. Twist: tidak ada tongkat sihir. Setiap penyihir membutuhkan jin untuk bisa menyihir.


Lalu, karena pada peringatan Triwulan ini saya tidak akan memposting ulasan buku, sebagai gantinya saya akan ulas sebuah cerita pendek yang sangat menarik yang saya temukan. Jadi, ini dia:

A Study in Emerald by Neil Gaiman

-o0o-

A Study in Emerald

Cerita pendek satu ini bisa dibilang semacam crossover antara Sherlock Holmes dengan Lovecraft. Dari judulnya saja bisa dibilang sudah hampir ketahuan ‘kan? A Study in Emerald dengan A Study in Scarletsalah satu kisah penyidikan legendaris Sherlock Holmes karyanya Sir Arthur Conan Doyle. Tapi, mungkin ada yang bertanya-tanya: Lovecraft itu apa ya? Atau siapa? Nah, silakan bisa dibaca dulu mengenai beliau di sini.

Mengenai ceritanya sendiri, bisa dibilang, nggak bakal seru lagi kalau saya beritahu meski hanya sedikit saja ceritanya di sini. Serius. Membaca A Study in Emerald, saya dapat feel-nya karena kagetnya. ‘Wah’-nya. Awalnya saya kira begini, lanjutnya ternyata begitu. Perasaan saya dibolak-balik dicampur-aduk sampai kaya blender. Pokoknya ‘Wah’ karena saya tidak tahu, tidak menduga. Jadinya seram juga.

So… simply, I’d say, save the surprise for the time when you’re reading it.

Cerita pendek ini bisa dibaca gratis di sini. Mr. Gaiman juga memiliki banyak koleksi cerita pendek lainnya yang bisa dibaca di situs resmi beliau. Tepatnya di sini. Selamat membaca!

Samudra di Ujung Jalan Setapak


The Ocean at the End of the Lane - Samudra di Ujung Jalan SetapakAku hanya ingat sedikit mengenai masa kanak-kanakku. Hidup di sebuah kota pinggir pantai, dengan langit yang kadang kelabu kadang cerah, suara ombak samudra tak jauh dari rumah, dan sekolah yang menyebalkan. Atau mungkin menyenangkan?

Entahlah. Seperti kubilang, aku hanya ingat sedikit mengenainya, dan setiap kali aku mencoba mengenangnya, detilnya selalu memudar, menetes-netes bagai air di genggaman. Rasanya seperti baru terbangun dari mimpi yang panjang dan mencoba membayangkannya kembali. Seolah, seluruh masa kecilku hanyalah sebuah mimpi yang sangat, amat panjang.

Dan saat ingatanmu tidak bisa kaupercaya, bagaimana kau akan mengenal siapa dirimu?

Namun, kadang yang dibutuhkan hanya hal-hal sederhana: sebuah dorongan kecil untuk membuatmu mengingat semuanya, untuk mengenal dirimu kembali. Sedikit dari kita yang menemukan hal-hal itu, pemicu ingatan dan kenangan itu. Tidak sedikit dari kita yang bahkan mencoba melupakan masa lalu. Dan di Samudra di Ujung Jalan Setapak, tokoh utama kita, Sang Protagonis Tak Bernama, berhasil menemukannya kembali.

Aku ingat itu, dan setelah ingat itu, aku ingat semuanya.

Alkisah, protagonis kita, yang juga bertindak sekaligus narator, mengingat kembali segala masa lalunya mengenai Lettie Hempstock: seorang gadis kecil yang tinggal di ujung jalan setapak bersama ibu dan neneknya. Lettie adalah anak yang ganjil, sangat aktif, dan dalam segala hal sangat berlawanan dengan Sang Protagonis yang pendiam, pemalu, penyendiri, dan kutu buku. Pertemanan mereka dimulai dengan sebuah insiden bunuh diri yang dilakukan oleh seorang penyewa di rumah protagonis. Insiden tersebut memicu kejadian-kejadian gaib yang tak terjelaskan dengan logika di kota kecil tempat protagonis kita tinggal, termasuknya di rumahnya sendiri.

Terdesak oleh makhluk-makhluk dari alam lain, kekuatan yang tak terkira, dan ancaman-ancaman mengerikan, protagonis kita meminta bantuan kepada Lettie, ibunya, serta neneknya: keluarga Hempstock, yang rupanya bukanlah wanita-wanita biasa. Bagaimana tidak? Nenek Lettie pernah menyaksikan dunia sebelum bulan tiba. Lettie sendiri berkata bahwa kolam bebek di belakang rumahnya, kolam kecil yang memicu kembali ingatan Sang Protagonis, adalah Samudra.

artist: Emiliano Ponzi

artist: Emiliano Ponzi

Samudra di Ujung Jalan Setapak adalah novel yang sangat unik. Kubilang demikian karena pertama kali aku mendengar mengenainya, ia disebut-sebut sebagai Adult Novel alias Novel Dewasa. Aku tidak kaget. Aku sudah mengenal Neil Gaiman sejak membaca Dewa-Dewa Amerika bertahun-tahun lalu, dan setelahnya, aku juga sudah membaca beberapa cerita pendeknya seperti A Study in Emerald (Sherlock Holmes dengan Lovecraftian-horror, mungkin cerita pendek paling bagus sekaligus ‘nyeleneh’ yang pernah kubaca). Intinya, beliau memang penulis yang sudah kawakan. Tidak aneh jika ia menulis novel dewasa.

Tapi, buku ini bukan sekedar novel dewasa. Jangan bayangkan adegan-adegan romansa, seks, kekerasan, dan semacamnya di sini.

Sebaliknya, membaca buku ini, awal-awalnya, membuatku bertanya-tanya kenapa ia dimasukkan ke dalam kategori Novel Dewasa, bahkan oleh penulisnya sendiri. Padahal, bahasa, cerita, dan isinya terasa masih dalam kategori remaja. Atau, bahkan, kategori anak-anak. Namun, makin ke tengah, makin ke dalam dan dipikirkan, barulah aku mengerti: Neil Gaiman bukan menulis Samudra di Ujung Jalan Setapak sebagai Novel Dewasa. Beliau menulis buku ini untuk orang-orang dewasa.

Atau, mungkin, lebih tepatnya adalah untuk anak-anak dalam diri tiap orang dewasa yang membacanya.

Orang dewasa juga tidak kelihatan seperti orang dewasa di dalamnya. Dari luar, mereka besar, tampak masa bodoh, dan selalu yakin dengan tindakan mereka. Di dalam, mereka tampak seperti diri mereka yang dulu. Seperti waktu mereka masih seumuranmu. Sesungguhnya, tidak ada orang dewasa. Tidak ada satu pun, di seluruh dunia ini.

by Subterranean Press

by Subterranean Press

Membaca Samudra di Ujung Jalan Setapak, bagiku, benar-benar nostalgik. Aku merasa sangat terhubung dengan karakter utamanya. Narasinya begitu memikat, sangat mengalir, hingga aku bisa merasakan diriku sebagai Sang Protagonis tersebut: seorang anak kecil di tengah-tengah konflik yang begitu besar, ketakutan menghadapi segala hal mengerikan yang tidak ia ketahui, takut dan khawatir pada orang dewasa, pada ayahnya, pada ibunya, dan iri pada adiknya. Penyendiri, namun tidak begitu canggung dalam berteman, terutama dengan anak-anak yang bisa mengerti pada dirinya. Berusaha belajar, meski perlahan-lahan.

Bukankah ada secercah hal-hal tersebut dalam diri kita, orang-orang dewasa? Bukankah sesekali kita juga berpikir kita mengetahui segalanya, padahal kenyataannya, kita hanya bisa tahu apa yang ada di hadapan kita? Dan bahwa itu pun kita, terkadang, meragukannya?

Lalu, apa-apa yang dituliskan oleh Neil Gaiman di buku ini juga terasa familiar. Gaya yang digunakannya sama seperti yang ia pakai dalam American Gods, Anansi Boys, Fragile Things, dan Neverwhere: halus, lembut, dan membawa pembacanya ke dunia fantasi yang imajinatif sekaligus mengerikan. Buku-buku beliau juga berbeda dengan buku-buku Fantasy lainnya yang populer belakangan ini (contoh: Twilight. Atau mungkin lebih lama lagi: Mistborn, Harry Potter, Percy Jackson, dll.). Sihir di dalamnya sesederhana kalimat, “Maka, Jadilah!” Tidak ada logika di dalamnya. Tidak ada ayunan tongkat sihir yang teratur, artifak-artifak yang harus digunakan. Tak ada penjelasan. Pembaca hanya menerima bahwa apa yang terjadi, terjadi.

Di tangan penulis yang tidak fasih, ini bisa mencelakakan. Pembaca yang menyukai hard-fantasy atau logisme bisa kesal. Tapi, Neil Gaiman membawakannya dengan fairy tale-style. Penulisannya seperti Fabel. Atau dongeng. Atau cerita sebelum tidur. Sederhana, tidak neko-neko. Dan sesungguhnya apakah cerita ini bisa nyata ataukah tidak bukan masalah: Sang Protagonis adalah pria paruh-baya, dengan ingatan yang memudar, kondisi emosi yang tidak menentu. Apakah cerita ini hanyalah sebuah mimpi panjang dari masa kecil protagonis kita? Metafor raksasa? Imajinasi, mungkin? Karena bukankah bagi anak-anak imajinatif, bayangan di lemari adalah hantu, sebuah monster bersembunyi di kolong tempat tidur, warna ubin yang berbeda adalah Lava, dan masih banyak lagi?

Dan bukankah agak sulit juga, bagi sebagian besar dari kita, untuk mengingat masa kecil kita? Seperti aku sendiri, yang hampir melupakannya? Atau mungkin, sekali lagi, menyembunyikannya?

Lalu, apakah nyata atau tidaknya ingatan kita sendiri sedemikian penting bagi kita?

artist: Neil Gaiman

“Tidak ada lulus atau gagal dalam menjadi manusia, Sayang.”

Ceritanya, narasinya, penokohannya, dan alurnya yang sangat mengalir bagai gelombang di samudra membuat buku ini, bagiku, adalah salah satu buku terbaik yang pernah kubaca. Sebuah karya terbaik Neil Gaiman untuk sisi anak-anak dalam diri orang-orang dewasa yang membacanya. Saranku, bacalah sebelum menghilang dari toko-toko buku.

Dan sapalah kembali sisi kanak-kanak kita semua!