The Fold by Peter Clines


23164927Indonesia

Ulasan kali ini bakal cukup singkat. Ini adalah novel yang baru saja saya mulai baca semalam dan berhasil saya selesaikan dalam satu kali duduk. 5 jam penuh. Buku berbahasa Inggris terakhir yang bisa membuat saya melakukan hal itu adalah Ender’s Game. Oleh karena itu, saya terdorong untuk menulis sebuah ulasan di sini. Namun, saya juga menyadari bahwa sudah sangat lama sejak saya terakhir menulis review di sini, dan ulasan saya kali ini mungkin akan terasa sedikit berantakan, jadi, saya mohon maaf sebelumnya. Terima kasih.

Jadi, mari kita mulai dengan ringkasan cerita: tokoh utama novel ini, Mike, adalah seorang manusia super, satu dari sedikit orang di dunia yang benar-benar memiliki ingatan fotografis. Selagi dia menjalani hidup normalnya sebagai seorang guru SMA di sebuah kota kecil, seorang teman lama datang mengunjunginya dan menawarkan sebuah pekerjaan: awasi sekelompok ilmuwan yang telah menciptakan sebuah alat bernama Pintu Albuquerque, sebuah mesin yang dapat “Melipat” realitas dan memungkinkan manusia untuk menempuh perjalanan dengan jarak sangat jauh dalam waktu sekejap. Mike menerima pekerjaan itu, dan selama beberapa hari pertama, segalanya tampak berjalan baik-baik saja meski para ilmuwan di sana terlihat agak gelisah mengenai Pintu yang mereka ciptakan. Kemudian, sebuah insiden terjadi, dan Mike menyadari bahwa terdapat banyak rahasia yang disimpan oleh para ilmuwan itu, bahwa mesin tersebut tidaklah seperti yang mereka duga, dan bahwa mereka harus berpacu melawan waktu untuk menghentikan masuknya bencana besar melalui Pintu tersebut menuju seluruh realita.

Baca lebih lanjut

Iklan

Rahasia Hujan by Adham T. Fusama


Rahasia HujanThriller adalah salah satu genre yang, meski bukan favorit saya, tetap memiliki nuansa dan keunikannya tersendiri bagi saya. Membaca cerita yang berada pada peralihan horor-misteri selalu membuat saya bersemangat. Rasa kejat-kejut ala cerita hantu dengan bumbu investigasi a la detektif is my cup of tea.

Oleh karena itu, saat saya mendapati adanya novel thriller baru karya dalam negeri yang kebetulan juga diterbitkan oleh penerbit yang sama yang rencananya juga akan mem-publish novel terbaru saya, saya pun segera melihatnya.

Judul novel ini adalah ‘Rahasia Hujan’. Sampulnya… menarik. Unyu-unyu gimana gitu, tapi teru teru bozu berwarna merah darah dan tersenyum tersebut cukup menarik. Tambah lagi dengan fakta bahwa novel ini berlatar di Bogor–whoa. Langsung saya beli.

Dan, sesuai request dari sang penulis, saya pun akan mencoba membuat ulasannya di sini!

Baca lebih lanjut

Stories: All New Tales, edited by Neil Gaiman and Al Sarrantonio


Stories-All New TalesPertama-tama, saya mau minta maaf karena minggu kemarin tidak nge-post review buku di sini. Sejak dua minggu lalu saya sudah berencana untuk mengulas Stories: All New Tales, sebuah buku kumpulan cerita yang dikompilasi oleh Neil Gaiman dan Al Sarrantonio, dua novelis terkemuka yang telah menerbitkan puluhan tulisan. Namun, apalah daya ternyata bukunya sangat tebal, ceritanya sangat banyak, dan masing-masing tidak bisa dibilang berformat cerita pendek (satu cerita ada yang lebih dari 7000 kata!), serta kesibukan kerja menghalangi terselesaikannya buku ini.

Oleh karena itu, sekali lagi, mohon maaf yaa.

Kemudian, mengenai buku ini. Ya, saya sebenarnya sudah memilikinya dalam format ebook sejak dua-tiga minggu silam, namun baru sepuluh hari lalu saya menemukannya dalam format mass market paperback di Periplus (sedang diskon lho!). Tertarik dengan cover-nya, dan menyadari bahwa saya biasanya lebih cepat dan lebih baik dalam membaca buku dengan format cetak, saya membelinya. Meski sudah diskon, harganya tetap sedikit membuat dompet lebih ringan, namun saya tak menyesal.

Sama sekali tidak.

Baca lebih lanjut

Cell – Stephen King


cell

  • Jenis : novel
  • Penulis : Stephen King
  • Penerbit : Simon & Schuster, Inc.
  • Tahun penerbitan : 2006
  • Format : Mass market paperback
  • ISBN : 978-1-4165-2451-9

Sebuah entry dari Stephen King untuk zombie-apocalypse genre, Cell membawa kita kepada seorang protagonis yang, pada satu hari yang cerah saat ia sedang mengantri untuk membeli es krim, menyaksikan orang-orang menjadi gila dan memakan sesama. Penyebabnya satu: The Pulse, sebuah sinyal yang entah darimana asalnya dan disebarkan ke seluruh dunia melalui jaringan seluler global. Siapa pun yang sedang menggunakan handphone, di seluruh dunia, tertransformasi menjadi kanibal ganas yang tak kenal ampun.

Atau, benarkah seperti itu yang terjadi pada mereka? Observasi lebih lanjut oleh para protagonis mengungkap bahwa para “phoners“, orang-orang yang terkena pengaruh The Pulse, sesungguhnya masih memiliki kesadaran – sebuah hive mind, yang saling terhubung satu sama lain, dan menggerakkan para phoners. Dengan peradaban yang mulai runtuh oleh para phoners, para protagonis – dipimpin oleh Clay, seorang penulis novel grafis yang mencari anak laki-lakinya – memulai perjalanan panjang menuju peradaban yang tersisa, dan orang-orang yang selamat lainnya. Mampukah mereka bertahan hidup?

-a-

Three days ago we not only ruled the earth, we had survivor’s guilt about all the other species we’d wiped out on our climb to the nirvana of round-the-clock cable news and microwave popcorn.

Salah satu novel fiksi ilmiah/horor dengan kategori post-apocalyptic pertama yang saya dengar, namun salah satu yang baru akhir-akhir ini saya baca, Cell merupakan anomali dari karya-karya Stephen King yang biasanya. Tidak ada kisah mengenai kota kecil atau lingkungan yang tertutup seperti novel-novel King yang terbaru. Alih-alih, Cell membawa pembacanya ke dalam plot yang kencang, beruntun, kejadian demi kejadian yang runut dan menusuk, dengan latar yang luas dan konflik skala global.

Sumber gambar: Joblo.com

Sumber gambar: Joblo.com

Gaya penceritaannya pun mengingatkan pada King pada masa-masa awalnya. Meski berlatar dunia yang telah runtuh, pada dasarnya, inti konflik dalam kisah ini adalah para manusia: sifat dasar keturunan Homo sapiens, spesies yang – sebagaimana dituturkan oleh Stephen King dalam Cell – merupakan makhluk paling berbahaya yang pernah ada.

Maka, pertanyaan-pertanyaan pun berlanjut: Siapa yang menciptakan The Pulse? Kenapa ia membuat semua manusia menjadi kanibal, buas, dan mengerikan? Masih adakah yang selamat? Bagaimana cara bertahan hidup di dunia yang baru ini?

-a-

What Darwin was too polite to say, my friends, is that we came to rule the earth not because we were the smartest, or even the meanest, but because we have always been the craziest, most murderous motherfuckers in the jungle.

Sebagaimana Stephen King pada biasanya, beliau tidak malu-malu dalam menggunakan narasi dan deskripsi. Gore menjamur di sana-sini, dan setiap protagonis selalu berada dalam bahaya. Siapa pun bisa mati – bahkan tokoh utama yang tampak baik, menyenangkan, dan mudah untuk disukai. Kalau ada seseorang bilang George R. R. Martin adalah penulis paling kejam, cobalah suruh dia untuk membaca novel-novelnya Stephen King. Coba lihat bagaimana pendapatnya.

Dengan kata lain, membaca novel ini perlu kebijakan lebih besar. Banyak topik-topik yang membuat tidak nyaman di dalamnya. Seks, kekerasan, psiko-horor, thriller, sebut satu per satu – perlu kehati-hatian dalam membacanya. Plotnya yang kencang, ditambah dengan penokohan yang solid, pun menambah nilai novel ini. Tak diragukan lagi, Cell – meski terkesan klise, absurd, dan kuno untuk ukuran novel post-apocalyptic genre di masa kini – merupakan kisah horor yang sangat mengena.

Rating: 4/5

Baca Hujan, Triwulan Dua


Triwulan KeduaTak terasa, sudah tiga bulan berlalu sejak Triwulan Satu. Enam bulan blog ini telah berusia, dengan setiap minggunya sebuah buku diulas di sini. 12 buku di Triwulan Dua, 24 buku di blog ini, plus satu cerita pendek.

Banyak yang telah dilalui dan dicapai oleh blog sederhana ini. Ia telah menempati posisi atas dalam beberapa pencarian ulasan buku di Google. Ia telah mencapai 2000 pengunjung di Bulan Februari kemarin. Ia telah mencapai ratusan pengikut, dan setiap minggunya, link ulasan dari Baca Hujan dilihat oleh para penghuni dari komunitas-komunitas blogger.

Oleh karena itu, untuk memperingati setengah tahun Baca Hujan, ada beberapa pengumuman yang harus diberikan. Antara lain:

  • Baca Hujan akan meningkatkan frekuensi tulisannya. Jika sebelumnya hanya setiap hari Minggu dan terbatas pada buku-buku fiksi atau memoir, Baca Hujan akan melebarkan sayap dengan mengulas buku non-fiksi di hari Rabu pada minggu kedua dan ketiga setiap bulannya.
  • Baca Hujan telah memiliki Facebook Page. Di laman tersebut, berbagai tautan menuju bacaan-bacaan menarik akan dibagikan setiap harinya. Lebih lengkapnya dapat dibaca di sini.
  • Baca Hujan telah mengadopsi Tema baru. Untuk yang berkunjung dari Tablet atau Laptop dapat menyaksikan bahwa lay-out dan tampilan telah disederhanakan, dan sekarang lebih mudah untuk bernavigasi. Silakan gunakan Menu di atas header untuk membuka laman kategori, menyortir tulisan berdasarkan kategori sasaran usia pembaca hingga genre.

Kurang lebih, itulah pengumuman dari Baca Hujan di ulang Triwulannya yang kedua ini. Sehingga, yuk kita kilas balik buku-buku apa saja yang sudah diulas Baca Hujan di Triwulan Dua ini!


1. WarbreakerBrandon Sanderson

Salah satu karya Epic Fantasy dari penulis novel remaja best-seller Steelheart, Brandon Sanderson menyajikan sebuah standalone-fantasy yang dapat dibaca online di Wattpad.com. Novel ini bercerita mengenai perseteruan antar kerajaan, politik, cinta, sihir, konspirasi, dan aksi. Sebagai tokoh-tokohnya adalah sepasang saudari putri kerajaan, seorang Dewa yang tidak memercayai agamanya sendiri, seorang Dewa Raja, dan seorang ksatria khusus yang memiliki julukan Warbreaker.

2. More Than ThisPatrick Ness

Menggabungkan fiksi ilmiah dengan surealisme, memadukan kisah remaja yang familiar dengan cerita futuristik-distopia, More Than This berkisah mengenai seorang remaja yang bunuh diri, tenggelam, di samudra, dan terbangun di sebuah dunia yang kosong. Sendirian, ia menjelajahi dunia barunya yang absen dari manusia, namun penuh tanda-tanda peradaban. Perlahan, ia mempelajari kenyataan-kenyataan yang ada – mengenai hidup dan kematian, mengenai nyata dan tidak – dan menemukan keganjilan yang tak terkatakan.

3. PenpalDathan Auerbach

Berasal dari sebuah cerita online di forum cerita horor Nosleep, Penpal berkisah mengenai seorang pria yang menelusuri masa lalunya dan mendapati ingatan-ingatan yang ganjil: foto-foto yang menakutkan, seorang gadis yang tewas, kekuatan yang tak terbayangkan, serta berbagai kengerian lainnya. Diceritakan dengan begitu mengalir a la Samudra di Ujung Jalan Setapak, Penpal membawa kita menuju rasa nostalgia yang mengerikan.

4. Aku Tahu Kamu HantuEve Shi

Sebuah karya debut, Aku Tahu Kamu Hantu berkisah mengenai seorang anak perempuan yang, pada hari ulangtahunnya, mendapatkan kekuatan yang sudah diwariskan secara turun-temurun di keluarganya. Dengan kekuatan barunya tersebut, ia berusaha memecahkan misteri hilangnya seorang anak di sekolahnya, sekaligus berjuang menyesuaikan dirinya – dengan kekuatannya tersebut – di tengah-tengah kehidupan normal. Sebuah cerita horor yang sangat efektif, modern, dan cocok untuk remaja.

5. Gelombang 5Rick Yancey

Sebuah kisah penyerbuan Alien, Rick Yancey menggambarkan apa yang terjadi apabila Alien menyerbu kita dalam gelombang demi gelombang serangan tanpa sedikit pun memasuki wilayah udara kita dan menginjak tanah di bumi. Tak ada perlawanan, tak ada yang bisa dipercaya, dan tak ada yang tersisa, dua orang remaja dan satu orang anak kecil berjuang untuk bertahan hidup di dunia pasca-Gelombang Empat. Dengan hanya sedikit sekali yang selamat, masih akan adakah Gelombang Lima? Atau, mungkinkah Gelombang Lima sudah terjadi?

6. Biarkan Aku MasukJohn Ajvide Lindqvist

Perpaduan kisah vampir klasik dengan horor modern, penulis Swedia John Ajvide Lindqvist menggambarkan kehidupan seorang anak remaja laki-laki yang mendapati tetangga barunya adalah seorang remaja perempuan, kira-kira seusia dengannya. Seiring mereka saling berkenalan, peristiwa-peristiwa ganjil mulai terjadi di kota tempat mereka tinggal, dan berbagai petunjuk membawa si anak kepada tetangganya tersebut. Mungkinkah tetangganya tak seperti yang terlihat dari luar?

7. Dewa-Dewa AmerikaNeil Gaiman

Menyabet berbagai penghargaan bergengsi di dunia, American Gods mengisahkan seorang pria yang baru saja keluar dari penjara dan menjadi sebatang kara. Tanpa tujuan, tanpa arah, dan tanpa rumah, ia bertemu dengan seorang pria paruh-baya bernama Mr. Wednesday, yang menyewanya sebagai bodyguard dan membawanya ke dalam perjalanan panjang melintasi Amerika guna menyusuri jaring-jaring konflik besar yang akan terjadi antar Dewa-Dewa Amerika.

8. The Ghost BrigadesJohn Scalzi

Sekuel dari Old Man’s War meski dapat berdiri sendiri dengan kokoh, novel ini mengisahkan masa depan yang berisi konflik berkepanjangan antara manusia dengan para ras alien di luar angkasa guna memperebutkan planet-planet yang menunjang kehidupan di galaksi. Di saat bersamaan, sebuah pengkhianatan terjadi, seorang prajurit super ditugaskan, dan sebuah pasukan dikerahkan – pasukan yang, berdasarkan kisah-kisah, dibangkitkan dari mayat orang-orang mati. Pasukan khusus yang disebut, dengan nada segan oleh seantero galaksi, sebagai Brigadir Hantu.

9. Kisah-Kisah Beedle si Juru CeritaJ.K. Rowling

Sebuah companion book untuk serial Harry Potter, Tales of Beedle the Bard merupakan kumpulan cerita pendek karya J.K. Rowling yang, konon katanya, diceritakan secara turun-temurun di dunia sihir Inggris. Salah satu ceritanya, Kisah Tiga Saudara, merupakan kunci dan penutup dari serial Harry Potter. Bagus untuk diceritakan ke anak-anak, dan mantap sebagai pelengkap sebuah serial paling terkenal di dunia.

10. SometimesEsther Marie

Sometimes adalah sebuah buku ilustratif sederhana, berisi refleksi dan memoir, renungan serta kisah, mengenai momen-momen berharga dan penuh kasih sayang yang seringkali dialami oleh sepasang sahabat. Tidak tebal, tidak panjang, namun cukup mengena.

11. The Battle of the LabyrinthRick Riordan

Buku keempat serial Percy Jackson and the Olympians merupakan pengantar menuju klimaks, puncak, dari kisah epos sang putra Poseidon. Secara individual, buku ini merupakan standalone story yang sangat baik, mengalir dan penuh refleksi, manis serta penuh aksi. Wajib dibaca oleh para penggemar serial magis/fantasi remaja.

12. Every Dead ThingJohn Connolly

Sebuah novel debut, Every Dead Thing berkisah mengenai seorang mantan detektif yang berkelana ke dunia gelap, menyusup ke lingkungan jalanan, mafia, dan penjahat-penjahat. Selama perjalanannya tersebut, ia akan bertemu dengan seorang cenayang yang tinggal di wilayah berawa yang misterius, bertempur melawan para kriminal paling berbahaya, serta menghadapi seorang pembunuh berantai yang gemar menyiksa dan membunuh anak-anak – pembunuh berantai yang sama yang memegang petunjuk kunci mengenai Si Pengembara, seorag psikopat yang telah menyiksa dan membantai istri dan anak sang mantan detektif.


Sebagaimana saya telah tuliskan di atas, setiap hari Rabu, saya akan mulai menulis ulasan-ulasan cerita pendek di sini. Oleh karena itu, pada peringatan Triwulan ini, saya tahan dulu ulasan cerita pendeknya – nanti akan saya tulis di hari Rabu.

Jadi, selamat! Dan sekali lagi, terima kasih sudah mengunjungi Baca Hujan!

Every Dead Thing: Orang-Orang Mati


Every Dead Thing (Orang-Orang Mati)Tahun 2012 menandai tertariknya saya pada buku-buku genre crime/detective. Hal tersebut dimulai dengan membeli sebuah buku berjudul The Silence of the Lambs karya Thomas Harris. Tak jauh setelahnya, saya mulai mendalami genre tersebut lebih jauh lagi. Di antara buku-buku dari genre tersebut antara lain: Sherlock Holmes yang legendaris, Jack Reacher, John Grisham, dan masih banyak lagi.

Saya mendapati bahwa genre crime/detective cukup unik karena pada dasarnya, genre tersebut bisa dimasukkan dalam kategori misteri dengan tokoh utama seorang ‘detektif’ (saya beri tanda kutip karena pada dasarnya, meski melakukan penyidikan, tidak selalu tokoh utamanya adalah detektif a la Detective Conan atau Sherlock). Dengan demikian, genre tersebut akan mengikat pembaca dalam jalinan jaring plot yang rumit, misterius, dan sulit untuk diduga, namun bukan berarti tak bisa ditebak. Dengan menjadikan tokoh utamanya seorang penyidik – dalam hal ini, manusia biasa – crime/detective membuat penulis harus bisa sepintar-pintar mungkin membangun sebuah kasus yang sulit, tak tertebak, sembari memberikan petunjuk-petunjuk di sepanjang jalan ceritanya.

Dengan kata lain, menjelang akhir cerita, penulis harus mampu menyimpulkan segala benang-benang plot yang rumit tersebut dalam satu ikatan, sedemikian rupa sehingga pembaca dapat berkata, “Oh! Begitu rupanya!” alih-alih “Waduh? Kok bisa begitu?”

Dan itu bukanlah pekerjaan yang mudah.

“Yang kita hadapi di sini sepertinya adalah pembunuhan seksual – pembunuhan seksual yang sadis.”

Every Dead Thing adalah kisah pertama dari serial Charlie Parker, seorang mantan detektif NYPD yang mengalami tragedi begitu mengerikan hingga kewarasan dan kemanusiaannya terganggu. Tanpa ampun, di bab pertama kita disuguhkan dengan penceritaan yang mengerikan mengenai tewasnya istri dan anak Charlie Parker. Ia meninggalkan keduanya untuk minum-minum di suatu malam, dan kembali ke rumah untuk mendapati keluarganya telah dikuliti oleh pembunuh berantai. Para polisi dan agensi turun tangan untuk menginvestigasi, namun selain detil-detil tambahan mengenai cara mati mereka berdua (istrinya dikuliti hidup-hidup, anaknya menyaksikan hal tersebut utuh-utuh, dst.) tak ada petunjuk lebih lanjut mengenai pelakunya selain dugaan bahwa pembunuhnya – siapa pun itu – adalah orang yang sangat sadis dan gila.

Dengan kondisi tersebut, beberapa pihak mencurigai Charlie Parker sendiri sebagai sang pelaku. Meski alibinya terbukti dan ia dinyatakan bersih, Parker mengundurkan diri dari kepolisian, berhenti minum-minum, berhenti melakukan hal-hal lainnya yang tak berguna dan memutuskan untuk mengerahkan segala daya upayanya demi menemukan pelaku sebenarnya. Petunjuk demi petunjuk ia ikuti, membawanya pada seorang dukun wanita dengan kemampuan supernatural, kelompok-kelompok mafia berbahaya, dunia bawah tanah yang kejam, dan seorang pria yang dikenal dengan sebutan Si Pengembara – The Traveler.

Kami membersihkan tanahnya hingga mayat anak itu terlihat, meringkuk seperti janin dengan kepalanya tersembunyi di balik lengan kiri. Bahkan meski sudah membusuk, kami bisa melihat jari-jarinya telah dipatahkan, meski tanpa memindahkannya aku tidak bisa yakin anak ini laki-laki atau perempuan.

Seperti yang sudah saya ungkapkan di atas, novel ini memiliki deskripsi yang sangat detil. Narasinya begitu tajam dan grandiose, penulis benar-benar memanfaatkan sudut pandang orang pertama dengan sangat baik. Kita akan mengikuti Charlie Parker sepanjang perjalanannya, dengan deskripsi pergantian lokasi – dari perkotaan dengan gedung-gedungnya menuju Louisiana dengan rawa-rawanya, bahkan ke sang dukun dan para pembunuh berantai lainnya – yang sangat terjabarkan. Beberapa bagiannya dijamin dapat membuat perut tidak enak, terutama apabila pembaca adalah orang yang sensitif.

Secara keseluruhan, saya dapat membagi novel ini ke dalam tiga plot utama: yang pertama adalah jatuhnya Parker, sang tokoh utama, ke dalam jurang dendam yang begitu dalam, yang membuatnya mampu untuk melakukan apa pun – bahkan membuatnya ditakuti oleh orang-orang dunia jalanan. Yang kedua adalah perjalanan Parker lebih dalam ke dunia gelap, ke dunia bawah tanah, bertemu dengan orang-orang berbahaya, termasuk seorang monster yang membunuh dan menyiksa anak-anak untuk kesenangan. Monster yang, terlepas dari segala kejahatannya, dapat memberinya petunjuk mengenai keberadaan Sang Pengelana.

Dan akhirnya, yang ketiga, adalah klimaks yang membawa Parker ke dunia mafia dan menghadapi Sang Pengembara sendiri.

“Aku minum-minum pada malam Jennifer dan Susan terbunuh. Aku minum banyak sekali, tidak hanya malam itu, tapi malam-malam yang lain juga. Aku minum karena banyak hal, karena tekanan pekerjaan, karena kegagalanku sebagai suami, sebagai ayah, dan mungkin juga hal lain, dari masa lalu. Kalau aku tidak jadi pemabuk, Susan dan Jennifer mungkin tidak akan mati. Jadi, aku berhenti. Sudah terlambat, tapi aku berhenti.”

Kompleks, rumit, panjang, tebal dan penuh kengerian, Every Dead Thing cukup mengejutkan dan mengagetkan dengan kisahnya yang amat berterus terang mengenai tragedi yang bisa terjadi pada siapa pun dari kita. Andaikata, suatu hari, kita dihadapkan dalam situasi seperti itu – pulang ke rumah dan mendapati keluarga kita telah dikuliti hidup-hidup oleh seorang psikopat – apa yang akan kita lakukan? Menjadi gila? Menjadi diam saja, berharap polisi akan menangkapnya, berdoa Tuhan akan membalasnya? Atau mungkin mencoba memaafkan siapa pun pelakunya?

Apa yang Charlie Parker hadapi banyak mengingatkan saya mengenai Bruce Wayne, yang menyaksikan orangtuanya dibunuh; kemudian tentang The Punisher, bahkan Spider-man. Mereka semua menghadapi tragedi, menemukan kekuatan darinya, dan merasakannya sebagai berkah sekaligus kutukan. Hal-hal tersebut sangat saya sukai dalam suatu cerita karena, alih-alih menyampaikan pesan moral secara langsung ataupun tidak langsung, penulis memancing debat moral, konflik diri, dari para pembaca. Menurut saya, hal tersebut masih sangat jarang dimiliki oleh penulis dalam negeri, padahal seharusnya lebih banyak lagi penulis yang mampu untuk melakukannya.

Alasannya ada dua: Di satu sisi, pembaca menjadi lebih kritis. Di sisi lain, pembaca menjadi turut bertanya-tanya sepanjang cerita, dan dengan mengikuti sang tokoh utama, kita menjadi mengerti penyebab-penyebab dia memilih untuk melakukan apa yang ia lakukan, apa landasan moralnya, di mana empatinya berada, dan bagaimana ia bisa mempertahankan kemanusiaannya dalam posisinya tersebut.

Dan aku memikirkan Lisa: gadis kecil gemuk dengan mata gelap, yang bereaksi buruk atas perceraian orangtuanya, dan mencari kedamaian dalam ajaran Kristianitas yang aneh di Meksiko, dan akhirnya kembali kepada ayahnya.

Every Dead Thing cocok dibaca oleh Anda yang menggemari Thomas Harris, James Patterson, Lee Child, hingga gore-nya Junji Ito. Lebih jauh lagi, jika Anda ingin membaca ini, siapkan mental dan perut Anda. Dan tentu saja, karena isi dari ceritanya, buku ini tidak begitu cocok untuk remaja hingga anak-anak – kecuali jika psikis mereka sudah siap.

Selamat membaca!