1Q84 by Haruki Murakami


1Q84Ini bukan review. Beberapa bulan lalu, saya mendapat kabar dari Mbak Ajen Angelina, seorang blogger dan teman sesama penulis dari Bogor, bahwa beliau sedang mendirikan sebuah klub baca Haruki Murakami. Lebih tepatnya, beliau sedang mengumpulkan para pembaca dan penulis lainnya untuk mengulas unsur-unsur dari novel 1Q84.

Saya bukan penggemar Murakami, tapi saya pernah membaca salah satu bukunya, Norwegian Wood, dan menurut saya, buku tersebut cukup bagus. Gaya surealisnya, begitu juga cara beliau menggunakan nama-nama ikon dari masa lampau dalam novelnya untuk memantik api nostalgia, membuat saya tertarik. 1Q84 sendiri bisa dibilang merupakan novel Haruki Murakami yang paling terkenal. Tidak heran, tebalnya yang luar biasa (sampai-sampai, dalam versi terjemahannya, buku tersebut dipecah menjadi tiga volume), dilengkapi dengan review dari berbagai situs sastra luar negeri yang sangat positif, membuat novel yang satu ini tidak mungkin tak teracuhkan oleh para pembaca. Apalagi, premisnya memperlihatkan bahwa novel ini juga ada unsur-unsur fiksi ilmiahnya.

Maka, dengan dorongan dari Mbak Ajen dan rasa penasaran tersebut, saya pun mulai membacanya pada akhir bulan Mei kemarin. Berminggu-minggu kemudian–setelah mencari waktu untuk membaca di sela-sela mengerjakan terjemahan, ujian akhir semester, dan penyusunan proposal tesis–saya pun akhirnya menyelesaikannya. Di atas, sudah saya katakan bahwa ini bukan review, tapi kalau boleh saya berkomentar secara jujur, saya ingin mengungkapkan hal ini: 1Q84 adalah buku yang paling lama saya bacaKetebalannya, ditambah dengan narasinya yang mengalir begitu perlahan, menuntut pembaca untuk memiliki kesabaran ekstra dalam menelannya. Satu-satunya hal yang terus mempertahankan saya untuk membacanya adalah rasa penasaran: apa akhir dari kisah ini? What’s the endgame? Itu, ditambah dengan karakter-karakter yang sangat menarik di volume ketiganya.

Tapi, saya takkan berkubang pada kepenulisan dan keterbacaan. Saya di sini bukan untuk me-review. Lalu, mungkin Anda akan berpikir, kenapa saya menulis ini? What’s the endgame? What’s the point? Tujuannya, sebagaimana yang sudah saya sampaikan juga di atas, adalah untuk mengulas unsur-unsur dari buku ini. Kuncinya adalah, tiap-tiap dari kami, anggota klub baca 1Q84, ditugaskan untuk membahas bagian-bagian spesifik dari novel tersebut. Di antaranya: karakter, penceritaan, plot, dan–yang ditugaskan untuk saya–latar cerita.

Baca lebih lanjut

Iklan

The Atlantis Gene by A. G. Riddle


The Atlantis GenePertama-tama, aku mau ngasihtahu kalau novel yang kutulis, Spora, akan segera diterbitkan oleh Moka Media dan saat ini sedang diadakan polling untuk memilih sampul mana yang akan dipakai. Kalau mau ikut serta, silakan kasih pilihanmu di sini!

Kedua, akhirnya aku sudah mulai kuliah lagi. Graduate School now. Buat yang sudah ngikutin tulisan-tulisanku sejak lama pasti tahu kalau aku memang ingin kuliah pascasarjana sejak lama. Kebetulan sekali, sesuai dengan targetku sejak semester-semester awal di kuliah S1 dulu, beasiswa double degree yang bisa membawaku untuk kuliah di luar negeri, tahun ini pun dibuka. Aku mendaftar, aku diterima, dan aku sudah mulai kuliah sekarang. Satu-satunya yang tersisa tinggal bagaimana caranya menguasai Bahasa Perancis dalam jangka waktu tujuh bulan sebelum tenggat ujian visa.

Sembari berkuliah, dan menunggu uang beasiswa turun, aku masih bekerja paruh-waktu di banyak tempat. Mengajar Bahasa Inggris di sana-sini, menjadi kuli di banyak tempat, dan di-hire untuk meresensi beberapa naskah. Salah satu naskah novel luar yang kuresensi baru-baru ini adalah The Atlantis Gene, novel karya penulis pendatang baru A. G. Riddle yang telah mengguncangkan dunia perbukuan Amerika saat menjadi bestselling title di Amazon. Setelah Wool, The Atlantis Gene adalah novel self-publish kedua yang meraih kesuksesan sebesar itu–bahkan kini buku ini sedang direncanakan untuk diangkat ke layar lebar.

Awalnya, aku agak ragu-ragu untuk membaca ini. Apa boleh buat, judul dan summary-nya kurang menarik. Pencarian Atlantis? Misteri asal-usul manusia? Dude, bukannya… sudah banyak sekali novel yang mengangkat topik tersebut? Apa yang membedakan novel ini dibandingkan yang lain-lainnya itu? Jawabannya, tak kusangka-sangka, muncul dalam beberapa halaman pertama novel ini, pada judul Bagian Pertama cerita ini yang terpampang besar-besar di tengah-tengah halamannya: Jakarta Burning.

Baca lebih lanjut

Stories: All New Tales, edited by Neil Gaiman and Al Sarrantonio


Stories-All New TalesPertama-tama, saya mau minta maaf karena minggu kemarin tidak nge-post review buku di sini. Sejak dua minggu lalu saya sudah berencana untuk mengulas Stories: All New Tales, sebuah buku kumpulan cerita yang dikompilasi oleh Neil Gaiman dan Al Sarrantonio, dua novelis terkemuka yang telah menerbitkan puluhan tulisan. Namun, apalah daya ternyata bukunya sangat tebal, ceritanya sangat banyak, dan masing-masing tidak bisa dibilang berformat cerita pendek (satu cerita ada yang lebih dari 7000 kata!), serta kesibukan kerja menghalangi terselesaikannya buku ini.

Oleh karena itu, sekali lagi, mohon maaf yaa.

Kemudian, mengenai buku ini. Ya, saya sebenarnya sudah memilikinya dalam format ebook sejak dua-tiga minggu silam, namun baru sepuluh hari lalu saya menemukannya dalam format mass market paperback di Periplus (sedang diskon lho!). Tertarik dengan cover-nya, dan menyadari bahwa saya biasanya lebih cepat dan lebih baik dalam membaca buku dengan format cetak, saya membelinya. Meski sudah diskon, harganya tetap sedikit membuat dompet lebih ringan, namun saya tak menyesal.

Sama sekali tidak.

Baca lebih lanjut

Congo – Michael Crichton


Congo

  • Jenis : novel
  • Penulis : Michael Crichton
  • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun penerbitan : 2012
  • Format : Mass Market Paperback
  • ISBN : 978-979-22-8627-4

Di pedalaman Kongo, sebuah tim dari Amerika Serikat mengalami musibah misterius. Tak ada seorang pun yang selamat, satu-satunya petunjuk hanyalah rekaman buram yang memperlihatkan sesosok makhluk besar menyerang anggota ekspedisi. Kegagalan tersebut dilaporkan kepada ‘pusat’ di AS yang nun jauh, yang, tak mau mengalami kegagalan misi, memutuskan untuk mengirim tim kedua.

Dr. Karen Ross, seorang peneliti wanita yang sudah lama menunggu-nunggu kesempatan seperti ini, ditugaskan untuk memimpin. Tergabung dalam timnya adalah Dr. Peter Elliot, seorang ahli primata, Amy, gorila betina yang bisa berbahasa isyarat, serta orang-orang kawakan lainnya. Bersama, mereka berangkat ke Kongo, bertekad menyelesaikan misi yang dirintis oleh tim pertama.

Namun, semakin masuk ke pedalaman, berbagai rintangan menanti mereka. Perang saudara membuat para pemberontak merambahi hutan, memberikan bahaya kepada anggota ekspedisi. Hutan yang luas, lebat, dan penuh hal-hal ganjil pun menghalangi mereka. Serta, tak lupa, masih ada kawanan makhluk yang sangat cerdas – makhluk yang sama yang menghabisi tim pertama dan sempat terekam di video. Mampukah mereka menyelesaikan misi?

Baca lebih lanjut

Baca Hujan, Triwulan Dua


Triwulan KeduaTak terasa, sudah tiga bulan berlalu sejak Triwulan Satu. Enam bulan blog ini telah berusia, dengan setiap minggunya sebuah buku diulas di sini. 12 buku di Triwulan Dua, 24 buku di blog ini, plus satu cerita pendek.

Banyak yang telah dilalui dan dicapai oleh blog sederhana ini. Ia telah menempati posisi atas dalam beberapa pencarian ulasan buku di Google. Ia telah mencapai 2000 pengunjung di Bulan Februari kemarin. Ia telah mencapai ratusan pengikut, dan setiap minggunya, link ulasan dari Baca Hujan dilihat oleh para penghuni dari komunitas-komunitas blogger.

Oleh karena itu, untuk memperingati setengah tahun Baca Hujan, ada beberapa pengumuman yang harus diberikan. Antara lain:

  • Baca Hujan akan meningkatkan frekuensi tulisannya. Jika sebelumnya hanya setiap hari Minggu dan terbatas pada buku-buku fiksi atau memoir, Baca Hujan akan melebarkan sayap dengan mengulas buku non-fiksi di hari Rabu pada minggu kedua dan ketiga setiap bulannya.
  • Baca Hujan telah memiliki Facebook Page. Di laman tersebut, berbagai tautan menuju bacaan-bacaan menarik akan dibagikan setiap harinya. Lebih lengkapnya dapat dibaca di sini.
  • Baca Hujan telah mengadopsi Tema baru. Untuk yang berkunjung dari Tablet atau Laptop dapat menyaksikan bahwa lay-out dan tampilan telah disederhanakan, dan sekarang lebih mudah untuk bernavigasi. Silakan gunakan Menu di atas header untuk membuka laman kategori, menyortir tulisan berdasarkan kategori sasaran usia pembaca hingga genre.

Kurang lebih, itulah pengumuman dari Baca Hujan di ulang Triwulannya yang kedua ini. Sehingga, yuk kita kilas balik buku-buku apa saja yang sudah diulas Baca Hujan di Triwulan Dua ini!


1. WarbreakerBrandon Sanderson

Salah satu karya Epic Fantasy dari penulis novel remaja best-seller Steelheart, Brandon Sanderson menyajikan sebuah standalone-fantasy yang dapat dibaca online di Wattpad.com. Novel ini bercerita mengenai perseteruan antar kerajaan, politik, cinta, sihir, konspirasi, dan aksi. Sebagai tokoh-tokohnya adalah sepasang saudari putri kerajaan, seorang Dewa yang tidak memercayai agamanya sendiri, seorang Dewa Raja, dan seorang ksatria khusus yang memiliki julukan Warbreaker.

2. More Than ThisPatrick Ness

Menggabungkan fiksi ilmiah dengan surealisme, memadukan kisah remaja yang familiar dengan cerita futuristik-distopia, More Than This berkisah mengenai seorang remaja yang bunuh diri, tenggelam, di samudra, dan terbangun di sebuah dunia yang kosong. Sendirian, ia menjelajahi dunia barunya yang absen dari manusia, namun penuh tanda-tanda peradaban. Perlahan, ia mempelajari kenyataan-kenyataan yang ada – mengenai hidup dan kematian, mengenai nyata dan tidak – dan menemukan keganjilan yang tak terkatakan.

3. PenpalDathan Auerbach

Berasal dari sebuah cerita online di forum cerita horor Nosleep, Penpal berkisah mengenai seorang pria yang menelusuri masa lalunya dan mendapati ingatan-ingatan yang ganjil: foto-foto yang menakutkan, seorang gadis yang tewas, kekuatan yang tak terbayangkan, serta berbagai kengerian lainnya. Diceritakan dengan begitu mengalir a la Samudra di Ujung Jalan Setapak, Penpal membawa kita menuju rasa nostalgia yang mengerikan.

4. Aku Tahu Kamu HantuEve Shi

Sebuah karya debut, Aku Tahu Kamu Hantu berkisah mengenai seorang anak perempuan yang, pada hari ulangtahunnya, mendapatkan kekuatan yang sudah diwariskan secara turun-temurun di keluarganya. Dengan kekuatan barunya tersebut, ia berusaha memecahkan misteri hilangnya seorang anak di sekolahnya, sekaligus berjuang menyesuaikan dirinya – dengan kekuatannya tersebut – di tengah-tengah kehidupan normal. Sebuah cerita horor yang sangat efektif, modern, dan cocok untuk remaja.

5. Gelombang 5Rick Yancey

Sebuah kisah penyerbuan Alien, Rick Yancey menggambarkan apa yang terjadi apabila Alien menyerbu kita dalam gelombang demi gelombang serangan tanpa sedikit pun memasuki wilayah udara kita dan menginjak tanah di bumi. Tak ada perlawanan, tak ada yang bisa dipercaya, dan tak ada yang tersisa, dua orang remaja dan satu orang anak kecil berjuang untuk bertahan hidup di dunia pasca-Gelombang Empat. Dengan hanya sedikit sekali yang selamat, masih akan adakah Gelombang Lima? Atau, mungkinkah Gelombang Lima sudah terjadi?

6. Biarkan Aku MasukJohn Ajvide Lindqvist

Perpaduan kisah vampir klasik dengan horor modern, penulis Swedia John Ajvide Lindqvist menggambarkan kehidupan seorang anak remaja laki-laki yang mendapati tetangga barunya adalah seorang remaja perempuan, kira-kira seusia dengannya. Seiring mereka saling berkenalan, peristiwa-peristiwa ganjil mulai terjadi di kota tempat mereka tinggal, dan berbagai petunjuk membawa si anak kepada tetangganya tersebut. Mungkinkah tetangganya tak seperti yang terlihat dari luar?

7. Dewa-Dewa AmerikaNeil Gaiman

Menyabet berbagai penghargaan bergengsi di dunia, American Gods mengisahkan seorang pria yang baru saja keluar dari penjara dan menjadi sebatang kara. Tanpa tujuan, tanpa arah, dan tanpa rumah, ia bertemu dengan seorang pria paruh-baya bernama Mr. Wednesday, yang menyewanya sebagai bodyguard dan membawanya ke dalam perjalanan panjang melintasi Amerika guna menyusuri jaring-jaring konflik besar yang akan terjadi antar Dewa-Dewa Amerika.

8. The Ghost BrigadesJohn Scalzi

Sekuel dari Old Man’s War meski dapat berdiri sendiri dengan kokoh, novel ini mengisahkan masa depan yang berisi konflik berkepanjangan antara manusia dengan para ras alien di luar angkasa guna memperebutkan planet-planet yang menunjang kehidupan di galaksi. Di saat bersamaan, sebuah pengkhianatan terjadi, seorang prajurit super ditugaskan, dan sebuah pasukan dikerahkan – pasukan yang, berdasarkan kisah-kisah, dibangkitkan dari mayat orang-orang mati. Pasukan khusus yang disebut, dengan nada segan oleh seantero galaksi, sebagai Brigadir Hantu.

9. Kisah-Kisah Beedle si Juru CeritaJ.K. Rowling

Sebuah companion book untuk serial Harry Potter, Tales of Beedle the Bard merupakan kumpulan cerita pendek karya J.K. Rowling yang, konon katanya, diceritakan secara turun-temurun di dunia sihir Inggris. Salah satu ceritanya, Kisah Tiga Saudara, merupakan kunci dan penutup dari serial Harry Potter. Bagus untuk diceritakan ke anak-anak, dan mantap sebagai pelengkap sebuah serial paling terkenal di dunia.

10. SometimesEsther Marie

Sometimes adalah sebuah buku ilustratif sederhana, berisi refleksi dan memoir, renungan serta kisah, mengenai momen-momen berharga dan penuh kasih sayang yang seringkali dialami oleh sepasang sahabat. Tidak tebal, tidak panjang, namun cukup mengena.

11. The Battle of the LabyrinthRick Riordan

Buku keempat serial Percy Jackson and the Olympians merupakan pengantar menuju klimaks, puncak, dari kisah epos sang putra Poseidon. Secara individual, buku ini merupakan standalone story yang sangat baik, mengalir dan penuh refleksi, manis serta penuh aksi. Wajib dibaca oleh para penggemar serial magis/fantasi remaja.

12. Every Dead ThingJohn Connolly

Sebuah novel debut, Every Dead Thing berkisah mengenai seorang mantan detektif yang berkelana ke dunia gelap, menyusup ke lingkungan jalanan, mafia, dan penjahat-penjahat. Selama perjalanannya tersebut, ia akan bertemu dengan seorang cenayang yang tinggal di wilayah berawa yang misterius, bertempur melawan para kriminal paling berbahaya, serta menghadapi seorang pembunuh berantai yang gemar menyiksa dan membunuh anak-anak – pembunuh berantai yang sama yang memegang petunjuk kunci mengenai Si Pengembara, seorag psikopat yang telah menyiksa dan membantai istri dan anak sang mantan detektif.


Sebagaimana saya telah tuliskan di atas, setiap hari Rabu, saya akan mulai menulis ulasan-ulasan cerita pendek di sini. Oleh karena itu, pada peringatan Triwulan ini, saya tahan dulu ulasan cerita pendeknya – nanti akan saya tulis di hari Rabu.

Jadi, selamat! Dan sekali lagi, terima kasih sudah mengunjungi Baca Hujan!

The Ghost Brigades


The Ghost BrigadesBayangkan dunia dimana manusia telah menguasai teknologi yang memungkinkan kita untuk menjelajah bintang tanpa hambatan. Kita bisa membangun koloni, memenuhi mimpi-mimpi petualangan antariksa, bahkan berinteraksi dengan Alien sebagai sesama sederajat. Sayangnya, planet yang dapat menopang kehidupan untuk koloni begitu terbatas. Eksplorasi dan terraforming cukup sulit dan lama untuk dilakukan, dan para Alien berani untuk berperang guna memperebutkan planet-planet tersebut.

Maka: kita bertempur. Di masa depan ini, para lansia dari bumi berbondong-bondong mendaftar menjadi tentara luar angkasa. Tugas mereka adalah melindungi koloni dari serangan makhluk asing, dan – sesekali – menyerbu planet-planet yang sudah dikoloni ras Alien guna kita tinggali. Begitu para lansia menginjak usia 75 tahun, mereka akan diberangkatkan ke luar angkasa, diluncurkan jauh dari bumi, dengan tubuh ‘dipermak’ habis-habisan hingga siap untuk berperang.

Kekurangannya: beberapa lansia yang sudah mendaftar tidak berhasil menginjak usia 75 tahun.

Untungnya, dengan teknologi yang supercanggih, koloni dapat menciptakan prajurit-prajurit dari mereka yang sudah mati. Berkemampuan tinggi, memiliki fisik yang melebihi bahkan rata-rata pasukan koloni dan Alien pada umumnya, mereka disegani seantero galaksi. Karena asal-muasal mereka tersebut, mereka disebut sebagai Brigadir Hantu – The Ghost Brigades.

-a-

“I want to understand him. I want to know what it takes to make someone do this. What makes them a traitor,” Jared said.

“You would be surprised at how little it takes,” Cainen said. “Something even as simple as kindness from an enemy.”

Itu adalah premise dasar novel ini, The Ghost Brigades, yang merupakan sekuel dari Old Man’s War karya John Scalzi. Sebagaimana karya-karya fiksi ilmiah dengan setting luar angkasa seperti Ender’s Game, Star Wars, Star Trek, hingga Firefly, TGB adalah kisah space opera dengan skala besar. Bersetting di universe yang sama dengan OMW, TGB memiliki plot yang secara langsung memperluas dan mendeskripsikan dunianya dengan lebih detil.

Perbedaan nyata terdapat pada protagonis. Di Old Man’s War, protagonis kita adalah seorang pria tua dari bumi yang dipermak menjadi prajurit luar angkasa dan bertempur di dunia nun jauh di luar angkasa, sedangkan dalam TGB, kita mengikuti seorang prajurit Brigadir Hantu – seorang pemuda bernama Jared – yang dilahirkan, langsung dalam bentuk fisik dan mental dewasa, untuk alasan yang sangat khusus.

Latar belakang mulainya cerita ini adalah pembelotan seorang manusia. Ia, seorang diri, bertekad untuk menjatuhkan pemerintahan koloni manusia dengan memanfaatkan tiga ras Alien sekaligus, menyatukan mereka, dan mengarahkan mereka kepada konflik besar melawan manusia. Lebih celaka lagi, ia juga merupakan orang penting – salah satu ilmuwan yang mengembangkan teknik ‘permak’ lansia menjadi prajurit luar angkasa.

Sehingga, sekali lagi, Jared pun dilahirkan dengan satu alasan khusus: ‘mengatasi’ ancaman dari orang tersebut.

-a-

“It was interesting what you could do, when your enemy was officially your ally.  And unaware you knew it was your enemy.”

Bersama dengan Brigadir Hantu yang lainnya, Jared mengikuti perang demi perang, pertempuran demi pertempuran. Berbeda dari pasukan koloni yang biasa, Brigadir Hantu lebih sering ditugaskan dalam misi-misi penyerbuan ke koloni Alien, pesawat Alien, atau bahkan planet-planet utama ras-ras non-manusia. Bahkan, tak jarang pula mereka diterjunkan dalam misi-misi yang bersifat politis: penculikan, mengancam ras-ras makhluk asing agar tak melawan manusia, hingga genosida.

Dalam novel ini, dengan gamblang Mr. Scalzi menggambarkan konflik moral yang menarik: seberapa pentingkah manusia hingga kita menganggap diri kita layak untuk memperlakukan ras makhluk asing seperti itu? Jared, sang protagonis, mempertanyakan setiap misi yang diberikan padanya. Bahkan, seorang Alien menunjukkan padanya bahwa setidaknya para Alien yang bertempur memiliki pilihan untuk berperang atau mundur. Sangat kontras dengan Jared – dan pasukan Brigadir Hantu – yang tak memiliki pilihan. Mereka dilahirkan dengan tujuan untuk bertempur.

Dan, tentu saja, untuk membunuh.

Jadi, apakah membunuh satu sama lain, melakukan genosida ras-ras lain, adalah sesuatu yang dibolehkan demi melindungi spesies kita sendiri?

Apakah, meski teknologi sudah semaju dan sehebat itu, kita masih saja mengikuti hukum paling primitif yang ada di alam: yang kuat adalah yang menang?

-a-

“You are born to protect humanity. And you are designed for it. Everything in you down to your genes reflects that purpose.”

Meski padat akan aksi, memiliki universe yang matang dan luas, sistem teknologi yang baik dan konsisten, nilai jual utama novel ini tetap terdapat pada konflik-konflik sosialnya. Secara pribadi, saya sangat menyukai kisah-kisah seperti ini: Mr. Scalzi bisa mengangkat pertanyaan-pertanyaan mengenai moral, memberikan pesan-pesan kepada pembaca, tanpa harus menjadikan sebuah novel sebagai naskah pidato.

Bahasa mudahnya: novel ini memiliki pesan moral meski banyak ledakan-ledakan.

Contoh karya fiksi lainnya yang memiliki hal serupa adalah Trilogi The Dark Knight karya Christopher Nolan. Oleh beliau, ketiga film tersebut mengangkat isu kepahlawanan, moral, sosial, ekonomi, kejahatan, kriminal, korupsi, hingga kebobrokan sistem tanpa mengorbankan unsur aksi dan cerita. Kita mendapatkan pesan-pesan sepanjang cerita, bukan pesan-pesan sebagai cerita.

Dan menurut saya, setiap penulis yang mampu melakukan hal tersebut wajib diacungi jempol.

-a-

The Ghost Brigades bisa dipesan dan dibeli di toko buku impor, atau di toko buku digital seperti iBooks Store, Amazon Kindle, dll. Sangat saya rekomendasikan untuk penggemar genre fiksi ilmiah yang tak takut untuk membaca cerita dengan tema yang rumit dan kompleks.