Steelheart


SteelheartSepuluh tahun sebelumnya, sebuah bola cahaya yang disebut ‘Calamity’ muncul di langit. Saat yang sama, manusia-manusia mulai mendapatkan kekuatan super. Publik menyebut mereka sebagai ‘Epics’, dan banyak dari mereka memberi reaksi (standar) manusia saat mendapati superhumans berjalan bersama mereka: kagum, takjub, takut, ngeri, dan berharap.

Namun, ada satu masalah: seluruh Epics adalah penjahat. Ya, di dunia yang baru ini, tidak ada superhero. Only supervillains ruled. Di sebuah kota yang dulunya adalah Chicago, seorang Epics berkuasa dengan tangan besi. Seorang Epics bernama Steelheart, dengan kemampuan mengubah barang apapun menjadi baja, menembakkan energi dari telapak tangan, dan tak bisa dilukai oleh peluru, meriam, rudal, pedang, pisau, atau senjata apa pun yang dikenal. Epics merajai jalanan, dan manusia biasa mati-matian mencoba hidup dalam rezim yang baru tersebut. Tak ada yang melawan. Tak ada, kecuali para Reckoners.

Dan seorang pemuda bernama David ingin bergabung. Bertahun-tahun sebelumnya, ia telah menyaksikan sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang banyak orang mengira mustahil: ia melihat Steelheart terluka. Dia memiliki rahasia untuk mengalahkan Steelheart, dan dia ingin membalas dendam.

***

Epics had a distinct, even incredible, lack of morals or conscience. That bothered some people, on a philosophical level. Theorists, scholars. They wondered at the sheer inhumanity many Epics manifested. Did the Epics kill because Calamity chose—for whatever reason—only terrible people to gain powers? Or did they kill because such amazing power twisted a person, made them irresponsible?

Ada beberapa hal yang membuat cerita-cerita superhero seringkali gagal: pertama, kisah mereka menampilkan orang keren dengan kekuatan keren yang tentu saja tidak dimiliki pembaca-pembaca mereka yang tidak keren. Kedua, kisah mereka cliche. That’s it. Kisah yang klise bisa menjadi bagus, namun sangat mudah diprediksi.

Untungnya, hal yang sama tidak terjadi pada Steelheart. Dengan cerdas Mr. Sanderson meramu buku ini menjadi sesuatu yang klise tapi tidak mudah diprediksi. Sebagai awal mula, sebagaimana yang sudah saya tuliskan di atas, there are no heroes. Para jagoan kita, para tokoh protagonis, adalah manusia biasa yang memiliki tekad kuat untuk membasmi para Epics. Caranya? Dengan membunuh, tentu saja. Setiap Epics memiliki kelemahan, dan jika kelemahan tersebut berhasil diketahui, maka ia bisa dibunuh. Kelemahannya bisa apa saja, dari takut pada semut hingga kekuatan yang hilang jika sedang berciuman, tapi mereka semua memiliki satu.

Dan tahukah? Satu-satunya cara para Reckoners untuk bisa mengetahui kelemahan tersebut adalah dengan mengamati para Epics. Meneliti. Mencari tahu. Knowledge is power, after all.

Maka, saat David, seorang pemuda yang pernah bertatap muka dengan Steelheart jauh di masa lalu, yang pernah menyaksikan ayahnya, seorang pria biasa yang kebetulan berada di Bank, melukai Steelheart, para Reckoners mau tak mau mendengarkan ceritanya. Dan misi terbesar untuk mereka pun dimulai: menjatuhkan Steels dengan kekuatan layaknya gabungan Superman dan Black Adam.

Setiap tokoh di cerita ini mendapatkan suara mereka. Itu yang kusenang dari cerita ini: setiap tokoh memiliki kehidupan, jiwa, tersendiri. Tidak ada tokoh yang kosong, kecuali (yang sangat disayangkan) para Epics sendiri. Karena mereka digambarkan sebagai pure evil, pure brutality, rasanya saya tak bisa memahami mereka. Namun mungkin itulah inti cerita ini: sebuah kisah klasik-klise, pertarungan antara kebaikan melawan kejahatan. Putih melawan hitam. Manusia melawan monster. Klise. Tapi seru.

Fan art by ArchetypeAngel

Steelheart. Fan art by ArchetypeAngel

Setiap babnya memiliki cliffhanger dalam skala epik: tak mungkin rasanya meletakkan buku ini sebelum selesai membacanya. Narasinya luar biasa, sangat mengalir, mengingatkan saya kepada Harry Potter yang legendaris. Tambahkan dengan alur yang berbelok sana-sini, tidak bisa ditebak, tapi masuk akal. 

Hasilnya? Sangat bagus sebagai buku pertama dalam trilogi Reckoners yang baru dari Brandon Sanderson. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, masih banyak bagian dari dunia yang baru ini untuk dibahas, tapi mengingat reputasi Brandon Sanderson sebagai pengarang Mistborn Trilogy, penutup Wheel of Time series dengan A Memory of Light, dan banyak lagi serial-serial karangannya, saya yakin cerita yang akan diberikan nantinya akan jauh lebih banyak juga.

Iklan