Rahasia Hujan by Adham T. Fusama


Rahasia HujanThriller adalah salah satu genre yang, meski bukan favorit saya, tetap memiliki nuansa dan keunikannya tersendiri bagi saya. Membaca cerita yang berada pada peralihan horor-misteri selalu membuat saya bersemangat. Rasa kejat-kejut ala cerita hantu dengan bumbu investigasi a la detektif is my cup of tea.

Oleh karena itu, saat saya mendapati adanya novel thriller baru karya dalam negeri yang kebetulan juga diterbitkan oleh penerbit yang sama yang rencananya juga akan mem-publish novel terbaru saya, saya pun segera melihatnya.

Judul novel ini adalah ‘Rahasia Hujan’. Sampulnya… menarik. Unyu-unyu gimana gitu, tapi teru teru bozu berwarna merah darah dan tersenyum tersebut cukup menarik. Tambah lagi dengan fakta bahwa novel ini berlatar di Bogor–whoa. Langsung saya beli.

Dan, sesuai request dari sang penulis, saya pun akan mencoba membuat ulasannya di sini!

Baca lebih lanjut

Iklan

A Street Dream: The Evergreen Architecture by Angel G


A Street Dream-The Evergreen ArchitectureKadang, saya menemukan sebuah buku yang membuat saya berhenti dan berpikir: bagus sekali sampulnya! Ya, saya biasanya bukan tipe orang yang menghakimi sebuah buku hanya dari sampulnya, tapi jelas bahwa sebuah sampul buku akan bisa memengaruhi apakah seseorang akan membacanya atau tidak. Dan sampul buku ini–hal pertama yang saya lihat–sangat memukau.

Sebelum saya mulai, saya harus mengakui bahwa buku ini saya peroleh sejak lebih dari sebulan yang lalu. Saya sudah berjanji untuk mengulasnya dalam jangka waktu kurang dari tiga puluh hari. Saya membacanya, mendapati isinya begitu menarik dan mengalir, dan saya menutupnya dengan pikiran untuk segera membuat ulasannya. Tentu saja, rencana yang paling ingin dilakukan terkadang justru paling telat. Sayang sekali. Satu-satunya pembelaan yang dapat saya lakukan hanyalah ini: crazy workhour. I’ve just gotten myself a new teaching job, also there’s a new ongoing project from a publishing house…

Jadi, untuk menyingkat ini (dan saya yakin beberapa dari teman-teman sudah mulai bete :mrgreen: ), mari masuk langsung ke bagian ulasannya. Baca lebih lanjut

Sandman: Ramadan by Neil Gaiman


Sandman - RamadanHampir satu bulan penuh sejak saya menulis ulasan buku di sini. Selama itu pula, saya telah mendaftar wisuda, melamar kerja, diundang ke wawancara, ditolak, pulang, introspeksi diri, minum-minum (kopi susu), lalu melamar lagi, diundang wawancara, tes praktek, dan diterima. Tak lupa, negara-negara jatuh, perang dimulai dan akan berakhir, jiwa datang dan pergi. Begitu banyak yang terjadi hanya dalam rentang waktu tiga puluh hari; waktu terus mengalir sementara kita melupakan banyak hal.

Ruang dan waktu. Space and time. Belakangan ini, sejak saya menyadari betapa besarnya kekuatan yang disimpan waktu terhadap kita semua, saya mulai membongkar-bongkar kembali arsip-arsip lama saya. Kardus demi kardus yang ada di rumah saya buka, dan, voila! Setumpuk buku novel lama, mass market paperback dari luar negeri, komik-komik Doraemon, Kung Fu Komang, Captain Tsubasa, dan, yang paling menarik perhatian saya: Sandman.

Bertahun-tahun silam, saya menemukan satu bagian di toko buku emperan di dekat Universitas Indonesia (tempatnya sekarang sudah dipindah, entah ke mana). Di sana, dijual banyak  buku-buku impor dan menjadi salah satu sasaran utama saya kalau mau mencari buku berbahasa Inggris yang tidak diterbitkan di Indonesia. Sebagian besar murah, karena bekas, dan dalam kondisi tidak bagus, tapi kontennya masih sama. Serial Sandman adalah serial komik yang saya beli di sana dengan harga yang bagus. Sebelum saya tahu mengenai novel-novelnya, inilah karya Neil Gaiman pertama yang saya baca.

Dan, tentu saja, Sandman: Ramadan stood out sebagai salah satu karya Sandman yang paling saya suka dari beliau.

Baca lebih lanjut

Stories: All New Tales, edited by Neil Gaiman and Al Sarrantonio


Stories-All New TalesPertama-tama, saya mau minta maaf karena minggu kemarin tidak nge-post review buku di sini. Sejak dua minggu lalu saya sudah berencana untuk mengulas Stories: All New Tales, sebuah buku kumpulan cerita yang dikompilasi oleh Neil Gaiman dan Al Sarrantonio, dua novelis terkemuka yang telah menerbitkan puluhan tulisan. Namun, apalah daya ternyata bukunya sangat tebal, ceritanya sangat banyak, dan masing-masing tidak bisa dibilang berformat cerita pendek (satu cerita ada yang lebih dari 7000 kata!), serta kesibukan kerja menghalangi terselesaikannya buku ini.

Oleh karena itu, sekali lagi, mohon maaf yaa.

Kemudian, mengenai buku ini. Ya, saya sebenarnya sudah memilikinya dalam format ebook sejak dua-tiga minggu silam, namun baru sepuluh hari lalu saya menemukannya dalam format mass market paperback di Periplus (sedang diskon lho!). Tertarik dengan cover-nya, dan menyadari bahwa saya biasanya lebih cepat dan lebih baik dalam membaca buku dengan format cetak, saya membelinya. Meski sudah diskon, harganya tetap sedikit membuat dompet lebih ringan, namun saya tak menyesal.

Sama sekali tidak.

Baca lebih lanjut

Congo – Michael Crichton


Congo

  • Jenis : novel
  • Penulis : Michael Crichton
  • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun penerbitan : 2012
  • Format : Mass Market Paperback
  • ISBN : 978-979-22-8627-4

Di pedalaman Kongo, sebuah tim dari Amerika Serikat mengalami musibah misterius. Tak ada seorang pun yang selamat, satu-satunya petunjuk hanyalah rekaman buram yang memperlihatkan sesosok makhluk besar menyerang anggota ekspedisi. Kegagalan tersebut dilaporkan kepada ‘pusat’ di AS yang nun jauh, yang, tak mau mengalami kegagalan misi, memutuskan untuk mengirim tim kedua.

Dr. Karen Ross, seorang peneliti wanita yang sudah lama menunggu-nunggu kesempatan seperti ini, ditugaskan untuk memimpin. Tergabung dalam timnya adalah Dr. Peter Elliot, seorang ahli primata, Amy, gorila betina yang bisa berbahasa isyarat, serta orang-orang kawakan lainnya. Bersama, mereka berangkat ke Kongo, bertekad menyelesaikan misi yang dirintis oleh tim pertama.

Namun, semakin masuk ke pedalaman, berbagai rintangan menanti mereka. Perang saudara membuat para pemberontak merambahi hutan, memberikan bahaya kepada anggota ekspedisi. Hutan yang luas, lebat, dan penuh hal-hal ganjil pun menghalangi mereka. Serta, tak lupa, masih ada kawanan makhluk yang sangat cerdas – makhluk yang sama yang menghabisi tim pertama dan sempat terekam di video. Mampukah mereka menyelesaikan misi?

Baca lebih lanjut

Dekut Burung Kukuk (The Cuckoo’s Calling) – Robert Galbraith


The Cuckoo's Calling (Dekut Burung Kukuk)

  • Jenis : novel
  • Penulis : Robert Galbraith
  • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun penerbitan : 2014
  • Format : Paperback
  • ISBN : 978-602-03-0062-7

Pasca perkenalan saya dengan crime/detective, saya mulai membaca lebih banyak lagi buku-buku dari genre tersebut. Mengetahui genre kegemaran baru saya tersebut, beberapa teman di forum pembaca online menyarankan saya untuk membaca buku-buku crime/detective ternama.

Namun, sebagian besar yang disarankan oleh mereka adalah buku-buku yang sangat klasik: Sherlock, Agatha Christie – buku-buku yang, meski saya akui kualitasnya, tidak terlalu masuk dalam selera saya. Saya menginginkan buku detektif yang lebih modern, lebih realistis, yang sesuai dengan kehidupan di jaman sekarang ini. Misalnya: karya-karya John Connolly, Lee Child, dan Robert Ludlum.

Saat seorang anggota forum menyarankan saya untuk membaca sebuah crime/detective baru berjudul “The Cuckoo’s Calling”, karya Robert Galbraith, awalnya saya skeptis. Siapa Mr. Galbraith ini? Buku tersebut sepertinya adalah karya pertamanya. Apakah memang bagus dan layak dibaca?

Rujukan-rujukan dari Goodreads, Amazon, pun saya cek. Saat itu, ratingnya di GR hampir mencapai 4,3. Di Amazon hampir 5 bintang. Jadi, saya pikir lagi, “Kenapa tidak”. Saya pun membelinya, dan membacanya.

Saya sangat bersyukur melakukannya. Karena, terlepas dari ‘drama penulis’ yang menerpa berikutnya (dan mungkin sudah teman-teman ketahui juga), buku ini sangat menarik.


“Dengan bergulung-gulung berita cetak dan berjam-jam acara televisi yang dicurahkan untuk membahas topik meninggalnya Lula Landry, jarang sekali muncul pertanyaan ini: mengapa kita peduli?”

The Cuckoo’s Calling dibuka dengan sangat klasik: sebuah kasus baru saja terjadi, melibatkan seorang yang sangat terkenal sampai-sampai banyak wartawan berkerumun di TKP. Polisi menyidik kejadian tersebut, media menghembuskan cerita-ceritanya, dan sebuah kesimpulan tercapai: sang korban, artis sekaligus model yang sedang naik daun bernama Lula Landry, tewas karena bunuh diri. Case closed?

Tidak menurut John Bristow, saudara tiri Lula. Tak puas dengan kesimpulan yang dicapai para polisi, John meminta bantuan jasa dari Cormoran Strike, seorang veteran perang sekaligus penyidik swasta yang baru saja kedatangan pegawai magang bernama Robin Ellacott. Meski awalnya enggan untuk menyelidiki kasus yang sudah ditutup oleh polisi, Strike setuju untuk membantu John. Alasannya ada dua: hubungan persahabatannya dengan Charlie Bristow, saudara laki-laki John yang meninggal bertahun-tahun silam, dan tuntutan untuk mendapatkan uang.

Maka, Strike mulai menyelidiki. Ia menelusuri jejak kejadian perkara, mengamati TKP, dan mendatangi orang-orang yang dekat dengan Sang Burung Kukuk (The Cuckoo), panggilan populer untuk Lula. Melalui penyidikannya, ia menggali masa lalu Lula, kehidupannya dari tahun ke tahun, hingga sifat-sifatnya yang tersembunyi dari muka umum. Dengan misteri yang kian bertambah bersamaan dengan ditemukannya petunjuk-petunjuk baru, mampukah Strike memecahkan misteri kematian Lula Landry?


Ada dua hal yang pertama-tama membuat saya tertarik untuk membeli The Cuckoo’s Calling: cover-nya dan warna cover-nya.

Bukan berarti saya adalah orang yang biasanya menilai buku dari sampulnya – sebaliknya, saya sangat jarang memberi penilaian terhadap buku sebelum mulai membacanya. Tapi, mungkin ini bisa menjadi catatan juga untuk para penerbit: sampul Dekut Burung Kukuk adalah contoh sempurna dari “Sampul yang Menjual”. Dengan perpaduan warna biru, kuning, London yang klasik sebagai latar belakang dan seorang pria yang berjalan memunggungi calon pembaca, sampul tersebut lebih tampak seperti poster film blockbuster daripada sebuah buku kriminal/detektif.

Masuk ke kisahnya, Mr. Galbraith dengan gamblang menarasikan kejadian demi kejadian, adegan demi adegan, dengan gaya yang sangat visualistik. Contoh saja di bagian awalnya, yang berbunyi:

Gaung di jalanan terdengar seperti dengung lalat. Para fotografer berdiri berkerumun di balik garis batas yang dijaga polisi, kamera mereka yang berbelalai panjang siap siaga, napas mereka mengepul seperti uap. Salju jatuh berderai di atas topi dan pundak; jari-jari yang terbungkus sarung tangan mengusap lensa kamera.

Selain itu, satu lagi faktor yang sangat menjual di novel ini adalah karakternya. Tahu benar bahwa plot dan premise yang dimilikinya sangat klise, Mr. Galbraith memilih untuk mengedepankan karakterisasi tokoh-tokohnya. Cormoran Strike sangat menonjol sebagai ordinary guy yang getir, lelah, dan menjalani hidupnya dengan berat setiap hari. Robin Ellacott, yang awalnya memiliki aroma-aroma Mary Sue, perlahan juga menunjukkan segi manusianya. John Bristow pun digambarkan dengan jelas sebagai pria yang menyayangi saudarinya, meski akan ada sedikit twist di akhir mengenai dirinya.

Lebih dari itu, saya merasa beruntung karena membaca The Cuckoo’s Calling dalam versi Bahasa Inggris, jauh sebelum ketahuan bahwa penulisnya adalah J.K. Rowling yang bersembunyi di balik pseudonim. Tanpa ekspektasi berlebih seperti yang saya rasakan saat hendak membaca The Casual Vacancy, saya hanya mengharapkan sebuah novel crime/detective yang bagus – dan novel ini menyuguhkannya kepada saya. Cerita yang bagus, narasi yang gamblang, dan penokohan yang kuat menjadikan Dekut Burung Kukuk sebagai peserta kuat baru di dunia kriminal/detektif.

Ditambah, mengingat buku ini hanyalah satu dari serial panjang Cormoran Strike yang akan terbit lebih banyak ke depannya, saya dapat mengharapkan kualitas-kualitas cerita yang lebih tinggi di buku-buku selanjutnya.


Yang mati hanya bisa berbicara melalui mulut orang-orang yang ditinggalkan, dan melalui tanda-tanda yang terserak di belakang mereka.

Tak lupa, saya ingin memperjelas bahwa saya berniat menilai buku ini secara objektif tanpa memedulikan drama ‘Penulis Sebenarnya’. Sebagaimana telah teman-teman baca di atas, saya telah berusaha melakukannya. Oleh karena itu, ijinkan saya menambahkan satu hal: J.K. Rowling adalah penulis misteri yang handal. Seluruh serial Harry Potter, pada dasarnya, adalah serial misteri sihir – satu misteri untuk setiap tahunnya. Tidak mengherankan beliau dapat menjadi penulis genre crime/detective yang luar biasa.

Rating dari saya: 4/5