In The Name of The King – Jo Marchant


in the name of the king

Pertama-tama, saya harus meminta maaf: saya belum begitu ahli dalam membagi waktu. Minggu-minggu kemarin diisi dengan berbagai kegiatan, baik akademik maupun non-akademik, dan sangat sedikit waktu yang tersisa untuk membaca buku-buku baru. Sempitnya waktu membuat orientasi membaca saya berubah, termodifikasi. Saya semakin sering dan memilih untuk melahap buku-buku yang pendek, ringkas, namun tetap berisi sekaligus enak dibaca.

Salah satu buku tersebut – malahan, saya berani bilang, salah satu buku non-fiksi terbaik yang pernah saya baca – adalah buku yang saya cantumkan di sini: In The Name of The King karya Jo Marchant, seorang jurnalis sains dari MATTER Publishing.

Dalam buku yang pendek namun padat ini, Jo Marchant menuturkan kisah mengenai penelitian-penelitian modern Mumi Firaun Tutankhamun. Salah satu Firaun paling terkenal hingga saat ini, Tutankhamun telah menumbuhkan benih-benih legenda dan mitos sejak penemuannya hampir seabad silam. Tak seperti mumi-mumi lainnya, Sang Firaun – Raja Mesir – ini didapati dalam kondisi kurang bagus, namun makamnya penuh dengan perhiasan dan harta karun. Makamnya juga merupakan salah satu yang paling bagus di antara para Firaun lainnya yang ditemukan. Berbagai artikel dan buku telah diterbitkan mengenai masa lalu Tutankhamun.

Gambar oleh: MATTER Publishing

Gambar oleh: MATTER Publishing

Namun, bukan berarti penemuannya – dan ulasan-ulasan mengenainya – selalu tanpa suara miring. Sebagaimana diuraikan oleh Jo Marchant dalam karyanya ini, berbagai pihak telah mencoba mengambil klaim atas Tutankhamun melalui cara-cara yang beraneka ragam. Sains dan kepercayaan digunakan bersamaan. Penelusuran DNA mencoba mencaritahu ras dan latar belakang keluarga Sang Firaun. Kelompok-kelompok di seluruh dunia, dari Yahudi, Mormon, Kulit Hitam, hingga Brotherhood of Muslim saling mengklaim hak atas darah Tutankhamun. Sepertinya, masih ada anggapan – dan semakin kuat seiring berjalannya jaman – bahwa siapapun yang mengklaim Tutankhamun dapat mengklaim juga seluruh Mesir Kuno, kerajaan pendiri peradaban.

Seakan belum cukup berbagai masalah yang melingkupi penelitian mengenai Tutankhamun, revolusi Mesir tiba pada tahun 2012 lalu. Rezim Mubarak dijatuhkan, pemilihan demokratis dilakukan, dan Morsi pun diangkat hanya untuk dijatuhkan kembali kurang dari setahun kemudian. Setelahnya, militer melakukan pembersihan besar-besaran terhadap para pendukung Morsi, tindakan yang melibatkan pertumpahan darah dalam jumlah yang tidak sedikit. Seluruh penelitian terhenti total, para peneliti bahkan turut turun ke jalan untuk berdemonstrasi.

Picture by Aymanation

Gambar oleh: Aymanation

Sebagai penulis kawakan yang telah menerbitkan banyak artikel, memenangkan penghargaan, serta menulis banyak buku, Jo Marchant menarasikan In The Name of The King dengan gaya yang sangat memikat. Narasinya begitu mengalir, mengena, dan merinci. Tak seperti kebanyakan artikel-artikel sains pada umumnya, Jo Marchant memilih melakukan pendekatan manusiawi – dengan menarasikan kisah penelitian terhadap Tutankhamun dari mata Yehia Gad, salah satu peneliti utama dalam pengulasan sejarah masa lalu Sang Firaun – alih-alih mengambil sudut ekspositif. Hasilnya adalah sebuah bacaan yang sangat menarik dan layak untuk dibaca.

Akhir dari buku ini, sebagaimana yang diungkapkan oleh Jo Marchant pada akhir kisah tersebut, cukup puitis: bagi Firaun sendiri, revolusi, konflik, dan berbagai hal duniawi lainnya yang terjadi di sekelilingnya hanyalah riak di Sungai Nil. Ribuan tahun sejak kematiannya, peradaban dan kerajaan telah bangkit dan jatuh, agama dan Dewa-Dewi muncul dan ditinggalkan pengikutnya. Namun, tetap saja, manusia masih bersiteru antar sesamanya, memperebutkan hak atas sisa-sisa dirinya di makam yang dingin dan membeku.

Saya pernah mendengar, dulu sekali, bahwa para Firaun dikutuk oleh Tuhan agar tetap abadi dalam waktu hingga akhir zaman. Inikah, sebagaimana yang juga Jo Marchant ungkapkan, perwujudannya? Hanya sejarah yang nantinya akan membuktikan.

Sekali lagi, saya tekankan: bacaan yang luar biasa. Solid 5/5.

PS: Buku ini dapat diunduh secara gratis dalam berbagai format ebook di website Medium MATTER Publishing.

Iklan

Sometimes


SometimesBeberapa waktu lalu, seorang teman mengirim email kepadaku, memberitahuku mengenai sebuah situs baru dimana kita bisa mengunduh buku dalam format digital secara legal. Legal karena penulisnya sendiri yang mengunggah buku mereka ke situs tersebut. Di samping itu, kalau masih merasa kurang enak, kita bisa memberikan ‘tip’ kepada penulisnya melalui fitus donate yang ada.

Maka, aku mengunjunginya. Nama situsnya adalah Noisetrade Books. Banyak buku yang ada di sana, fiksi maupun non fiksi, dari kisah-kisah terkenal seperti Down and Out in The Magic Kingdom karangannya Cory Doctorow hingga buku-buku baru karya penulis indie yang tergolong fresh dan berkualitas.

Salah satu buku yang cukup menarik perhatianku adalah ini: Sometimes karya Esther Marie. Berisikan ilustrasi-ilustrasi sebanyak 34 halaman, semuanya digambar dengan Paper di iPad, buku ini sangat simpel. Sederhana. Bisa selesai dibaca dalam waktu kurang dari semenit.

Dan isinya, kalau boleh kubilang, sangat menyegarkan.

Bisa dibilang, ini adalah salah satu illustrative art book pertama yang kubaca. Ini bukan komik, bukan graphic novel. Bisa dibilang ini adalah memoir, refleksi, yang di beberapa bagian cukup membangkitkan nostalgia dan menohok begitu dalam.

Di atas itu semua, isinya cukup unik karena mengangkat cinta dalam persahabatan alih-alih romansa pada umumnya.

Gambarnya juga lumayan 🙂

3

Yang mau baca, bisa unduh di sini ya. Selamat menikmati!