The Fold by Peter Clines


23164927Indonesia

Ulasan kali ini bakal cukup singkat. Ini adalah novel yang baru saja saya mulai baca semalam dan berhasil saya selesaikan dalam satu kali duduk. 5 jam penuh. Buku berbahasa Inggris terakhir yang bisa membuat saya melakukan hal itu adalah Ender’s Game. Oleh karena itu, saya terdorong untuk menulis sebuah ulasan di sini. Namun, saya juga menyadari bahwa sudah sangat lama sejak saya terakhir menulis review di sini, dan ulasan saya kali ini mungkin akan terasa sedikit berantakan, jadi, saya mohon maaf sebelumnya. Terima kasih.

Jadi, mari kita mulai dengan ringkasan cerita: tokoh utama novel ini, Mike, adalah seorang manusia super, satu dari sedikit orang di dunia yang benar-benar memiliki ingatan fotografis. Selagi dia menjalani hidup normalnya sebagai seorang guru SMA di sebuah kota kecil, seorang teman lama datang mengunjunginya dan menawarkan sebuah pekerjaan: awasi sekelompok ilmuwan yang telah menciptakan sebuah alat bernama Pintu Albuquerque, sebuah mesin yang dapat “Melipat” realitas dan memungkinkan manusia untuk menempuh perjalanan dengan jarak sangat jauh dalam waktu sekejap. Mike menerima pekerjaan itu, dan selama beberapa hari pertama, segalanya tampak berjalan baik-baik saja meski para ilmuwan di sana terlihat agak gelisah mengenai Pintu yang mereka ciptakan. Kemudian, sebuah insiden terjadi, dan Mike menyadari bahwa terdapat banyak rahasia yang disimpan oleh para ilmuwan itu, bahwa mesin tersebut tidaklah seperti yang mereka duga, dan bahwa mereka harus berpacu melawan waktu untuk menghentikan masuknya bencana besar melalui Pintu tersebut menuju seluruh realita.

Baca lebih lanjut

Iklan

1Q84 by Haruki Murakami


1Q84Ini bukan review. Beberapa bulan lalu, saya mendapat kabar dari Mbak Ajen Angelina, seorang blogger dan teman sesama penulis dari Bogor, bahwa beliau sedang mendirikan sebuah klub baca Haruki Murakami. Lebih tepatnya, beliau sedang mengumpulkan para pembaca dan penulis lainnya untuk mengulas unsur-unsur dari novel 1Q84.

Saya bukan penggemar Murakami, tapi saya pernah membaca salah satu bukunya, Norwegian Wood, dan menurut saya, buku tersebut cukup bagus. Gaya surealisnya, begitu juga cara beliau menggunakan nama-nama ikon dari masa lampau dalam novelnya untuk memantik api nostalgia, membuat saya tertarik. 1Q84 sendiri bisa dibilang merupakan novel Haruki Murakami yang paling terkenal. Tidak heran, tebalnya yang luar biasa (sampai-sampai, dalam versi terjemahannya, buku tersebut dipecah menjadi tiga volume), dilengkapi dengan review dari berbagai situs sastra luar negeri yang sangat positif, membuat novel yang satu ini tidak mungkin tak teracuhkan oleh para pembaca. Apalagi, premisnya memperlihatkan bahwa novel ini juga ada unsur-unsur fiksi ilmiahnya.

Maka, dengan dorongan dari Mbak Ajen dan rasa penasaran tersebut, saya pun mulai membacanya pada akhir bulan Mei kemarin. Berminggu-minggu kemudian–setelah mencari waktu untuk membaca di sela-sela mengerjakan terjemahan, ujian akhir semester, dan penyusunan proposal tesis–saya pun akhirnya menyelesaikannya. Di atas, sudah saya katakan bahwa ini bukan review, tapi kalau boleh saya berkomentar secara jujur, saya ingin mengungkapkan hal ini: 1Q84 adalah buku yang paling lama saya bacaKetebalannya, ditambah dengan narasinya yang mengalir begitu perlahan, menuntut pembaca untuk memiliki kesabaran ekstra dalam menelannya. Satu-satunya hal yang terus mempertahankan saya untuk membacanya adalah rasa penasaran: apa akhir dari kisah ini? What’s the endgame? Itu, ditambah dengan karakter-karakter yang sangat menarik di volume ketiganya.

Tapi, saya takkan berkubang pada kepenulisan dan keterbacaan. Saya di sini bukan untuk me-review. Lalu, mungkin Anda akan berpikir, kenapa saya menulis ini? What’s the endgame? What’s the point? Tujuannya, sebagaimana yang sudah saya sampaikan juga di atas, adalah untuk mengulas unsur-unsur dari buku ini. Kuncinya adalah, tiap-tiap dari kami, anggota klub baca 1Q84, ditugaskan untuk membahas bagian-bagian spesifik dari novel tersebut. Di antaranya: karakter, penceritaan, plot, dan–yang ditugaskan untuk saya–latar cerita.

Baca lebih lanjut

Romansick by Emilya Kusnaidi


Cover_RomansickBeberapa bulan silam, saya tanpa sengaja ikut serta dalam sebuah diskusi yang lumayan panas mengenai novel dan genre-genrenya. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa novel bukanlah buku bacaan yang seharusnya diberikan kepada anak-anak karena dikhawatirkan mereka akan enggan membaca buku-buku lainnya. Lebih spesifik lagi, ia mengangkat isu lama yang berada di seputaran Harry Potter, yang bisa dibilang merupakan fenoma literasi yang paling besar di abad ini.

“Teman saya dulu ada yang suka Harry Potter, dan dia kemana-mana kerjaannya baca itu melulu, ke sekolah aja dia bawa, sampai nggak tidur katanya buat baca doang. Tapi, apakah dia suka baca buku-buku lainnya? Tidak!”

Begitu dia selesai berargumen, seseorang lainnya juga turut menimpali dengan mengatakan bahwa penggemar satu genre memang biasanya terikat pada genre itu saja; bahwa penyuka buku Fantasi kemungkinan besar takkan membaca buku Fiksi Sejarah, atau penggemar genre Urban takkan menyukai Fiksi Ilmiah.

Terus terang, pertama kali mendengar hal tersebut, aku merasa tergelitik dan tertusuk. Alasannya adalah karena, untuk waktu yang sangat lama di masa lalu, hal tersebut adalah benar untuk diriku sendiri. Aku adalah tipe anak yang (hampir) sama persis dengan yang dideskripsikan tersebut. Bedanya cuman sesekali aku juga membaca novel-novel horor (aku selalu tertarik pada hantu, entah kenapa, mungkin gara-gara tinggal di dekat Nusakambangan pas kecil). Baru beberapa tahun belakangan ini aku mulai merambah ke genre-genre lainnya, keluar dari Fantasi, mencoba membaca buku-buku fiksi yang sebelumnya tidak pernah aku coba baca, atau dibayangkan saja tidak. Seiring berlalunya waktu, aku menemukan buku-buku dari genre lainnya yang sangat menarik dan bagus. Dan salah satu genre yang baru kubaca tersebut–atau, lebih tepatnya, kategori novel yang menarik perhatianku–adalah Metropop.

Baca lebih lanjut

Looking for Alaska by John Green


Looking for Alaska - Cover (Gramedia)Novel pertama yang saya baca, yang pertama kali memicu ketertarikan saya terhadap dunia literasi, adalah Harry Potter. Saya masih sangat kecil saat itu, SD kalau tidak salah, dan mendapati buku dengan kisah-kisah magis, sihir, dan petualangan sungguh membuat saya jatuh cinta pada genre fantasi. Belasan tahun kemudian, di rak-rak buku saya, novel-novel yang mendominasi isinya adalah fantasi, fiksi ilmiah, atau petualangan. Sulit untuk melepaskan diri dari ketertarikan saya tersebut. Ketiga genre tersebut secara eksplisit memberi sebuah penghiburan bagi saya, apalagi di masa-masa sekarang ini, di mana saya sangat memerlukannya hampir di setiap harinya, setelah berjam-jam bergelut dan berkutat dengan angka-angka, mata kuliah, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya.

Atau, sebagaimana yang dikatakan oleh beberapa teman dekat, saya membaca novel-novel tersebut sebagai pelarian.

Kesukaan saya terhadap genre-genre tersebut bisa dibilang cukup militan. Untuk waktu yang sangat lama, saya sangat jarang membaca buku novel dengan genre yang berbeda. Kalaupun ada, pasti saya membaca novel-novel yang sebangsa horor atau misteri (anehnya, saya sangat menyukai serial Sherlock Holmes. Baru belakangan ini saya menyadari bahwa kesukaan saya terhadap genre detektif tak lain tak bukan disebabkan oleh Harry Potter juga, yang secara sederhana sesungguhnya adalah sebuah kisah ‘detektif’ dengan Harry sebagai penyelidik dan Voldemort sebagai Moriarty-nya). Di antara novel-novel non-fantasi tersebut, salah satunya yang pernah saya baca saat saya masih SMA dalam Bahasa Inggris–dan baru bisa saya benar-benar pahami sekarang–adalah sebuah kisah karya John Green, penulis The Fault in Our Stars yang sedang naik daun setinggi-tingginya sekarang ini: Looking for Alaska.

Baca lebih lanjut

The Atlantis Gene by A. G. Riddle


The Atlantis GenePertama-tama, aku mau ngasihtahu kalau novel yang kutulis, Spora, akan segera diterbitkan oleh Moka Media dan saat ini sedang diadakan polling untuk memilih sampul mana yang akan dipakai. Kalau mau ikut serta, silakan kasih pilihanmu di sini!

Kedua, akhirnya aku sudah mulai kuliah lagi. Graduate School now. Buat yang sudah ngikutin tulisan-tulisanku sejak lama pasti tahu kalau aku memang ingin kuliah pascasarjana sejak lama. Kebetulan sekali, sesuai dengan targetku sejak semester-semester awal di kuliah S1 dulu, beasiswa double degree yang bisa membawaku untuk kuliah di luar negeri, tahun ini pun dibuka. Aku mendaftar, aku diterima, dan aku sudah mulai kuliah sekarang. Satu-satunya yang tersisa tinggal bagaimana caranya menguasai Bahasa Perancis dalam jangka waktu tujuh bulan sebelum tenggat ujian visa.

Sembari berkuliah, dan menunggu uang beasiswa turun, aku masih bekerja paruh-waktu di banyak tempat. Mengajar Bahasa Inggris di sana-sini, menjadi kuli di banyak tempat, dan di-hire untuk meresensi beberapa naskah. Salah satu naskah novel luar yang kuresensi baru-baru ini adalah The Atlantis Gene, novel karya penulis pendatang baru A. G. Riddle yang telah mengguncangkan dunia perbukuan Amerika saat menjadi bestselling title di Amazon. Setelah Wool, The Atlantis Gene adalah novel self-publish kedua yang meraih kesuksesan sebesar itu–bahkan kini buku ini sedang direncanakan untuk diangkat ke layar lebar.

Awalnya, aku agak ragu-ragu untuk membaca ini. Apa boleh buat, judul dan summary-nya kurang menarik. Pencarian Atlantis? Misteri asal-usul manusia? Dude, bukannya… sudah banyak sekali novel yang mengangkat topik tersebut? Apa yang membedakan novel ini dibandingkan yang lain-lainnya itu? Jawabannya, tak kusangka-sangka, muncul dalam beberapa halaman pertama novel ini, pada judul Bagian Pertama cerita ini yang terpampang besar-besar di tengah-tengah halamannya: Jakarta Burning.

Baca lebih lanjut

A Street Dream: The Evergreen Architecture by Angel G


A Street Dream-The Evergreen ArchitectureKadang, saya menemukan sebuah buku yang membuat saya berhenti dan berpikir: bagus sekali sampulnya! Ya, saya biasanya bukan tipe orang yang menghakimi sebuah buku hanya dari sampulnya, tapi jelas bahwa sebuah sampul buku akan bisa memengaruhi apakah seseorang akan membacanya atau tidak. Dan sampul buku ini–hal pertama yang saya lihat–sangat memukau.

Sebelum saya mulai, saya harus mengakui bahwa buku ini saya peroleh sejak lebih dari sebulan yang lalu. Saya sudah berjanji untuk mengulasnya dalam jangka waktu kurang dari tiga puluh hari. Saya membacanya, mendapati isinya begitu menarik dan mengalir, dan saya menutupnya dengan pikiran untuk segera membuat ulasannya. Tentu saja, rencana yang paling ingin dilakukan terkadang justru paling telat. Sayang sekali. Satu-satunya pembelaan yang dapat saya lakukan hanyalah ini: crazy workhour. I’ve just gotten myself a new teaching job, also there’s a new ongoing project from a publishing house…

Jadi, untuk menyingkat ini (dan saya yakin beberapa dari teman-teman sudah mulai bete :mrgreen: ), mari masuk langsung ke bagian ulasannya. Baca lebih lanjut