The Atlantis Gene by A. G. Riddle


The Atlantis GenePertama-tama, aku mau ngasihtahu kalau novel yang kutulis, Spora, akan segera diterbitkan oleh Moka Media dan saat ini sedang diadakan polling untuk memilih sampul mana yang akan dipakai. Kalau mau ikut serta, silakan kasih pilihanmu di sini!

Kedua, akhirnya aku sudah mulai kuliah lagi. Graduate School now. Buat yang sudah ngikutin tulisan-tulisanku sejak lama pasti tahu kalau aku memang ingin kuliah pascasarjana sejak lama. Kebetulan sekali, sesuai dengan targetku sejak semester-semester awal di kuliah S1 dulu, beasiswa double degree yang bisa membawaku untuk kuliah di luar negeri, tahun ini pun dibuka. Aku mendaftar, aku diterima, dan aku sudah mulai kuliah sekarang. Satu-satunya yang tersisa tinggal bagaimana caranya menguasai Bahasa Perancis dalam jangka waktu tujuh bulan sebelum tenggat ujian visa.

Sembari berkuliah, dan menunggu uang beasiswa turun, aku masih bekerja paruh-waktu di banyak tempat. Mengajar Bahasa Inggris di sana-sini, menjadi kuli di banyak tempat, dan di-hire untuk meresensi beberapa naskah. Salah satu naskah novel luar yang kuresensi baru-baru ini adalah The Atlantis Gene, novel karya penulis pendatang baru A. G. Riddle yang telah mengguncangkan dunia perbukuan Amerika saat menjadi bestselling title di Amazon. Setelah Wool, The Atlantis Gene adalah novel self-publish kedua yang meraih kesuksesan sebesar itu–bahkan kini buku ini sedang direncanakan untuk diangkat ke layar lebar.

Awalnya, aku agak ragu-ragu untuk membaca ini. Apa boleh buat, judul dan summary-nya kurang menarik. Pencarian Atlantis? Misteri asal-usul manusia? Dude, bukannya… sudah banyak sekali novel yang mengangkat topik tersebut? Apa yang membedakan novel ini dibandingkan yang lain-lainnya itu? Jawabannya, tak kusangka-sangka, muncul dalam beberapa halaman pertama novel ini, pada judul Bagian Pertama cerita ini yang terpampang besar-besar di tengah-tengah halamannya: Jakarta Burning.

 The Story

Kate Warner, seorang ilmuwan asal Amerika Serikat yang sedang menjalankan sebuah penelitian autisme di Jakarta, Indonesia, sedang mengalami berbagai masalah. Risetnya mandek sejak lama, belum ada pencapaian-pencapaian baru, dan dana pun terancam akan ditarik. Singkatnya: dia terancam gagal dalam penelitiannya. Melalui percobaan sembunyi-sembunyi, ia melakukan sesuatu yang membuatnya mendapatkan sebuah penemuan luar biasa: obat untuk autisme.

Namun, apa yang ditemukannya ternyata bukanlah sekedar obat biasa. Lembaga multinasional raksasa yang selama ini membiayai penelitiannya menginginkan hasil penelitiannya tersebut untuk suatu alasan yang misterius.

Di saat bersamaan, seorang agen rahasia bernama David Vale, beroperasi dalam misi anti-terorisme di Jakarta, mendapati suatu petunjuk besar mengenai aksi terorisme global yang akan segera terjadi dan, kemungkinan, dimulai di Indonesia. Sebuah aksi terorisme yang berlabel ‘Toba Protocol.‘ Dan, sial baginya, misi yang ia dapati ternyata tak seperti yang ia duga. Organisasi misterius mencoba melenyapkannya dan menghilangkan segala yang telah ia kerjakan selama ini.

Di tengah-tengah semua misteri tersebut, jalan David dan Kate pun bersimpangan. Mereka bertemu, dan bersama, mereka harus menghadapi bahaya dan ancaman besar yang menyasar mereka. Dari jalanan Jakarta yang ramai, menuju wilayah pemukiman yang lusuh dan padat, hingga jauh ke pegunungan Himalaya dan Kutub Selatan yang membeku, mereka harus memecahkan misteri besar–misteri yang akan mengungkap konspirasi besar yang mengancam dunia, serta teka-teki mengenai asal usul manusia–guna bisa menyelamatkan dunia. Sebuah pertanyaan yang sudah dihadapi dan dicoba dipecahkan oleh ribuan orang sejak jauh di masa lalu: Apa itu Gen Atlantis?

The Writing

Satu kata yang dapat saya berikan untuk gaya narasi dan penulisan Mr. Riddle adalah ini: klasik. Gaya penceritaannya mengingatkan saya pada novel-novel fiksi ilmiah dari pertengahan hingga akhir abad 20: karya-karya Orson Scott Card, Frank Herbert, Isaac Asimov, hingga Arthur C. Clarke. Mengalir, lancar, mulus, dan tertutur, kisah ini disampaikan dengan menyambung, satu adegan diikuti adegan lainnya, satu dialog disambung berikutnya, dan satu titik plot dan aksi dilanjutkan dengan ledakan dan berlari. Ritmenya sangat tinggi, bahkan pada saat adegan-adegannya tidak melibatkan aksi.

Tapi, setelah membacanya, dua kekurangan yang saya dapat katakan untuk novel ini adalah: penokohan dan deskripsi. Mengenai yang pertama, langsung saja saya katakan ini: terlalu banyak tokoh! Dan entah mengapa, setiap tokohnya sepertinya berebut jatah cerita ini. Bahkan satu-dua tokoh figuran pun mendapatkan jatah kisah masa lalu mereka. Tambahkan dengan ritmenya yang tinggi, terutama di bagian-bagian awal dan akhir (yang, celakanya, juga memiliki banyak tokoh baru untuk diperkenalkan), The Atlantis Gene dapat membuat bingung dan frustasi. Dalam hal itu, membaca buku ini akan terasa seperti membaca A Game of Thrones yang sangat kaya dengan karakter: perhatian kita menjadi tercabik-cabik. Jadi bingung. Konflik personal tokoh pun menjadi kurang terasa.

Kekurangan yang kedua adalah mengenai deskripsi. Sama seperti kekurangan yang pertama, masalahnya adalah terlalu banyak deskripsi dalam cerita ini. Dan sialnya, tidak seperti penokohannya, yang mana beberapa dari mereka sebenarnya bisa dilewati, sebagian besar deskripsi dalam cerita ini sungguh-sungguh penting. Penjabaran mengenai genetika manusia di sepertiga bagian awal? Akan disinggung dan signifikan pada sepertiga bagian akhir. Penjabaran mengenai sejarah Eropa di bagian tengah? Terjawab empat puluh halaman kemudian. Flashback dan catatan jurnal mengenai ayah salah satu tokoh utama? Juga penting! Nah lho!

Wall of text menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Dan menjadi kurang rasional, kurang logis, karena sebagian besar penjabaran tersebut dilakukan oleh para tokoh–dan beberapa dari penjabaran itu terasa sangat panjang sampai-sampai mungkin baru bisa selesai diucapkan dalam waktu seperempat jam. Seperti kuliah, bukan? Tanpa jeda pula?

Untungnya, gaya penulisannya yang baik–aku bisa merasakan ritme antar kalimatnya, rimanya, ‘nada’-nya, polanya–membuat sebagian besar wall of text tersebut bisa terbaca dan dimengerti dengan baik. Dalam hal ini, sesungguhnya penjabaran memang merupakan sesuatu yang tak terhindarkan dalam tulisan fiksi ilmiah–terutama jika ceritanya merupakan medium-to-high scifi. Oleh karena itu, aku mengacungkan jempol pada Mr. Riddle–dia telah melakukan bagian penjabaran-penjabaran tersebut dengan baik. Untuk caranya menjabarkan bagian-bagian ilmiah tersebut, bisa kukatakan Mr. Riddle setara dengan para novelis fiksi ilmiah lainnya–seperti Mr. Card, Mr. Asimov, atau Mr. Clarke.

The Closure

Sebagai novel yang menggunakan nama ‘Atlantis’ demikian besar di halaman sampulnya, aku tak mengira novel ini dapat mengejutkanku dengan banyak sekali ide-ide orisinal dan menarik di dalamnya. Latarnya yang dimulai, serta konfliknya yang berhubungan erat dengan Indonesia juga membuatku sangat tertarik. Mr. Riddle menggambarkan suasana Jakarta dengan cukup bagus–meski ada kesalahan di beberapa bagian (a message to all of you foreigners out there: in Indonesia, we’re no longer sitting atop the trains on our way to work. In fact, we’re not allowed to do it at all. Anyone who try to sit on the roof of a train will be arrested. Period. Thank you for your attention).

Selain itu, gaya narasi yang bagus, penggambaran latar yang detil dan sangat visual baik di Jakarta, Himalaya, hingga Antartika, menjadi nilai plus untuk novel ini. Tambahkan dengan konflik yang koheren, misteri yang sungguh-sungguh dapat dipecahkan, dan tiadanya deus ex machina membuat novel ini mampu berdiri dengan baik. Tentu saja, sebagai novel pertama dari serial The Origin Mystery, tidak semua teka-teki yang ada telah terjawab–dan cliffhanger pada ending-nya begitu menusuk dan membuatku ingin membaca kelanjutannya. Sungguh. Sudah lama rasanya tidak menemukan cliffhanger semenarik itu sejak Catching Fire.

Kesimpulannya: very recommended. Rating 4.0/5.0. Silakan dicari dan dibaca! :mrgreen:

Data Buku:

  • Kategori: Novel
  • Judul: The Atlantis Gene
  • Penulis: A. G. Riddle
  • Penerbit: Modern Mythology
  • Tebal: 451 halaman
  • Tahun Penerbitan: 2013
  • Format: Paperback
  • ISBN: 9781940026015
Iklan

8 thoughts on “The Atlantis Gene by A. G. Riddle

  1. Mayang berkata:

    novelnya keren !!!!
    biasanya penggabungan antara fiksi dan nyata jadi terkesan tidak masuk akal, seperti twilight.
    tapi Mr. Riddle membuat semuanya menjadi fakta, padahal fiksi bersembunyi di celahnya

  2. novel terjemahannya sudah terbit nih, lagi dibaca dan wow…dari halaman pertama sudah membuat tak henti membacanya. yg saya bingung kenapa plot ceritanya di jakarta ya

    • Karena penulisnya mengangkat beberapa bencana besar yang pernah terjadi di bumi, dan salah satunya adalah Bencana Toba yang konon terjadi pada masa yang sama dengan kemunculan manusia di dunia. Dan masih banyak alasan lainnya! Kalau penasaran, segera cek di toko buku terdekat! :mrgreen:

  3. mitaandriana berkata:

    Novel ini bagus dan ada kata kota Jakarta didalamnya, wiiiii… Btw novel ini akan diterjemahkan oleh penerbit Fantasious @fantasiousID, masih Coming Soon..^^

  4. Iiiih kayaknya bagus deh (gak berani baca detail karena takut spoiler). Aku cuma baca kalimat2 awal paragrafnya aja, tulisan2 yg dibold ama liat gambarnya. Hahhah.
    Tapi kesannya ini novel menarik banget! Thanks for sharing. Def will check this one out.

Ayo berkomentar! :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s